Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
88. Setelah Doni meninggal


__ADS_3

Kini Mala tengah duduk termenung di dekat jendela. Ia masih tidak percaya, jika mantan suaminya yang mengkhianati janji suci pernikahannya dulu, kini telah berpulang.


Begitu menyedihkan hukuman yang diberi oleh Tuhan padanya. Meskipun ia dulu membencinya, tapi sekarang ia begitu kasian padanya. Ia berharap, agar tidak ada laki-laki di dunia ini, yang berbuat sama seperti mantan suaminya.


Karena sejatinya, menikah itu menyempurnakan iman, melancarkan rezeki. Kita harus menyadari, jika setiap orang memiliki kekurangan masing-masing. Maka tidak boleh menghina atau merendahkan.


Mahes baru saja pulang dari masjid. Ia membuka pintu sembari mengucapkan salam, tapi istrinya itu diam tidak menjawab. Pandangannya terlihat menerawang menembus jendela kaca.


Ia mendekati dan meletakkan tangannya di kedua bahunya. Sehingga membuat wanita itu tersentak kaget. Lalu mendongakkan kepalanya.


"M-Mas, kamu sudah pulang." Mala sedikit kesulitan bicara. Karena masih teringat dengan kematian yang menimpa suaminya.


"Aku sudah mengucapkan salam, tapi kamu malah diam saja. Pasti ada hal yang kamu sembunyikan." ucap Mahes sambil mengerucutkan bibirnya. Terlihat manja. Membuat Mala menyunggingkan senyum gemas ke arahnya.


"Tidak ada apa-apa, kok." Mala menggelengkan kepalanya.


"Kamu lupa? Kita ini sudah menjadi suami-istri, tidak memiliki kedua orang tua pula. Kalau memiliki masalah di pendam sendiri, takutnya malah jadi boomerang. Bisa membuat kita jadi sakit."


"Aku, hanya memikirkan dengan apa yang menimpa, mas Doni."


"Kamu takut, aku akan berbuat demikian. Hem?" Mahes justru menaikkan satu alisnya, sehingga cukup menghilangkan suasana mendung di hati istrinya.

__ADS_1


"Aku hanya tidak menyangka, jika Tuhan terlalu berat menghukumnya." keluh Mala lagi.


"Ssstt. Jangan pernah sekalipun berkata seperti itu. Tidak boleh menyepelekan Allah. Bukan kah kita hidup harus mengikuti aturan-Nya. Mungkin Allah menakdirkannya seperti itu, agar siksanya di akhirat tidak terlalu berat. Atau hal itu menjadi penggugur dosa-dosanya, hingga saat di akhirat nanti ia tidak di siksa lagi. Dan justru bisa masuk surga. Kita tidak akan pernah tahu dengan apa yang akan terjadi pada kita, di akhirat nanti. Jadi kita tidak boleh menghakimi orang lain. Sekalipun ia pernah melakukan suatu kesalahan yang mungkin sulit untuk dimaafkan."


"Kamu benar, mas. Terima kasih ya sudah mengingatkan ku." Keduanya beradu pandang, lalu tersenyum.


**


Hari-hari yang sunyi dilalui Bu Mirna seorang diri. Segala yang ada pada dirinya, sudah berubah 180 derajat.


Ia yang dulu setiap waktu selalu menggunjingkan seluruh tetangganya, kini lebih memilih mengurung diri di rumah setelah mencari rongsokan.


Ya, kini ia harus menyambung hidupnya dengan mencari rongsokan. Karena sekarang kedua tulang punggungnya sudah meninggal.


Tapi ia tidak bisa menyumpal satu persatu mulut mereka. Yang bisa ia lakukan adalah menutup kedua telinganya. Seolah-olah tidak mendengar itu semua. Dan terus melanjutkan hidupnya.


Pagi itu, setelah menghabiskan sarapan. Ia berangkat berkeliling, sambil membawa karung.


Saat baru keluar dari pelataran rumahnya, ia melihat tetangganya yang dulu sering mengghibah dengannya, sudah berkumpul di salah satu rumah tetangganya.


Bu Mirna menyunggingkan senyum saat ia lewat di depan mereka. Mereka pun membalas dengan hal yang sama. Setelah Bu Mirna berjalan cukup jauh, mereka kembali membicarakan aibnya.

__ADS_1


Bu Mirna berjalan mengikuti langkah kakinya, sejauh mana kaki itu membawa pada rezekinya. Lewat barang-barang bekas.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya ia melihat tong sampah. Bergegas ia mendekatinya, dan mencari apa saja yang bisa diambil.


Ia kembali melanjutkan perjalanannya, ketika di tong itu sudah tidak ada yang bisa diambil.


Hampir seharian ia mengikuti langkah kakinya berjalan. Peluh menetes di wajahnya yang mulai berkeriput, dan menghitam karena sengatan matahari.


Bu Mirna duduk di bawah pohon yang rindang. Lalu meneguk air putih yang ia bawa dari rumah tadi. Tak jauh dari tempatnya duduk, ada seseorang yang baru saja membuang sampah.


Sebelum sampah itu di ambil orang lain, ia mendekatinya dan mengecek apa saja isinya. Matanya berbinar ketika melihat sisa makanan. Ia langsung membawa sisa makanan itu dan beberapa botol-botol plastik ke tempat duduknya semula.


Perutnya yang memang terasa sangat lapar, membuatnya cepat-cepat menghabiskan makanan itu, sampai ia tersedak. Buru-buru ia meneguk kembali minumannya.


Setelah makanannya habis, dan letih di badannya sudah berkurang, ia kembali melanjutkan perjalanannya.


Sepanjang perjalanan, ia terus mengingat suami dan anaknya yang telah lebih dulu meninggalkannya. Ia begitu mencintai kedua orang itu. Tapi takdir harus memisahkannya. Karena keserakahannya terhadap harta. Bibirnya bergetar, dan matanya mulai berkaca-kaca.


'Tuhan, ampuni dosaku. Karena aku, suami dan anakku meninggal. Tolong, ambil saja nyawaku sekarang. Agar aku bisa berkumpul dengan mereka. Dan tidak harus menderita di dunia ini lagi.' batinnya, dan akhirnya air matanya luruh membasahi pipinya.


❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2