
"Apa kamu sakit?" bisik Doni, dan Siska menggeleng. Lalu ia berjalan perlahan mengantar makanan itu.
"Silahkan." lirih Siska, mempersilahkan Mala dan Mahes untuk mencicipi makanan yang telah disiapkan.
"Heem. Bukan kah kamu istrinya Doni?" tanya Mahes, dengan ragu sambil mengingat-ingat.
Siska pun menganggukkan kepalanya. Hening sekian detik berlalu. Mala masih tak percaya, jika kini ia bertemu dengan istri mantan suaminya. Setelah sekian lama tidak bertemu.
Gemuruh di dada mereka masing-masing. Ingin banyak bertanya tapi sama-sama menyimpan gengsi. Tentu saja, jika mengingat masa lalu tersebut, membuat semua orang akan bersikap konyol dan saling membenci.
"Ma-maafkan atas perbuatan buruk ku di masa lalu."
"Kami sudah melupakannya. Semoga dengan begitu, almarhum suamimu tenang disana." ucap Mala, menahan rasa sesak di dadanya.
"Al-marhum? Suami?" ulang Siska dengan dahi yang mengerut.
"Apakah mas Doni sudah meninggal?" lirih Siska lagi.
"Lhoh, kamu kan istrinya? Masa tidak tahu?" ungkap Mahes, setengah tidak percaya.
Bagaimana pun juga, ia tidak akan mudah percaya dengan orang-orang yang telah melakukan kesalahan, atau pun perbuatan di masa lalu istrinya. Apalagi kali ini Siska bersikap lembut, sangat berbeda dengan yang dulu.
Mata Siska mulai berkaca-kaca. Jauh di dalam lubuk hatinya merasa bersalah pada suaminya. Karena gara-gara berhubungan badan dengannya, membuat suaminya itu tertular penyakit Gonore.
Beruntung Siska memiliki uang tabungan dan mobil waktu itu. Sehingga bisa di pakai untuk biaya berobat. Sedangkan Doni, ia tidak bisa berobat. Karena tidak memiliki uang yang cukup.
Bahkan rumah Doni pun telah dijual oleh Siska. Sehingga membuatnya sedih ketika mengingat hal itu. Doni yang melihat Siska bersedih, segera mendekatinya. Walau ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi.
"Siska, masih banyak yang harus kamu kerjakan. Tolong lebih cepat sedikit."
__ADS_1
Siska menganggukkan kepalanya, lalu bangkit berdiri.
"Permisi." lirih Siska pada Mala dan Mahes. Doni pun juga mengucapkan hal yang sama dengan Siska. Lalu berjalan mengekornya.
Siska menghapus air mata yang sempat lolos dari matanya. Lalu menghirup nafas dalam-dalam, agar beban yang menumpuk dihatinya hilang.
Bagaimana pun juga, ia sekarang berada di tempat kerja. Tak pantas baginya untuk menunjukkan kesedihannya.
Sesampainya di meja kasir, ia mengedarkan pandangannya menyapu ke setiap sudut ruangan. Untuk melihat, adakah pengunjung yang belum dilayani.
Tapi, sejauh mata memandang, semua pengunjung sudah mendapatkan pesanannya, dan terlihat sedang menikmati makanannya.
Lalu apa maksud Doni, yang mengatakan jika di dalam sedang sibuk dan perlu bantuan?
Siska pun memutar badannya dan berniat mencari Doni. Tapi ternyata laki-laki itu sudah berada di belakangnya.
"Ma-maafkan, mas."
"Maaf, Sis." ucap keduanya bersamaan.
"Apa yang harus aku lakukan mas?"
"Tidak ada."
"Hah! Tidak ada? Lalu, kenapa kamu menyuruhku masuk? Katanya tadi ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." protes Siska.
"Aku hanya tak ingin kamu terlihat bersedih seperti tadi."
Siska menyunggingkan senyum penuh ironi, ketika mendengar penjelasan Doni. Rasanya selama ia hidup hampir dua puluh tujuh tahun, tidak pernah ada orang yang memperhatikan, dan mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
Dan baru Doni, sang bos nya yang dengan terang-terangan mengatakan hal itu.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Doni mengernyitkan dahi.
"Tidak apa-apa kok, mas."
Siska meninggalkan Doni, dan berniat mencari pekerjaan yang bisa ia kerjakan. Laki-laki itu hendak mencekal lengan karyawannya, tapi seorang pembeli hendak membayar makanannya. Akhirnya, ia oun mengurungkan niatnya.
Sedangkan di luar. Mala yang tadi bersemangat untuk makan, mendadak nafsu makannya hilang.
Meskipun dalam hati ia sudah berniat melupakan segala kenangan buruk di masa lalunya. Entah kenapa, ketika bertemu dengan orang-orang itu, ada suatu rasa yang berbeda dihatinya.
"Sayang, aku tahu bagaimana perasaan mu. Ingat, kamu sedang mengandung. Jangan terlalu memikirkan hal hal yang tidak perlu untuk dipikirkan. Itu hanya akan merusak mood mu saja. Aku juga takut, jika suasana hatimu akan mempengaruhi calon bayi kita." Mahes menasehati dengan lembut istrinya.
Ia takut, jika sedikit saja ia salah bicara, bukannya istrinya tenang, tapi malah bertambah menjadi-jadi. Ia juga merangkul bahu istrinya, sambil mengusap perutnya.
"Minum dulu ya, habis itu makan."
Mahes mengambilkan jus jambu untuk istrinya, lalu mendekatkan sedotannya ke bibir istrinya.
"Ssrrtt... Ssrrtt." bunyi suara gelas Mala.
Karena terlalu terbawa perasaan, ibu hamil itu tak sadar, telah menyedot minumannya hingga tandas.
"Haus, Bu." ucap Mahes dengan suara mode genit, sehingga membuat Mala menarik senyum diwajahnya, lalu memukul lengan suaminya.
"Sudah, jangan banyak pikiran. Ayo, buruan makan. Sebelum ayam gorengnya melempem."
"Kamu pikir ayamnya berubah jadi krupuk." Mala tersenyum melihat suaminya yang terus melemparkan candaan.
__ADS_1