Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
38. Tangisan di kamar mandi


__ADS_3

Doni merasa terhina dengan jabatan baru yang diberikan Mahes padanya.


"Kenapa harus serendah itu jabatan saya di kantor ini pak?" Doni seketika protes karena merasa tak terima.


"Agar kamu tidak lagi menghina orang berdasarkan jabatannya. Bukan kah kamu tadi juga bilang kalau mau berubah. Harus totalitas dong, tidak boleh setengah-setengah."


"Baiklah kalau begitu. Lebih baik saya cari perusahaan lain yang mau menerima saya. Daripada harus bekerja disini sebagai OB. Percuma ijazah saya." Doni bangkit berdiri dan dengan angkuhnya berjalan meninggalkan ruangan itu.


Bahkan ia tidak menyalami Mahes yang notabenenya adalah pemilik perusahaan, dan bu Dewi sebagai asistennya.


Ia berjalan dengan gontai menuju ke tempat kerjanya.


"Sutsutsut. Kenapa muka mu seperti bunga layu? Padahal tadi semangat empat lima lho." tanya Adi yang penasaran dengan raut wajah Doni yang jauh berbeda dari sebelumnya.


"Aku mengundurkan diri dari perusahaan ini."


"Mengundurkan diri?" ulang Adi yang merasa janggal dengan jawaban temannya.


"Mengundurkan diri atau di pecat?" balas teman lain yang tak sengaja mendengar percakapan mereka.


"Dua-duanya sama saja kan. Lagian kenapa kalian kepo banget sih, mau tahu saja urusan orang lain." balas Doni sambil merapikan barang-barangnya.


"Beda jauh dong. Mengundurkan diri itu inisiatif kita. Kalau dipecat itu keputusan kantor."

__ADS_1


"Betul itu. Aku kok justru lebih percaya kamu di pecat ya, ketimbang mengundurkan diri." balas teman yang lainnya lagi.


"Halah, aku di pecat juga gara-gara kalian. Lihat saja, aku bakal sumpahin perusahaan ini biar bangkrut. Biar tuh si anak kemarin sore tidak bisa main seenaknya lagi. Biar jadi pembantu beneran." ucap Doni penuh kebencian dan dendam yang membara.


"Hush. Tidak boleh menyumpahi orang. Bisa jadi hal itu justru balik ke dirimu sendiri, karena telah mendoakan keburukan untuk orang lain." ucap Adi mengingatkan. Dan disertai anggukan oleh teman-temannya tanda setuju.


"Kalian jangan sok suci. Jika posisinya seperti aku, pasti kalian juga akan melakukan hal yang sama. Dah, aku mau pulang. Selamat menikmati waktu di perusahaan ini, yang sebentar lagi pasti akan bangkrut." setelah berkata seperti itu Doni melenggang pergi.


Teman-temannya menatap kepergiannya dengan rasa kasian, jengkel bercampur menjadi satu.


Kasian karena sebagai karyawan lama tapi justru kena PHK. Dan jengkel karena sikap dan sifat yang tidak terpuji. Sering kali menyakiti hati dan berbicara seenaknya sendiri pada teman-temannya.


Teman-temannya mendoakan semoga Doni lekas sadar dan berubah.


Sementara itu, Doni yang sudah berada di lobby, mencari toilet terlebih dahulu. Setelah menemukan tempat itu, buru-buru ia masuk ke salah satu bilik dsn menguncinya rapat-rapat.


Ia yang tadi berjalan angkuh di hadapan teman-temannya dan pura-pura tidak membutuhkan pekerjaan di kantor itu, akhirnya menangis dengan kencang dan sesenggukan.


Ia ingin menumpahkan segala kejadian buruk yang menimpanya akhir-akhir ini agar hatinya bisa lega. Karena tidak mungkin ia menangis di rumah.


Bisa-bisa ibu dan istrinya justru akan memarahinya habis-habisan. Di anggap sebagai laki-laki yang lemah.


Dug... Dug... Dug

__ADS_1


"Tuan, apa yang terjadi di dalam? Kenapa anda menangis?" seorang laki-laki berteriak sambil menggedor kencang pintu toilet yang sedang digunakan Doni.


Beberapa orang yang baru saja keluar dari toilet dan juga mendengar suara tangisan itu pun berjalan mendekat. Mereka ikut menggedor pintu itu sambil berulang kali menanyakan apa yang terjadi.


Namun hal itu tidak di gubris oleh Doni dan justru membuatnya menangis semakin kencang dan histeris.


"Ada apa ini?" ucap Mahes ketika melihat gerombolan orang-orang yang tengah berdiri di depan pintu. Bahkan suara tangisan Doni pun masih terdengar kencang.


"Ada yang menangis histeris di dalam kamar mandi pak. Kami takutnya orang itu tengah stres dan mau bunuh diri. Makanya kami menggedor pintunya sejak tadi. Tapi ia belum mau keluar." ucap salah satu dari karyawan itu.


"Dobrak saja." titah Mahes.


"Baik pak."


Mereka pun segera mendobrak pintu itu. Yang bersamaan dengan pintu itu di buka. Alhasil Doni yang berada di dalam badannya membentur dinding dan pintu. Ia pun berteriak semakin kencang.


"Apa yang kalian lakukan?" Doni kembali menumpahkan tangisnya, karena sekujur tubuhnya terasa semakin remuk.


"Tega kalian padaku. Sudah sakit hati, ini malah di tambah sakit badan. Rasanya sakit semua jiwa dan ragaku. Kalau aku sampai mati, siap-siap arwah ku gentayangan menghantui kalian." ucap Doni disela-sela tangisnya.


"Doni?" gumam Mahes ketika melihat Doni berdiri dalam keadaan mata bengkak, dan seluruh wajahnya semakin membiru karena lebam.


Doni segera memperbaiki penampilannya dan menghapus air matanya. Ia malu jika aksinya menangis di kamar mandi sampai di ketahui oleh Mahes.

__ADS_1


Tapi percuma saja ia melakukan hal itu. Toh semua juga sudah mendengar jerit tangisnya yang kencang.


Doni pun berlalu pergi meninggalkan mereka yang mematung menatap kepergiannya.


__ADS_2