
Mala dan Mahes berpelukan cukup lama. Hingga Mala tiba-tiba mendorong kasar tubuh Mahes.
"Ma-maafkan aku. Kita bukan muhrim." ucap Mala sambil tergeragap dan menghapus air matanya.
"Eh iya, maafkan saya juga nona. Bukan maksud saya mencuri kesempatan. Tapi saya sangat senang, jika nona tidak membenci apa yang saya lakukan untuk nona."
"Perbuatan buruk Doni saja bisa aku maafkan, kenapa perbuatan baikmu tidak?"
Keduanya saling melempar senyum, dan hatinya sangat lega. Mala merasa sangat senang bisa bertemu dengan korban kecelakaan itu. Sedangkan Mahes merasa lega karena Mala tidak marah dengan apa yang ia lakukan.
"Oh iya, kamu tadi bilang, hati mu terasa berbeda. Memangnya kenapa?" tanya Mala sambil menatap Mahes.
"Itu, itu karena... saya bingung non mau mengatakan bagaimana. Takut menyinggung perasaan non Mala. Lebih baik kita ganti topik pembicaraan saja."
"Semua akan kita bahas sampai tuntas. Agar tidak ada salah paham. Di mulai dari perasaan mu tadi."
"Mungkin, ini terlalu cepat. Tapi saya harap non Mala tidak membenci saya."
"Jangan bertele-tele Mahes. Cepat katakan saja."
"Sa-saya menyukai non Mala."
Mala tertegun, ia tak percaya di tengah segala musibah yang menimpanya sampai ia cacat, dan bahkan sebentar lagi akan menyandang status janda, justru ada yang mengatakan cinta padanya.
Air matanya kembali meleleh membasahi pipinya. Bibirnya bergetar sulit untuk berkata-kata.
Mahes yang melihat Mala menangis, menarik ujung jilbab wanita itu, lalu menghapus perlahan air matanya.
__ADS_1
"Mahes, tidak bisakah kamu bersikap lebih romantis? Masa membersihkan air mataku pakai ujung jilbab ku. Kan bisa pakai tisu."
Mahes meringis sambil menepuk jidatnya menyadari kesalahannya. Lalu meraih beberapa lembar tisu dan membersihkan wajah Mala dengan tisu tersebut.
"Kenapa non Mala menatap ku seperti itu?" tanya Mahes saat ia masih membersihkan wajah Mala.
Ia merasa tak enak karena wanita itu terus memperhatikannya.
"Aku mencoba mencari kejujuran atas ucapan yang kamu katakan tadi Mahes. Karena aku merasa tak percaya diri.
Mas Doni yang notabenenya adalah suami ku, dan sudah berkenalan cukup lama, dengan tega meninggalkan ku saat kondisi ku terpuruk dan seperti ini.
Tapi kamu orang baru yang hadir di hidupku, justru mengatakan suka padaku. Aku rasa ini semua konyol." Mala menyunggingkan senyum mencemooh.
Mahes membenarkan letak jilbab Mala agar bisa menutupi tangannya, karena keduanya belum muhrim, lalu memegang tangan tersebut.
"Katakan lah, harus dengan cara apa saya meyakinkan hati non Mala, bahwa saya benar-benar mencintai non Mala apa adanya, bukan ada apanya. Apa perlu saya benar-benar meninggalkan seluruh aset warisan dari kedua orang tua saya, dan menjadi pembantu seumur hidup disini?"
Keduanya saling beradu pandang dengan intens. Rasanya semua yang dilakukan Mahes sudah lebih dari cukup, untuk meyakinkan hati Mala. Bahwa laki-laki itu benar-benar mencintainya.
"Aku hanya tidak percaya diri dengan kondisi ku yang seperti ini Mahes. Kamu bisa mencari pendamping hidup yang jauh lebih sempurna dari ku." Mala tertunduk lesu.
"Mungkin non Mala fisiknya tidak sempurna, tapi hatinya saya rasa lebih dari sekedar sempurna. Di saat terpuruk masih ingat Sang Pencipta.
Begitu pula saya, fisik boleh dikatakan sempurna. Tapi nyatanya selama di luar negeri saya sempat meninggalkan kewajiban lima waktu.
Dan ketika menjadi pembantu disini, saya kembali mengerjakan kewajiban lima waktu itu, berkat non Mala yang mengingatkan.
__ADS_1
Jadi, kita sama-sama tidak sempurna. Dan dengan kita bersatu, maka kesempurnaan itu akan terbentuk."
Untuk yang kesekian kalinya, air mata Mala kembali lolos. Ungkapan hati Mahes begitu tulus dan tidak mengada-ada.
"Jadi non Mala mau menerima saya?"
"Mahes, aku baru proses perceraian. Sebaiknya kita jangan membahas hal ini dulu. Aku takut berdosa."
"Baiklah non. Saya minta maaf. Tapi yang jelas, sekarang non sudah tahu perasaan saya yang sebenarnya.
"Terima kasih." Mala tersenyum sambil mengangguk.
"Oh iya, boleh aku lihat rekaman mas Doni dan ibunya? Siapa tahu itu bisa di pakai saat persidangan ku nanti."
"Tentu, tentu boleh nona." ucap Mahes sambil merogoh handphone dari saku celananya. Lalu mencari videonya.
"Ini nona." ucap Mahes sambil menyerahkan handphonenya.
"Kamu tidak perlu memanggil ku nona tuan Mahes."
Mahes senyum sambil garuk-garuk kepala mendengar Mala menyebutnya seperti itu.
"Kenapa, non Mala jadi memanggil saya begitu? Saya jadi merasa tidak enak."
"Kalau kamu memanggil ku nona, maka aku akan memanggil mu tuan."
"Tidak-tidak, panggilan tetap sama seperti saat awal kita bertemu saja. Itu lebih cocok nona."
__ADS_1