Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
101. Hari pertama


__ADS_3

Keesokan harinya, Siska bisa bangun pagi. Seperti biasa ia mandi, sarapan dan bersiap berangkat kerja.


Kali ini ia mengenakan kemeja panjang berwarna biru muda, dan dipadukan dengan celana kulot berwarna cream. Rambut panjangnya ia ikat ke belakang. Agar tidak mengganggu kerjanya nanti.


Terpaksa ia memakai sandal, karena ia hanya memiliki sepatu high heels. Tidak mungkin ia akan memakainya. Karena sudah dipastikan ia tidak bisa bekerja dengan cepat. Tak lupa ia menyemprotkan parfum ke tubuhnya, agar lebih percaya diri.


Setelah selesai, ia pun keluar dari kamar dan tak lupa mengunci pintunya. Setelahnya ia berjalan ke pagar, menunggu Doni menghampirinya.


Hampir sepuluh menit, ia berdiri bersandar pagar. Akhirnya sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di hadapannya.


"Maaf, lama menunggu. Ayo masuk." Doni tersenyum menyapa Siska. Gadis itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pula. Lalu mengitari mobil dan masuk.


"Sudah sejak tadi?" tanya Doni membuka obrolannya.


"Belum." Siska menggelengkan kepalanya.


"Wajah mu tampak ceria sekali?"


"Masa sih? Perasaan biasa-biasa saja deh, mas. Mungkin aku terlalu bahagia, karena hari ini mulai bekerja." balas Siska setelah mengernyitkan dahi beberapa saat.


Akhirnya mereka tiba di pelataran kedai ayam crispy yang tampak asri itu. Keduanya pun dan berjalan beriringan masuk ke dalam.


"Mas, aku nyapu dan mengepel dulu ya." tawar Siska sebelum diperintah.


"Okay." balas Doni sambil menautkan jari telunjuk dengan ibu jari. Matanya pun pakai acara mengedip sebelah. Membuat ketampanannya semakin bertambah.

__ADS_1


Siska segera berjalan mencari sapu, dan mulai menyapu ruangan itu. Lalu mengepel lantainya.


Setelah selesai, ia mengelap meja, kursi dan etalase yang digunakan untuk tempat menaruh ayam yang sudah di goreng.


Siska benar-benar berubah. Ia tidak lagi mementingkan kukunya akan rusak jika melakukan hal itu. Ia hanya ingin hidup lebih baik.


Sedangkan Doni sendiri, ia sedang mengulek sambel yang ada di cobek. Ia harus memiliki stok sambel yang banyak. Karena kebanyakan orang menyukai makanan yang pedas.


"Mas, ada cobek yang lain ngga? Aku bantuin ngulek."


Doni mendongakkan kepalanya. Melihat wajah Siska yang berubah glowing karena keringat.


"Kamu sudah menyelesaikan pekerjaan mu?"


"Sudah, mas. Aku sudah nyapu, ngepel, ngelap meja dan kursi. Sekarang tinggal bantuin mas Doni masak saja."


"Itu, cobeknya ada di rak paling bawah." balas Doni sambil menunjuk rak yang ada di sudut ruangan. Siska mengikuti arah telunjuk Doni. Setelah tahu, barulah ia bangkit berdiri dan mengambilnya.


Siska mulai mengulek cabai dengan penuh semangat. Hingga akhirnya tanpa sengaja matanya terkena cipratan cabai yang ia ulek sendiri.


Hal itu membuatnya menjerit. Dan dengan spontan mengucek matanya dengan kedua tangannya. Doni yang melihatnya seketika menepuk jidatnya.


Ia merasa gadis dihadapannya terlalu bersemangat. Bahkan semangatnya justru melebihi dirinya. Hingga akhirnya matanya harus terkena cipratan.


Doni menarik kedua tangan Siska. Lalu menyuruhnya diam. Dan ia meniup mata gadis dihadapannya. Tak hanya itu saja, Doni juga mengajak Siska bangkit berdiri dan berjalan menuju wastafel.

__ADS_1


Doni mencuci tangannya sendiri dan juga tangan Siska. Setelah benar-benar bersih, barulah ia menyuruh Siska membasuh mukanya dengan air bersih.


"Gimana? Sudah enakan?"


Siska menganggukkan kepalanya sambil mengerjapkan matanya.


"Mungkin kamu terlalu bersemangat. Jadinya mengenai matamu deh."


"Iya kali, mas. Ya sudah, kita lanjut lagi saja mengulek sambelnya. Nanti aku akan berhati-hati."


Mereka pun kembali mengulek sambel. Setelah selesai, kini giliran Doni menggoreng ayam. Sedangkan Siska memotong timun dan daun kol, yang akan digunakan untuk lalapan.


Semua sudah selesai. Kini saatnya Doni membuka pintu rolling door lebih lebar.


"Bismillah. Semoga laris ya Allah." gumam Doni.


Keduanya duduk sambil diam. Tapi dalam hati masing-masing berdoa, semoga segera ada pengunjung pertama.


Satu jam, dua jam, keduanya masih bisa bersikap tidak apa-apa. Setelah lebih dari tiga jam, barulah keduanya mulai merasa tak nyaman. Karena belum ada satu pun pengunjung yang datang. Dengus kesal mulai terdengar.


Dan akhirnya, terlihat sepeda motor yang terparkir di depan kedai mereka. Bagai bunga yang bersemi, begitulah ungkapan yang pas. Yang menggambarkan perasaan keduanya.


Tapi, keduanya agak kecewa. Ketika orang yang turun dari sepeda motor itu hanya menumpang tanya. Meskipun begitu, keduanya berusaha menjawab dengan seramah mungkin.


Setelah mendapatkan jawaban, orang yang bertanya tadi pamit pulang. Tapi belum juga sampai di ambang pintu, ia sudah memutar tumitnya. Dan kembali menghadap Doni. Sang owner kedai.

__ADS_1


❤️❤️



__ADS_2