Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
135. Doni dan Bu Mirna


__ADS_3

"Oh iya, nama ibu siapa? Maaf saya sampai lupa belum berkenalan. Perkenalkan saya Doni." Doni mengulurkan tangannya pada si pemulung.


Mata ibu pemulung itu membulat, mendengar nama Doni di sebut. Hatinya juga bergemuruh. Karena hal itu mengingatkan nya pada almarhum anaknya.


"Bu." ulang Doni sambil menatap wajah ibu pemulung.


"Sa-saya Mirna." ucap ibu pemulung sambil menjabat tangan Doni.


"Ada apa dengan ibu?"


"Kamu begitu mengingatkan dengan almarhum anak ibu. Namanya juga Doni."


"Oh ya. Saya turut berdukacita ya Bu. Maaf jika sudah membuat hati ibu bersedih."


"Tidak apa-apa, nak. Justru ibu senang, karena merasa putra ibu hidup kembali. Walaupun dalam sikap dan rupa yang berbeda."


"Oh ya, Bu. Ini sudah sore dan pekerjaan juga sudah selesai. Ayo kita pulang. Besok pagi ibu sampai sini jam delapan ya, nanti pulangnya sampai jualan habis. Paling tidak sampai jam empat sore."


"Baik, nak. Terima kasih."


Bu Mirna keluar dari kedai dengan wajah yang berbinar.


Doni berniat mengantar Bu Mirna pulang, jika rumahnya searah. Tapi ketika mengedarkan pandangannya di pelataran kedai, ia sudah tidak menemukannya. Akhirnya, ia memilih ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang akan di olah besok.


**

__ADS_1


Bu Mirna berjalan pulang ke rumahnya dengan hati yang senang. Karena setelah sekian lama mencari kerja, ada juga yang mau menerimanya.


Terlebih bosnya memiliki nama yang sama dengan anaknya. Dia sangat baik, dan cukup untuk mengobati hatinya jika rindu dengan almarhum Doni.


Sesampainya di rumah, Bu Mirna membuka amplop yang diberikan oleh Doni. Matanya berbinar ketika melihat isinya selembar biru.


Ia pergi ke warung sebelah untuk membeli sabun dan shampo. Ia tidak ingin mempermalukan Doni, dengan penampilannya yang buruk dan dekil.


Setelah membeli sampo dan sabun, Bu Mirna segera mandi. Ia menggosok tubuhnya yang dekil. Lalu menuangkan sampo yang banyak ke rambutnya.


Setelah mandi, badannya terasa segar dan lebih wangi. Ia pun pergi ke rumah tetangganya untuk meminta tolong memotong rambutnya.


Tetangganya yang kebetulan tengah merumpi, melihat kedatangan Bu Mirna. Kali ini ia terlihat cukup segar, sehingga membuat tetangganya yang merumpi itu sedikit heran.


"Bu Mirna sudah sembuh?" tanya salah satu ibu-ibu yang bergerombol itu.


"Oh, syukurlah. Jadi tidak menyusahkan tetangga lagi." cetus tetangganya yang lain.


Bu Mirna merasa tersentil hatinya, karena mendengar ucapan tetangganya itu. Ia memang tidak minta di bawa ke rumah sakit.


Tapi ingin meninggal saja sekalian. Agar hidupnya tidak terus menderita. Namun apa daya, ternyata Allah berkehendak lain. Lagi-lagi ia masih diselamatkan.


Dan karena mendengar ucapan tetangganya yang terasa menyentil hati, Bu Mirna mengurungkan niatnya untuk minta tolong menggunting kan rambutnya.


"Ya sudah, Bu ibu. Saya permisi dulu kalau begitu." Bu Mirna pun akhirnya pamit pulang.

__ADS_1


"Lhololoh, dia kenapa? Baru datang sudah langsung pulang." cetus salah satu ibu-ibu.


"Sadar diri kali. Gara-gara dia kita juga jadi kena imbasnya kan. Kalau ingat di suruh merawat dia di rumah sakit, tanpa upah. Uh, bikin emosi."


"Iya, sama. Habis pulang ngurusin ibu Mirna, badanku jadi sakit semua."


Dan masih banyak lagi ocehan tetangga, yang semakin membuat Bu Mirna bersedih hati. Sekarang ia tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang sedang digunjingkan. Padahal biasanya dulu, ia lah yang sering menggunjingkan tetangganya.


Bu Mirna mempercepat langkahnya agar sampai rumah. Air mata yang jatuh membasahi pipinya, ia usap dengan kasar. Sekarang dirinya benar-benar rapuh. Tidak sekuat dulu.


Sesampainya di rumah, ia langsung menangis sejadi-jadinya. Padahal siang tadi ia merasa bahagia karena mendapatkan pekerjaan.


**


Pada keesokan harinya, Bu Mirna sudah bangun pagi-pagi. Ia membeli nasi bungkus di warung terdekat. Sesampainya di rumah, ia segera memakannya.


Setelah itu, ia mencari baju yang cocok untuk di pakai kerja. Meskipun hanya di suruh berada di dapur, untuk cuci piring saja. Ia tetap harus menjaga penampilannya. Agar pengunjung yang kebetulan melihatnya tidak ilfill.


Setelah mengobrak-abrik isi almari, akhirnya ia menemukan kaos panjang, celana kulot dan jilbab.


"Nah, lebih baik aku memakai jilbab saja. Untuk menutupi rambut ku yang kusut dan ubanan." gumamnya.


Bu Mirna membawa baju gantinya itu ke kamar mandi. Tak lama kemudian, ia sudah selesai mandi. Sejenak ia melihat bayangan dirinya melalui pantulan cermin.


"Semoga Doni suka dengan penampilan ku ini." gumamnya, lalu mengambil dompet dan memasukkan ke dalam kantong celana.

__ADS_1


Bu Mirna keluar dari kamar dan segera berangkat, agar tidak terlambat sampai di kedai. Maklum saja, ia harus berjalan kaki untuk sampai sana. Karena tidak memiliki kendaraan apapun.


__ADS_2