
Doni kembali bersemangat mencari kerja. Ia wira-wiri kesana kemari untuk mencari kerja mengendarai mobilnya.
Dan kini ia sudah berdiri di sebuah perusahaan. Bernama, Sumitro Buana textile. Untuk mengikuti serangkaian tes, sebelum diterima bekerja. Ia melihat gedung yang tinggi menjulang itu dengan penuh rasa takjub.
Berharap sekali bisa diterima di perusahaan itu. Pasti gajinya sangat menggiurkan. Ia tidak akan malu jika nanti bertemu dengan Mala.
Karena dipertemuan yang terakhir, mantan istrinya melihat penampilannya yang sangat tidak berkelas. Dan justru terlihat seperti penghuni rumah sakit jiwa. Bahkan karyawan restoran menganggapnya seorang pengemis.
Doni juga berharap Siska melihat penampilannya saat ini yang kembali rapi dan wangi. Karena sudah lama sekali Siska tidak menginjakkan kaki di rumahnya.
Bahkan sebenarnya Doni sudah tidak menganggap Siska sebagai istrinya lagi. Tapi ia tidak membawa hal itu ke meja hijau. Karena tak mau rugi, dengan mengeluarkan uang untuk biaya persidangan.
Ia ingin membalas rasa sakit hatinya pada wanita-wanita yang telah mencampakkannya. Dengan harta yang ia miliki sekarang.
Dengan penuh percaya diri, ia memasuki lobby perusahaan. Ikut duduk di dekat orang-orang yang berseragam hitam putih seperti dirinya.
Melihat wajah-wajah saingannya, Doni yakin jika dialah yang akan diterima bekerja di perusahaan ternama itu. Ia menyunggingkan senyum sinis pada teman seperjuangannya.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, seorang wanita berhijab yang memakai kacamata hitam, dengan anggun memasuki lobby hotel. Semua mata tertuju padanya.
Peserta yang akan mengikuti tes itu pun juga memandang ke arah wanita tersebut. Termasuk Doni. Tapi mereka semua tidak bisa memandang dengan jelas wajahnya, karena kebetulan melihat dari samping.
"Ah, wanita model begituan, kok bisa diterima di perusahaan sebesar ini. Harusnya wanita kantoran itu, pakaiannya lima centi. Biar kelihatan, wow." celetuk Doni.
"Justru saya senang lho mas, melihat wanita yang berpakaian muslimah mau bekerja di kantor. Mereka itu adalah wanita yang cerdas dan berkelas." timpal teman seperjuangan Doni.
"Halah, kamu itu sengaja kan cari perhatian. Memuji karyawan di perusahaan ini, nanti biar diterima bekerja disini. Alasan saja. Kayak aku gini dong, mencari kerja tidak mengandalkan apapun. Hanya otak dan skill mumpuni. Karena percuma saja kamu kenal orang dalam, tapi tidak punya skill apa-apa. Dijamin tidak diterima." tekan Doni di ujung kalimatnya.
"Astaghfirullah, mas. Ingat, kita ini tidak boleh menyombongkan diri. Kepintaran yang kita miliki, asalnya juga dari Allah." balas yang lain.
Semua orang yang berseragam hitam putih menggelengkan kepalanya sambil mengusap dada, mendengar ocehan Doni yang terkesan menyombongkan diri.
Doni memang tak suka melihat orang yang menutup aurat. Karena itu mengingatkannya pada Mala.
Tidak hanya mereka orang-orang yang berseragam hitam putih yang jengkel dengan sikap Doni. Seorang wanita yang tadi menjadi pusat perhatian, juga mendengar jelas hal itu. Dan membuatnya meradang.
__ADS_1
Ia tidak ingin menerima karyawan yang tidak memiliki attitude dalam berbicara seperti dia.
Wanita itu memasuki ruangannya. Ia menekan tombol intercom untuk menghubungkan dengan bagian HRD.
Ia ingin, kali ini tes seleksi penerimaan karyawan dilakukan di ruangannya. Kepala HRD pun patuh mendengar perintah itu.
Sementara itu di lobby, resepsionis menyampaikan kepada para peserta tes seleksi untuk mengikuti tes di ruangan direktur. Mereka akan di pandu oleh security menuju ruangan yang dimaksud.
"Heran, perusahaan sebesar ini, masa tes seleksi diadakan di ruangan direktur. Kenapa hemat sekali, atau pemiliknya orang yang pelit? Eh, tunggu-tunggu. Kalau direktur sendiri yang menyeleksi, aku harus bisa mengambil hatinya. Siapa tahu bisa di kasih jabatan sebagai manager keuangan." Doni bergumam dengan wajah yang berbinar, membayangkan jika dirinya menjadi manager keuangan. Pikiran kotor sudah memenuhi ruang kepalanya.
"Heh mas, jangan bicara seperti itu dong. Kita ini mau melamar kerja disini. Usahakan memiliki attitude yang bagus. Apalagi dengar-dengar direktur utama di perusahaan ini adalah seorang perempuan." ucap teman seperjuangan Doni, yang jengah mendengar gumaman Doni yang jelek.
"Hah, perempuan? Serius?" Doni cukup terkejut dengan ucapan orang yang ada di dekatnya, sehingga orang itu kembali mengangguk.
"Wah, kok bisa pas begini sih. Aku laki dan direktur perempuan. Ada kesempatan untuk aku mendekatinya. Siapa tahu juga bisa menikah dengannya. Bakalan kaya raya aku. Ibu pasti senang banget. Ah, jadi ngga sabar pengen segera ketemu sama direkturnya." Doni terus senyum-senyum sendiri.
Orang-orang semakin menatap aneh pada dirinya.
__ADS_1
Mereka pun kini memasuki lift, yang akan membawa mereka ke lantai delapan perusahaan itu.