Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
157. Mandi tengah malam


__ADS_3

Setelah selesai bercakap-cakap dengan Doni melalui panggilan telepon, Siska mendekati Bu Mirna yang sedang duduk di depan televisi.


"Bu, mas Doni mendapatkan pesanan seratus box nasi dan minuman. Deadline nya besok jam delapan pagi disuruh mengantarkan ke rumah yang pesan. Dan nanti dini hari dia ingin menjemput ku."


"Ibu tidak apa-apa kamu tinggal sendirian. Berangkatlah, jangan lupa jaga diri baik-baik. Ibu akan mendoakan kalian dari rumah, semoga semua urusannya berjalan lancar."


"Terima kasih, Bu."


"Heem. Kalau begitu, setelah sholat Isya' kita harus segera tidur, agar kamu tidak ngantuk juga. Jangan lupa pasang alarm."


**


"Mas, kenapa kita tidak sekalian memberi jama'ah sholat Jum'at makanan bagi-bagi?" tanya Mala, ketika dalam perjalanan pulang.


"Kenapa tadi kamu tidak mengingatkan ku sekalian?"


"Maaf mas, lupa." ucap Mala sambil meringis.


"Carilah kertas nota nya tadi dalam tasku, dan tolong telepon dia. Nanti biar aku yang bicara."


Mala pun meraih tas suaminya yang ada di atas dashboard, lalu mencari apa yang di minta suaminya. Setelah menekan tanda telepon, Mala menyerahkan handphone pada suaminya.


"Hallo mas, ini saya Mahes yang memesan nasi box untuk besok."


"Hallo, mas. Iya ada yang bisa dibantu?" tanya Doni diseberang sana.


"Maaf, mas. Jika saya mau tambah pesanannya untuk besok bisa tidak ya?"


"In shaa Allah bisa, mas. Mau tambah berapa porsi lagi?"


"Em, kira-kira seratus porsi lagi ya. Makanan dan minumannya. Tapi yang seratus porsi ini bisa di kirim sebelum sholat Jum'at, sekitar jam sebelas. Atau kalau mau di kirim sekalian bersama dengan yang pagi juga tidak masalah."

__ADS_1


"In shaa Allah bisa, mas. Akan saya usahakan."


"Untuk kekurangannya, berapa totalnya? Biar saya transfer."


"Nanti saya hitung dulu ya, mas. Ini sedang ada diluar."


"Okay, mas. Terima kasih."


"Sama-sama, mas."


Panggilan pun berakhir, Mahes dan Mala menghirup nafas lega.


**


Sementara itu di pasar, Doni menyunggingkan senyum dan menghirup nafas dalam-dalam. Hatinya sangat senang karena pesanannya bertambah.


Terbersit dalam pikirannya, bahwa itu adalah salah satu doa dari Siska yang dikabulkan Allah. Karena gadis itu pernah berdoa seperti itu dihadapannya.


Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, ia segera melajukan mobilnya menuju kedai. Tak lupa, ia juga mengirim pesan pada Siska. Bahwa ia akan menjemput sekitar pukul dua dini hari. Karena pesanannya bertambah dua kali lipat.


**


Siska terbangun ketika mendengar suara alarmnya berbunyi. Begitu juga dengan Bu Mirna. Keduanya beranjak dari tempat tidurnya, dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud.


Sedangkan Siska lebih memilih mandi dahulu, agar badannya lebih segar. Barulah ia mengerjakan sholat tahajud.


"Siska pamit dulu ya, Bu." ucap Siska, setelah selesai bersiap-siap dan mengulurkan tangannya pada ibunya.


"Ayo kita keluar sama-sama. Ibu temani kamu menunggu Doni."


"Ibu kembali tidur saja. Siska tidak apa-apa menunggu di luar sendirian. Mungkin sebentar lagi, mas Doni juga akan datang."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Siska. Ibu juga masih bisa tidur seharian di rumah. Terima kasih, kamu sudah mau bekerja dan mencukupi semua kebutuhan ibu."


"Sama-sama, Bu. Siska juga mengucapkan terima kasih, karena ibu sudah menganggap Siska seperti anak sendiri."


Akhirnya, kedua wanita beda usia itu berjalan ke depan dan duduk di kursi teras, sambil menunggu Doni.


Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil hitam masuk ke pelataran rumah Bu Mirna. Terlihat Doni turun dari mobil, dan menghampiri ke arah dua wanita itu.


"Bu, maaf malam-malam mengajak Siska keluar. Kami ingin mengerjakan pesanan pelanggan."


"Iya, nak. Tadi Siska juga sudah cerita ke ibu. Hati-hati ya. Ingat, jangan macam-macam."


"In shaa Allah iya, Bu. Doakan kami juga agar tetap bisa menjaga diri."


Setelah bercakap-cakap sejenak, Doni dan Siska bergantian mencium punggung tangan Bu Mirna. Lalu keduanya masuk ke mobil.


"Kamu kelihatan segar sekali?" tanya Doni, memecah keheningan malam.


"Tadi aku sekalian mandi, biar ngga ngantuk mas."


"Pasti dingin sekali."


"Memang mas Doni berangkat tadi, tidak mandi dulu?"


Doni menoleh ke arah Siska sambil meringis dan menggelengkan kepalanya.


"Yang penting aku sudah bau wangi, karena semprotan parfum. Dan nanti kalau aku sudah menikah, bakalan rajin mandi. Biarpun airnya sangat dingin, aku juga rela." balasnya kemudian, yang membuat Siska terkekeh geli.


"Ya ampun, mas. Masa mau rajin mandi saja, nunggu menikah duluan sih, kenapa? Kamu takut aku tidak mau kamu dekati karena bau asem?"


Doni lantas menggelengkan kepalanya, kuat.

__ADS_1


"Karena seperti pasangan suami-istri yang baru menikah, kita akan sering-sering proses bikin anak Siska." ucap Doni cengar-cengir, sementara Siska melongo melihat Doni berkata seperti itu.


__ADS_2