Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
110. Hampir lupa


__ADS_3

Keesokan paginya, Siska menggeliat bangun. Ia mengucek matanya pelan, lalu memindai keadaan sekitar.


"Astaga! Apakah semalam aku ketiduran?" pekik Siska, lalu tergeragap bangun.


"Iya benar, aku memang ketiduran. Buktinya badanku bau asem." gumam Siska sambil menghirup aroma ketiaknya sendiri.


Ia melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul enam pagi.


"Syukurlah, aku tidak terlambat bangun. Padahal semalam lupa belum pasang alarm." gumamnya sambil mengelus dada.


"Kalau begitu, aku harus cepat mandi. Dan bersiap berangkat kerja. Aku harus melupakan masa lalu ku. Jika mas Doni mengetahuinya, dan aku di pecat. Ya aku harus terima. Mungkin inilah konsekuensi yang harus ku jalani. Aku sudah niat berubah, pasti ada jalan yang terbaik untukku."


Setelah melakukan motivasi pagi untuk dirinya sendiri, Siska beranjak dari tempat tidurnya, lalu merebus air.


Sambil menunggu airnya hangat, ia meregangkan otot-otot badannya dengan melakukan olah raga ringan.


Sejak di vonis sakit, ia memang lebih rutin melakukan olahraga. Walaupun dulu badannya pernah mengalami penyusutan yang sangat drastis, kini setelah sehat, badannya mulai berisi lagi. Bahkan karena olah raga itu, badannya juga terlihat lebih uwuw.


Air yang di rebus sudah hangat, bergegas ia memasukkan air tersebut ke dalam ember. Lalu ia pun segera mandi.


Setelah mandi, ia pergi ke warung di depan kost, untuk membeli sarapan seperti biasanya.


"Mbak, sering di jemput pakai mobil. Memang pacarnya ya?" tanya ibu-ibu penjual, tempat Siska membeli sarapan. Gadis itu hanya menarik senyum sebelum menjawab.

__ADS_1


"Bukan, Bu. Dia cuma bos saya. Kebetulan rumahnya searah. Jadi dia mau memberi tumpangan pada saya. Daripada saya berangkat naik angkutan umum. Takutnya terlambat. Karena karyawannya baru saya seorang." tutur Siska panjang lebar.


Ia tidak mau ada orang yang salah sangka melihat hubungannya dengan sang bos. Apalagi Doni cukup tampan.


Kalau Siska mengiyakan jika Doni pacar nya, kasian laki-laki itu. Bisa mati pasarannya. Dan tentunya tidak sebanding. Pikir Siska.


Setelah membeli sarapan, Siska segera pulang. Karena khawatir Doni akan datang, sebelum ia menghabiskan sarapannya.


**


Kini Siska telah menyelesaikan sarapan paginya. Ia membersihkan diri sekali lagi, dan merapikan penampilannya. Sebelum berjalan ke depan.


Tepat sekali. Ia sampai depan pagar, dan mobil Doni juga pas berhenti. Keduanya saling melempar senyum. Dan Siska pun masuk.


"Ya ampun, mas!" pekik Siska, yang begitu mengejutkan Doni yang tengah mengulek sambal.


"Ada apa, Siska?" tanya Doni tak kalah panik.


"Nanti siang kita dapat pesanan dua ratus nasi box."


"Apa! Serius kamu?" kini giliran Doni yang terkejut. Siska mengangguk cepat.


"Mbak Ima yang pesan. Dia adalah teman satu kost ku. Tempo hari ia pernah membeli makanan di sini. Katanya rasanya sangat enak dan cocok di lidahnya. Dan kemarin saat aku baru pulang, dia langsung mengatakannya padaku, jika ingin memesan untuk acara kantornya. Maaf ya, mas. Aku kemarin benar-benar kurang enak badan. Jadi sampai rumah langsung ketiduran. Misalnya aku mau mengabari mu, aku juga tidak memiliki nomor handphone mu, mas."

__ADS_1


Siska memberi penjelasan yang panjang lebar, agar bos nya percaya dengannya. Toh, apa yang ia katakan, memang benar adanya. Dan tidak ada unsur kebohongan.


"Ya sudah tidak apa-apa. Tapi aku perlu ke pasar sekarang. Takutnya sisa sayuran kemarin, kalau di pakai untuk hari ini dan untuk melayani pesanan, tidak akan cukup. Kamu berani kan aku tinggal sendiri?"


"Iya, mas. Aku berani. Tapi, pintunya nanti di tutup total dulu ya." pinta Siska. Ia takut jika ada orang lain masuk ke kedai, tapi hanya ada dirinya.


"Iya, nanti biar aku kunci dari luar."


"Iya, mas. Itu lebih baik. Aku jadi tenang bekerjanya." Siska menyunggingkan senyum.


Setelah itu, Doni pun segera mencuci tangan, dan menyemprot dengan hand sanitizer. Lalu menyambar tasnya dan berlalu pergi.


Seperti apa yang diucapkan pada bos-nya. Siska pun segera fokus menyelesaikan pekerjaannya. Ia berharap, sebelum bos nya sampai kedai, ia sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Hal itu semakin mendorong Siska untuk melaksanakan pekerjaannya dengan cepat dan penuh semangat.


Hampir dua jam Doni berbelanja ke pasar. Kini ia sudah sampai di kedai lagi. Ia menenteng barang belanjaannya yang cukup banyak seorang diri.


Setelah itu, ia meletakkan di dekat kakinya, lalu merogoh kunci pintu dari dalam tas.


"Siska." teriaknya sambil masuk ke dalam kedai, sambil menenteng barang belanjaannya yang cukup banyak.


"Mas Doni sudah pulang?" tanya Siska terkejut. Karena ia baru saja mencuci tangannya dengan bersih. Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2