Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
132. Pulang


__ADS_3

Tiga hari sudah Siska di rawat di rumah sakit. Keadaannya juga sudah membaik. Selama itu juga Doni lah yang merawatnya.


Hingga membuat Siska merasa tak enak dengannya. Karena dirinya sangat merepotkan pemuda itu. Gadis itu juga merasa cemas, jika ibu kostnya berpikir yang tidak-tidak tentang nya.


"Kenapa kamu melamun?" tanya Doni.


"Aku tidak sedang melamun."


"Lalu kenapa kamu diam saja? Pandangan mu juga terlihat kosong." Doni yang baru saja keluar dari kamar mandi, duduk di dekat Siska.


"Maaf kan aku ya mas, gara-gara menunggu ku, kamu jadi libur kerja. Aku tidak sanggup membayangkan, berapa kerugian yang kamu alami?" Siska menunjukkan raut wajah yang sedih.


Doni tersenyum simpul, sebelum berbicara.


"Jangan dibayangkan. Karena jika dibayangkan akan semakin membuat mu merasa bersalah padaku. Aku yakin, nanti juga bakal dapat ganti yang lebih banyak dan lebih berkah lagi."


Siska menatap Doni tanpa kedip. Dalam hatinya, ia sungguh memuja bos nya. Siapa wanita yang beruntung mendapatkan suami seperti bos nya, pikirnya.


"Hayo, sudah dibilangin jangan melamun. Kenapa malah melamun lagi?"


"Eh, itu mas. Aku, juga takut apa yang akan dilakukan ibu kost padaku. Setelah pulang dari rumah sakit."


"Jangan takut. Aku akan mengantarmu dan menjelaskan semuanya padanya nanti. Sekarang kamu tenang ya. Agar cepat sembuh, dan boleh pulang. Oh iya, aku mau sholat Dhuha dulu."


Doni bangkit dari duduknya, lalu menggelar sajadah. Sedangkan Siska menatap laki-laki itu. Mulai dari takbiratul ihram sampai akhirnya mengucapkan salam. Lalu berdo'a.


"Kenapa kamu terus menatap ku seperti itu?" lagi-lagi Siska ketahuan jika dirinya tengah menatap bos nya.


"Tidak. Aku hanya memperhatikan gerakan sholat kamu saja tadi."

__ADS_1


"Kenapa? Apa ada yang salah?"


"Tidak. Sepertinya tidak ada yang salah. Karena aku sendiri juga tidak tahu bagaimana gerakan yang sebenarnya." Siska tertawa ironi. Menertawakan dirinya sendiri yang seperti sampah tidak bermanfaat.


"Hah. Kamu pasti hanya bercanda. Iya kan?" Doni ikut tertawa. Tapi tawanya tentu berbeda dengan yang ditunjukkan oleh Siska.


"Tidak. Aku tidak bercanda. Aku serius, mas. Makanya, aku sejak tadi memperhatikan mu sholat, agar tahu bagaimana caranya sholat."


Perlahan senyum Doni pun memudar. Lalu menatap Siska dengan serius.


"Jadi kamu tidak bisa sholat sama sekali?" ulang Doni, dan Siska pun menganggukkan kepalanya.


"Kamu mau aku ajari?"


Siska menganggukkan kepalanya antusias.


"Jika kamu tidak keberatan, mas. Karena aku ini wanita bodoh. Tidak tahu apa-apa. Pasti lama menyerap ilmu pelajaran."


"Terima kasih, mas. Lalu kamu mau mengajari ku kapan?"


Belum sempat Doni menjawab pertanyaan karyawan satu-satunya, Dokter dan seorang perawat datang memasuki ruangan mereka. Untuk memeriksa keadaan Siska.


"Selamat pagi." sapa seorang perempuan berjilbab merah dan memakai jas putih khas dokter.


"Selamat pagi juga, dok." balas Doni dan Siska bersamaan, dengan senyum terbaik mereka.


"Kita periksa dulu ya." ucap dokter sambil membenarkan letak stetoskopnya, lalu mulai melakukan serangkaian pemeriksaan.


"Alhamdulillah, semuanya bagus. Sesuai janji saya kemarin, anda boleh pulang hari ini. Tentunya setelah menyelesaikan administrasi dan yang lainnya."

__ADS_1


"Alhamdulillah." ucap Doni dan Siska bersamaan lagi.


"Terima kasih dokter." imbuh Doni lagi.


Sedangkan Siska berpikir, berapa total biaya yang akan ia keluarkan untuk membayar biaya perawatannya selama di rumah sakit.


"Suster, tolong lepas infusnya ya." titah dokter pada wanita yang berada di sampingnya.


"Baik, dok." balas perawat. Lalu tangannya bergerak melepas selang yang menempel beberapa hari di tangan Siska.


Setelah itu dokter dan perawat keluar bersamaan. Tinggallah Siska dan Doni saja.


"Mas, aku tidak membawa uang sepeser pun. Tolong dibayari dulu ya. Nanti setelah sampai rumah, aku akan menggantinya. Maaf banget sudah merepotkan mu. Tapi, ini benar-benar mendesak." ucap Siska penuh harap, sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Doni menyunggingkan senyum.


"Iya, kamu tenang saja. Aku tinggal dulu ya, untuk mengurus semuanya."


"Baik, terima kasih. Sekali terima kasih ya mas."


"Sama-sama Siska."


Doni mengulas senyum, yang entah kenapa bisa membuat Siska terbang melayang. Sehingga takut jatuh.


Laki-laki itu berjalan keluar, dan meninggalkan Siska sendirian.


Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya Doni sudah kembali ke ruangan Siska. Terlihat gadis itu justru tertidur.


"Apa karena terlalu lama menungguku, atau karena pengaruh obat, jadi dia kembali tidur? Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan? Menunggunya sampai bangun, atau mengangkatnya dalam keadaan tidur?" gumam Doni, cukup bingung juga.


❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2