
"Kamu jujur kan mengatakan hal tadi?" tanya Doni.
"Di kehidupan ku yang kedua ini. Aku mulai jujur dalam segala hal. Meskipun itu berat, mas." balas Siska yang tampak berubah menjadi mode serius.
"Weh, bahasanya terlihat berat nih." goda Doni sambil terkekeh.
"Memangnya kenapa sih, mas. Kamu bertanya seperti itu? Bikin aku jadi penasaran saja." tanya Siska lagi.
"Aku hanya membandingkan cita rasa makanan sesama pedagang, Sis. Terkadang rasanya biasa saja, atau mungkin tempatnya juga tidak begitu higienis. Tapi, selalu saja banjir orderan. Pembelinya sampai berjubel. Kadang kalau sudah buntu, aku suka berpikir buruk juga ke mereka. Padahal aku sendiri, sebelum berjualan, perlu melakukan riset yang tak sebentar. Bahkan hampir setahun."
"Apa! Setahun?" Siska sampai menegakkan badannya, dan membulatkan matanya, menoleh ke arah Doni. Sementara laki-laki itu tampak menganggukkan kepalanya sambil meringis.
"Memangnya untuk menciptakan resep masakan itu mudah? Apalagi harus menyesuaikan dengan lidahnya orang banyak." Doni geleng-geleng kepala.
Sedangkan Siska, membayangkan waktu selama itu. Yang ia gunakan untuk bersenang-senang dan mendapatkan uang secara instan. Ia malu pada laki-laki disampingnya.
"Ada apa?" Doni menoleh pada Siska yang tampak terdiam. Tapi wanita disebelahnya, menggeleng lemah.
"Oh iya, tadi kamu bilang. Di kehidupan mu yang kedua. Memangnya dulu kamu pernah mati suri?" tanya Doni dengan serius.
"Iya. Sudahlah, jangan tanya lagi, mas. Tuh, kita hampir sampai pasar." Siska menunjuk bangunan besar yang sudah jelas terlihat. Doni menganggukkan kepalanya, lalu membelokkan mobilnya masuk ke area parkir.
Keduanya segera turun dari mobil dan masuk ke kios sayur. Siska selalu memperhatikan Doni yang berbelanja.
Ia memuji dalam hati, bahwa laki-laki di dekatnya memang beda dari laki-laki lainnya. Disaat banyak laki-laki yang menginginkan kerja kantoran dan berdasi. Ia malah suka memasak, dan berjualan.
__ADS_1
Cukup lama juga keduanya berada di dalam pasar, membeli kebutuhan kedai. Dan akhirnya, semuanya telah selesai.
**
Setelah sholat subuh, Mala mengajak Mahes jalan-jalan pagi, mengitari kompleks perumahannya. Meskipun masih mengantuk, tapi laki-laki itu mengiyakan permintaan sang istri.
Mala mengganti lingerie yang ia kenakan dengan daster rumahan. Karena perutnya semakin membesar. Dan lebih nyaman jika memakainya.
Sedangkan Mahes, ia hanya mengenakan kaos t-shirt polos berwarna putih dan celana chinos. Keduanya sama-sama berjalan tanpa alas kaki. Keluar dari gerbang dan mulai mengitari kompleks.
Mala merentangkan kedua tangannya, untuk meregangkan otot-otot badannya yang terasa kaku. Ia juga menghirup udara pagi yang terasa begitu menyegarkan.
Mahes juga melakukan hal yang sama dengan istrinya. Bagaimana pun juga, ia sebagai seorang kepala keluarga, memang memiliki tanggung jawab yang sangat berat.
Mahes memang meminta Mala untuk di rumah saja. Karena tidak ingin melihat istrinya melakukan pekerjaan yang berat. Yang bisa membuatnya stress, kecapekan dan akhirnya kesulitan memiliki anak.
Beruntung Mala sangat patuh padanya. Sehingga keinginan untuk memiliki anak, sebentar lagi akan terwujud.
"Mas, jalan-jalan pagi seperti ini, ternyata menyenangkan juga ya." celoteh Mala dengan riangnya.
"Iya. Tapi aku lebih senang jika melihat mu tersenyum seperti itu."
"Oh, ternyata kamu semakin pintar menggombali ku ya." Mala terkikik geli, sambil menepuk lengan suaminya.
"Habis, siapa lagi yang bisa aku gombali selain istri sendiri?"
__ADS_1
"Eh, mas. Tuh ada bubur ayam. Aku mau."
Mahes seketika meraba saku celananya. Karena niat awal keduanya hanya berjalan-jalan saja. Ia menepuk jidatnya sendiri, karena memang ia tidak membawa dompet. Tapi hanya membawa handphonenya saja.
"Iya, tunggu sebentar ya."
Mahes memutar otak, bagaimana caranya bisa membelikan bubur ayam untuk istrinya. Padahal ia tak membawa uang sama sekali.
Sedangkan Mala, ia tidak menyadari jika dirinya dan suaminya tidak membawa uang. Yang ia inginkan adalah, apa yang menjadi keinginannya terwujud.
Mahes tersenyum, lalu mengotak-atik handphonenya. Setelah itu, ia mengajak Mala untuk mendekat ke arah tukang jualan bubur ayam.
"Kamu mau makan berapa porsi, sayang?" tanya Mahes dengan lembut pada sang istri.
"Satu porsi saja. Tapi nanti kalau anak kita mau lagi, kamu belikan ya." Mala mengusap perut buncitnya.
"Iya. Sekarang belikan untuk mamanya dulu. Habis itu, belikan untuk anaknya. Kamu tunggu disini dulu. Biar aku pesan kan."
Mala mengangguk patuh pada suaminya. Lalu menyeka peluh yang bercucuran di wajahnya. Ia juga mengusap perutnya perlahan. Setelah memesan makanan, Mahes duduk lesehan disamping istrinya.
"Apa anak kita juga ikut kecapaian?" tanya Mahes sambil ikut mengusap perut istrinya.
"Mungkin iya. Nanti setelah sampai rumah, kamu harus memijitnya. Agar tidak kecapaian."
"Eh, lihat. Anak kita bergerak lagi saat ku usap." seru Mahes kegirangan. Ia geli sekaligus senang merasakan pergerakan anak dalam perut istrinya.
__ADS_1