Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
148. Kecelakaan kecil


__ADS_3

Ternyata tidak hanya menambah dua karyawan saja. Tapi Doni menambah jumlah karyawannya menjadi enam orang. Tiga orang untuk shif pagi, dan tiga orang untuk shif siang.


Shif pagi akan di mulai pada pukul delapan pagi sampai pukul empat sore. Sedangkan **** siang akan di mulai dari pukul satu siang sampai sembilan malam.


Siska yang dulu mengerjakan segala sesuatunya serabutan, kini telah ditetapkan oleh Doni menjadi kasir.


Tentunya dengan bayaran termahal diantara karyawan lainnya. Dengan alasan ia karyawan paling lama, dan memiliki tanggung jawab yang paling besar diantara yang lainnya.


Siska mengetahui jika ia mendapat gaji yang paling tinggi, saat ia akan ke dapur, dan tidak sengaja mendengar celotehan para karyawan. Saat itu mereka membicarakan soal gaji yang mereka dapat senilai dua juta perbulan.


Mengetahui hal itu, Siska mengirim sebuah pesan pada Doni untuk menanyakan kenapa ada perbedaan gaji. Dengan tegas Doni menjawab sesuai dengan keahlian dan tanggung jawab masing-masing.


Siska ingin mengembalikan selisih gaji itu, tapi Doni menolaknya. Gadis itu pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Akhirnya ia memanfaatkan uang gajinya untuk makan sehari-hari, ditabung, dan setiap bulannya ia membelikan sembako untuk Bu Mirna.


Bu Mirna merasa sangat senang dan terharu, ternyata menantunya itu benar-benar telah berubah. Perlahan rasa benci dihatinya terkikis dan berganti rasa sayang.


"Mas, apa besok aku boleh ambil libur?" tanya Siska saat Doni mengecek laporan keuangannya.


"Boleh, mau kemana memangnya?" Doni berhenti menatap ke layar laptop dan beralih menatap Siska yang ada disampingnya.


"Sudah empat hari ini Bu Mirna tidak berangkat kerja. Usianya semakin bertambah, aku takut saja terjadi apa-apa dengannya. Jadi aku ingin menengoknya."


"Baiklah, besok akan aku temani kamu."


"Jangan mas. Kalau Bu Mirna beneran sakit, rencana aku ingin seharian berada di rumahnya."


"Baiklah, besok pagi temani aku ke pasar dahulu. Lalu kamu aku antar ke rumahnya, dan sorenya aku akan menjemputmu lagi."

__ADS_1


"Apa itu tidak merepotkanmu, mas?"


"Tidak repot. Sebagai seorang bos, aku juga perlu memastikan keadaan karyawan ku semua baik-baik saja. Sudah jangan menolak. Aku mau melihat laporan keuangannya dulu. Tolong ambilkan buatkan jus sirsak."


"Baik." Siska bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur.


Saat sedang menuang jus ke gelas, seorang karyawannya menyenggol bahunya dengan sengaja. Sehingga gelas yang berisi jus itu jatuh ke lantai dan pecahan kacanya menancap di kaki Siska.


Argh...


Siska mengerang kesakitan, sedangkan karyawan yang menyenggolnya segera berlalu pergi.


Beberapa karyawan yang lain, yang ada di dapur mendekati Siska dan ingin membantunya.


Di meja kasir, mendengar suara sesuatu yang pecah, Doni bangkit berdiri dan berjalan dengan langkah lebar menuju dapur. Untuk melihat apa yang terjadi.


"Kenapa bisa terjadi?" tanya Doni sambil berjalan mendekat.


"Aku tidak sengaja menyenggol gelasnya hingga jatuh." dusta Siska.


Sebenarnya ia tahu siapa orang yang sengaja melakukan hal tadi. Tapi, ia hanya diam saja. Tidak ingin mencari masalah baru.


"Tahan ya. Aku akan mencabut pecahan gelasnya." titah Doni, dan Siska pun menganggukkan kepalanya.


Dengan hati-hati Doni mencabut pecahan gelas dari kaki Siska. Gadis itu kembali mengerang kesakitan, karena kakinya juga mengeluarkan darah segar.


"Ayo aku bawa kamu ke rumah sakit." dengan sigap Doni mengangkat tubuh Siska dan berjalan menuju mobilnya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Siska terus mendesis kesakitan. Doni yang melihatnya juga kasian. Akhirnya ia menepikan mobilnya.


"Lhoh, memangnya kita sudah sampai mas?"


"Belum. Tapi aku tidak tega melihat mu seperti itu. Lukanya biar aku balut pakai kain dulu ya."


Doni mengambil tisu dan berjongkok untuk membersihkan kaki Siska. Lalu menutup lukanya dengan sapu tangan.


Siska benar-benar sangat terharu dengan perlakuan yang diberikan bosnya.


Sesampainya di rumah sakit, Siska segera ditangani. Luka dikakinya dibersihkan dengan alkohol, lalu dijahit. Ia mendapat empat jahitan dikakinya.


Setelah selesai, keduanya berjalan menuju tempat penebusan resep obat. Walaupun agak sakit, Siska tetap berjalan seperti biasanya.


"Kamu duduk dulu ya. Biar aku yang tebuskan obatnya." Siska mengangguk.


Setelah itu, mereka berjalan menuju tempat pembayaran. Siska bangkit berdiri sambil merogoh saku celananya.


"Biar aku yang bayarkan." ucap Doni sambil berlalu pergi.


"Ayo, aku antar kamu pulang." ucap Doni setelah selesai membayar total biaya perawatan Siska.


"Jam kerja ku belum habis. Lagian sudah diobati lukanya. Aku bisa bekerja seperti biasanya mas. Lagian kerja ku juga lebih banyak duduk."


"Jangan ngeyel dan tenang saja, aku akan membayar mu full."


"Bukan masalah gaji, mas. Tapi aku tidak enak dengan karyawan yang lainnya."

__ADS_1


"Baiklah kalau itu mau mu." Akhirnya Doni membiarkan Siska tetap bekerja.


__ADS_2