Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
73. Teguran dari Tuhan


__ADS_3

"Telepon dari siapa, Don?"


"Dari karyawan bengkel, Bu. Mengabarkan kalau mobil yang Doni tabrak kemarin sudah jadi. Dan segera di suruh untuk melunasi pembayarannya."


"Huh, ibu capek. Semua masalah datang terus-menerus."


"Ya mau gimana lagi, Bu. Ini semua salah kita. Kita harus secepatnya minta maaf sama Mala. Ibu mau ikut ?"


"Kita lihat saja nanti ya, Don. Ibu capek." Bu Mirna membawa tasnya menuju ke kamar.


Doni mengacak rambutnya frustasi.


"Tuhan, benarkah ini yang namanya teguran dari-Mu?" gumam Doni sambil memejamkan matanya.


**


Sementara Doni tengah menikmati pahitnya bumbu kehidupan. Mala justru mengalami hal sebaliknya.


Kini Mahes mengajaknya jalan-jalan menikmati udara sore. Setelah pulang dari perusahaan.


Mahes sekarang sudah tidak tinggal di rumah Mala lagi. Ia tinggal di rumahnya sendiri. Sebenarnya ia ingin menjadi asisten rumah tangganya Mala saja, agar bisa melindunginya setiap saat.


Tapi apa daya, dia juga memiliki rumah yang harus ditempati, perusahaan dan rumah sakit yang harus di urus.


Setelah Mala benar-benar sembuh, ia mempercayakan pada asisten rumah tangganya yang lain untuk menjaganya.


Tak hanya itu saja, Mahes juga bertambah mendekatkan dirinya kepada Allah. Ia memohon agar Sang Pencipta selalu menjaga dan melindungi pujaan hatinya.


"Maaf, sudah membuat mu menunggu lama." ucap Mahes, saat melihat Mala tengah duduk sendirian di teras perusahaannya.


"Tidak apa-apa. Toh, karyawan ku juga ada beberapa yang belum pulang."


"Ayo, kita masuk ke mobil." Mala mengangguk, lalu beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Mahes membukakan pintu mobil untuk Mala, dan mempersilahkan wanita itu masuk. Setelahnya ia mengitari mobil, dan masuk lewat pintu sebelah.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke sebuah taman.


"Ini kan bukan jalan menuju rumah ku, Mahes. Kita ini mau kemana?" tanya Mala mulai khawatir.


"Tenang. Aku ini kan mantan asisten rumah tangga mu. Tentu tidak akan berani macam-macam."


Mahes menoleh ke arah Mala, dan menyunggingkan senyum. Ia tahu jika Mala agak khawatir jika dia akan berbuat buruk padanya.


Lamat-lamat terlihat kerumunan orang. Mala mulai bisa menghirup nafas lega.


"Nah, benar kan. Aku tidak macam-macam dengan mu. Aku hanya ingin mengajak mu jalan-jalan sore saja."


"Kamu tahu ngga, aku tuh malu dan ngga percaya diri, karena belum mandi." Mala mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Mahes justru terkekeh.


"Mau mandi atau tidak, kamu tetap kelihatan cantik kok di mata ku."


"Semua laki-laki juga akan berkata seperti itu."


"Ini serius."


"Tentu saja serius. Kita disini jalan-jalan. Kalau mau beli sesuatu bayarnya juga pakai uang."


Mala hanya bisa mendengus kesal. Tak urung ia menjejakkan kakinya juga. Karena tertarik pada keramaian yang ada di depan matanya.


Dulu sewaktu bersama dengan Doni. Ia tak pernah menjejak di tempat keramaian seperti pasar dadakan, taman, atau tempat lainnya. Ia selalu mengajaknya ke mall, atau restoran mewah.


Dan anehnya Mala selalu mengikuti apa maunya Doni. Setelah semua terjadi, ia baru menyesalinya.


"Jangan melamun. Ayo, kamu mau beli apa? Biar aku beliin."


Mala mengedarkan pandangannya, lalu menunjuk gerobak telur gulung, yang belum ada pembeli. Padahal pedagang lain sudah dikerubungi pembeli. Sampai antri.

__ADS_1


Prinsipnya, ia ingin membantu melarisi dagangan pedagang kecil. Karena mungkin saja mereka itu berjualan untuk sekedar menyambung hidup. Bukan semata-mata menumpuk kekayaan.


Keduanya segera mendekat ke arah penjual telur gulung.


"Berapa harga satunya, pak?" tanya Mala.


"Seribu rupiah, non."


"Kamu mau beli berapa? Uang jajan ku masih cukup kok untuk membeli telur gulung segrobaknya."


Mala terkekeh mendengar gurauan Mahes.


"Memangnya kamu menyuruh ku jualan telur gulung? Pakai acara beliin aku segrobaknya sekalian."


"Kalau kamu mau juga ngga apa-apa. Nanti aku temani kamu jualan."


"Memang kamu ngga malu jualan?"


"Enggak. Jualan itu ibadah kok."


"Kalau saya beli semua dagangan bapak kira-kira totalnya berapa?" tanya Mala.


"Serius mau beli semuanya?" tanya Mahes sambil mengernyitkan dahi, dan Mala menjawabnya dengan sebuah anggukan dan senyuman.


"Setelah saya hitung, totalnya dua ratus ribu. Itu sudah saya kasih diskon, non."


"Maa syaa Allah, terima kasih pak. Kalau begitu buatkan semua untuk saya."


"Me-memangnya kamu sudah berapa hari tidak makan, sampai mau memborong makanan ini, Mala?"


Mala kembali terkekeh, padahal Mahes menatapnya dengan wajah serius. Laki-laki itu sangat khawatir jika sampai wanita pujaan hatinya tidak terurus karena sibuk memikirkan pekerjaannya.


"Kamu nanti juga bakal tahu sendiri kok." balas Mala santai, dan kini ia mengambil satu telur gulung yang sudah matang, lalu melahapnya.

__ADS_1


"Hem, enak. Kamu mau mencoba?"


"Boleh." Mahes langsung melahap sisa telur gulung yang di pegang Mala, sehingga membuat wanita itu membulatkan matanya.


__ADS_2