
Kini Mahes dan Mala sudah sampai di pelataran teater.
Perut Mala belum terlihat membuncit. Karena usia kandungannya masih tiga bulan. Ditambah lagi ia mengenakan long jaket. Sehingga tidak terlihat jika keduanya sudah menikah.
Keduanya bergandengan tangan dengan mesra masuk ke dalam gedung, seperti pasangan muda-mudi yang tengah merajut cinta.
"Kita nonton film horor saja sayang." ajak Mahes. Agar ia bisa memanfaatkan kesempatan. Jika Mala ketakutan, wanita itu bisa memeluknya.
"Tidak mau. Aku ingin melihat film komedi." potong Mala dengan cepat.
Daripada berdebat, akhirnya Mahes mengikuti permintaan istrinya. Setelah membeli tiket, tak lupa keduanya untuk membeli popcorn dan soft drink, sebagai teman nonton.
Sambil menunggu jam yang telah ditentukan, Mala berniat ingin buang air kecil. Sejak awal usia kehamilan, Mala memang sering buang air kecil. Dan tak bisa menahannya. Mahes pun mengantarkannya. Setelah selesai, barulah keduanya memasuki gedung pertunjukan.
Lagi-lagi keduanya berbeda pendapat. Mahes ingin duduk di belakang, sedangkan Mala ingin duduk di depan. Karena ingin melihat tokoh utamanya dari dekat. Sebagai orang yang tidak hamil, Mahes pun menuruti keinginan istrinya. Takut jika bayi dalam perut istrinya nanti sering ngeces.
Saat memasuki gedung teater, terlihat sudah ramai pengunjung. Mala seketika mengerucutkan bibirnya dan mendengus kesal, karena deretan kursi bagian depan sudah penuh dengan pengunjung.
"Bagaimana ini, mas." cicit Mala.
"Bagaimana kalau kita duduk di belakang saja. Toh, sama saja kan?"
"Beda!" pekik Mala.
"Kalau aku maunya di depan, ya di depan." Mala mengerucutkan bibirnya, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Mahes bingung bagaimana cara menuruti keinginan istrinya. Hingga ia garuk-garuk kepala yang tak gatal.
__ADS_1
"Tunjuk kursi mana yang ingin kamu duduki." titah Mahes pada Mala akhirnya.
Ibu hamil itu tersenyum, lalu menunjuk sebuah kursi yang tepat berada di depan layar.
"Tuh, kursi yang diduduki wanita pakai baju hijau dan laki-laki disampingnya pakai baju kuning."
Mahes manggut-manggut, lalu mendekati kedua orang yang di maksud istrinya. Setelah berbincang sejenak, Mahes kembali mendekati Mala.
"Beres. Ayo kita duduk." ajak Mahes sambil menggandeng tangan Mala. Senyum merekah, karena apa yang di pinta terwujud.
Keduanya kini bisa duduk dengan tenang di kursi bagian depan, dan bersiap menonton. Tak lama kemudian, film Mr Bean pun di putar. Mala mulai menatap dengan seksama.
Baru beberapa adegan saja, sudah membuat Mala tergelak. Mahes menoleh tersenyum ketika melihat istrinya bisa tertawa.
Tanpa terasa, satu jam sudah mereka menonton film Mr Bean. Dan kini film itu pun selesai. Sepanjang acara tadi, Mala terus tertawa.
"Kamu masih mau menonton lagi?" tanya Mahes, ketika keduanya sudah berada di dalam mobil, yang tengah melaju pelan.
"Huum." Mala menganggukkan kepalanya.
"Kapan-kapan lagi ya, kita kesini."
"Janji ya?"
"In shaa Allah."
"Oh iya, memang apa yang kamu lakukan pada pasangan tadi? Kenapa bisa mereka mau pindah?" Mala menatap suaminya.
__ADS_1
"Aku hanya memberi mereka lembaran merah dua lembar."
"Hahaha. Jadi kamu menyogok mereka?" tanya Mala disertai kekehan kecil.
"Hanya uang receh. Yang penting istriku bisa bahagia. Dan anakku tidak ecesan." kali ini keduanya terkekeh bersama.
Setelah pulang, Mala ternyata tidak bisa langsung tidur. Ia justru mengajak Mahes terus bercerita.
Padahal suaminya itu sudah tidak tahan, ingin cepat-cepat memejamkan matanya. Namun demi rasa cintanya yang besar, ia menahan rasa kantuknya.
**
Sementara itu di tempat lain. Siska bangun lebih pagi, sesuai permintaan Doni. Setelah menyelesaikan sarapan yang ia beli tadi, bergegas ia menunggu di depan pagar rumah kost-kostan nya.
Baru saja ia sampai, mobil hitam yang diyakini milik Doni berhenti di depannya. Saat kaca mobil diturunkan, terlihat wajah Doni yang tersenyum ke arah Siska. Gadis itu mengulas senyum dan segera masuk mobil. Kendaraan roda empat itu pun mulai melaju lagi.
"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Doni memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Sudah." Siska menganggukkan kepalanya.
"Oh, aku kira belum."
Setelah itu, tak ada lagi pembicaraan diantara kalian. Suasana berubah menjadi canggung. Sampai akhirnya, mobil sudah sampai di kedai.
Siska membantu membawakan stok sayur, sedangkan Doni sendiri membawa daging ayamnya.
Keduanya masuk ke kedai, dan segera melakukan pekerjaan seperti kemarin. Mereka melakukan semuanya dengan cepat dan penuh semangat. Sehingga cepat selesai.
__ADS_1
Setelah mencuci bersih tangan dan merapikan kembali penampilan mereka. Akhirnya kedai siap buka. Keduanya bersiap menyambut kedatangan para pelanggan sambil terus berdoa.