
Dengan malu-malu Mala mendekati suaminya, yang tengah duduk di tepi ranjang. Tubuh laki-laki itu sudah polos, dan hanya ditutup oleh selimut putih miliknya.
Mahes menepuk selimut yang ada di atas tubuhnya. Pertanda menyuruh Mala duduk di tempat yang di maksud. Ibu hamil itu pun patuh. Duduk di depan suaminya.
Mahes melepas handuk yang melilit rambut istrinya, lalu menyampingkan rambut itu. Ia memutar wajah istrinya, hingga keduanya saling berhadapan. Selanjutnya, atraksi barongsai pagi itu siap di mulai.
Mala melayani suaminya dengan sangat baik, meskipun ia tengah hamil tua. Hingga pria itu mencapai puncaknya berulang kali.
Mahes tak ingin menjadi lelaki yang melupakan istrinya. Pria itu juga memberikan servis yang luar biasa bagi ibu hamil itu. Hingga keduanya sama-sama merasakan nikmatnya surga dunia.
Mahes merebahkan diri di samping istrinya. Keduanya saling mengambil nafas, karena kelelahan setelah melakukan atraksi barongsai tadi.
Saat Mahes memiringkan badannya, ia melihat lekuk tubuh istrinya yang semakin indah. Tangannya bergerilya di atasnya. Memainkan benda-benda yang menjadi candu untuknya.
"Aku curiga. Jika pegang-pegang seperti itu, tandanya mau nambah lagi." Mala melirik suaminya, yang tengah menyunggingkan senyum.
"Kamu tahu saja, sayang." kekeh Mahes sambil menaik turunkan alisnya.
"Astaghfirullah, mas. Bukan kah tadi kita sudah melakukannya sampai tiga ronde." Mahes justru terkekeh dengan ucapan istrinya.
"Kita kan masih muda. Jadi sehari seratus ronde pun aku sanggup."
"Apa!"
Mala membulatkan matanya, lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, bahkan sampai kepalanya tidak terlihat.
Ia ketakutan jika suaminya benar-benar akan melakukan seratus ronde dalam sehari. Akan jadi apa dirinya nanti. Sedangkan Mahes justru semakin terkekeh, melihat ketakutan di wajah istrinya.
__ADS_1
"Sayang, aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius seperti itu."
"Ngga mau. Nanti kamu bohong."
"Hei, memangnya suamimu ini pernah berbohong? Ini sudah hampir siang. Ayo kita mandi, lalu berangkat cek up. Aku ingin lihat keadaan bayi kita."
"Kamu saja yang mandi duluan." balas Mala, dengan badan yang seluruhnya masih tertutup selimut.
"Hem. Okaylah, kalau itu mau mu." balas Mahes, tapi tetap tak beranjak dari tempat tidurnya. Ide jahil, muncul di kepalanya.
"Aku berubah pikiran, sayang. Aku mau mandi dengan mu." ucap Mahes cepat, sambil menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya. Hingga memperlihatkan wajah masam istrinya.
"Ish, apa-apaan sih. Hobi banget menjahiliku."
"Tidak apa-apa dong. Namanya juga sama istri sendiri."
"Aku mau mandi sama kamu. Janji, deh. Tidak bakal main-main lagi. Kalau tidak... khilaf." sengaja Mahes menjeda ucapannya, karena ia semakin gemas melihat wajah chubby istrinya yang merah menahan malu.
Dengan sigap, ia mengangkat tubuh istrinya, dan berjalan menuju kamar mandi.
Sedangkan wanita hamil itu terus meronta-ronta dan minta dilepaskan. Bahkan, ia sampai memukul dada bidang suaminya.
Mahes tidak marah, dan justru membalasnya dengan kecupan di kening Mala. Setelah sampai di kamar mandi, dengan pelan Mahes meletakkan tubuh istrinya di dalam bathtub. Lalu memandikannya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dirinya.
Kini keduanya telah memakai baju ganti. Mahes dengan telaten membantu Mala mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hair dryer. Lalu menyisirnya sampai rapi. Tak lupa ia mengucirnya ke belakang. Lalu memakaikan jilbabnya.
"Nah, tuan putri sekarang sudah cantik." ucap Mahes memuji istrinya.
__ADS_1
"Terima kasih pangeran ku." balas Mala sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Ayo, sekarang kita sarapan dulu. Kasian anak dalam perut mu. Sudah olah raga, tapi belum sarapan."
Mala mengangguk patuh. Lalu keduanya berjalan beriringan. Keduanya saling melingkarkan tangannya di pinggang pasangannya.
"Perasaan tadi kita sudah lama berada di dalam kamar. Kenapa makanannya masih hangat semua?" gumam Mala sambil mengernyitkan dahi.
"Tadi aku minta tolong bibi untuk memasukkan ke microwave biar hangat." Mala menganggukkan kepalanya.
**
"Mas, bukan kah hari ini kamu sudah berjanji padaku. Akan membelikan ayam goreng crispy seperti kemarin?" Mala menagih janjinya, saat keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
" Iya. Tapi nanti setelah cek up."
"Tapi, kalau nanti tutup lagi gimana."
"Ya kita akan terus kesini, sampai kamu bisa menikmati ayam goreng crispy itu lagi. Coba terus sampai berhasil." Mahes tersenyum menjelaskan.
Ternyata seindah itu memiliki pasangan hidup. Tahu gitu, sejak dulu saja Mahes menikah.
Akhirnya, mereka tiba di rumah sakit. Mahes melingkarkan tangannya di pinggang istrinya lagi. Ia menyeimbangi langkah istrinya yang berjalan sedikit pelan.
Semua perawat dan dokter yang kebetulan berpapasan dengan keduanya, membungkukkan badannya penuh hormat.
Orang-orang yang sedang memeriksakan diri pun heran melihat hal itu. Mereka yakin seribu persen bahwa, Mahes dan Mala adalah orang penting di rumah sakit itu.
__ADS_1