
"Mas, pesen nasi ayam crispynya dua porsi ya. Sama minumnya es jeruk saja." ucap laki-laki itu. Membuat senyum mengembang di wajah Doni dan Siska.
"Baik, mas. Silahkan duduk." ucap Doni sopan dan sedikit kegirangan.
Ia pun segera menyiapkan makanannya. Sedangkan Siska menyiapkan minumannya.
Tak lama kemudian, pesanan customer pertama telah siap dan dihidangkan di meja. Siska dan Doni menunggu reaksi dua laki-laki itu mencicipi makanannya. Dengan wajah yang merah karena tegang.
Meskipun Siska dan Doni percaya dengan rasa masakan mereka yang enak, tapi belum tentu orang lain berkata enak.
Tak lama kemudian, kedua pria yang sudah mencicipi makanan itu, menganggukkan kepalanya sambil tersenyum puas.
Hal itu membuat Siska dan Doni sangat bahagia, dan hampir saja keduanya melompat kegirangan.
Salah satu pengunjung itu mendekat ke arah Doni. Padahal makanannya belum dihabiskan. Membuat sang owner sedikit mengernyitkan dahi bingung.
"Mas, saya pesan nasi ayam nya lima porsi lagi ya. Tapi di bawa pulang."
"Oh baik-baik, mas." Doni mengangguk antusias. Lalu dengan dibantu Siska, keduanya menyiapkan pesanannya.
Pengunjung pertama sudah meninggalkan tempat dan membayar. Siska segera memungut piring dan gelas kotornya.
Belum selesai ia membereskan meja, datang pengunjung lagi. Doni pun segera menyiapkan pesanannya.
Setelah Siska selesai mencuci piring, ia juga membantu Doni menyiapkan makanan nya. Keduanya bekerja sama melayani pengunjung. Yang setiap saat justru terus berdatangan.
Pukul dua siang, stok ayam sudah habis. Kedai pun segera di tutup oleh Doni.
__ADS_1
Tanpa di suruh, Siska kembali membersihkan ruangan. Menata meja dan kursi yang berantakan, karena ulah pengunjung yang sering terburu-buru.
Sementara Doni sendiri, menghitung omset penjualan di hari pertamanya. Ia geleng-geleng kepala, melihat nominal uang yang tak ia bayangkan sebelumnya.
Karena omsetnya mencapai tiga juta rupiah. Dengan kisaran untung sebesar satu juta delapan ratus ribu.
Setelah selesai menghitung uang. Doni mengecek stok bahan yang ada dalam freezer. Tak lupa ia pun mencatatnya. Karena rencananya ia akan langsung berbelanja untuk kebutuhan di hari esok.
Setelah selesai, Doni berniat membantu Siska yang tengah mencuci piring dan gelas kotor. Tapi ternyata gadis itu baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya.
Doni beralih pada ruangannya. Ternyata semua sudah rapi seperti sedia kala. Ia pun mengulas senyum. Sangat senang dan puas dengan hasil kerja Siska.
Siska yang telah selesai mencuci piring berniat mendekati Doni, dan bertanya apa lagi yang harus ia kerjakan.
Sedangkan Doni, yang merasa semua sudah beres, ingin mengajak Siska pulang. Akhirnya ia pun memutar tumitnya dan berniat memanggil Siska.
"Mas." "Sis." ucap keduanya bersamaan.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Doni terlebih dahulu pada Siska.
"Aku cuma mau tanya. Semua sudah selesai aku kerjakan. Terus sekarang, apa yang harus aku lakukan, mas?"
"Kamu mau menemani ku belanja untuk kebutuhan besok? Nanti sekalian aku antarkan kamu pulang."
"Mau, mas. Toh ini juga masih jam kerja saya." ucap Siska sambil melirik arloji di pergelangan tangan kanannya.
Doni benar-benar senang memiliki karyawan seperti Siska. Karena ia bisa mengerjakan segala sesuatunya dengan cepat. Dan bahkan sering bertanya jika pekerjaannya sudah selesai.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo. Kamu ambil tas mu dulu. Kita pergi sekarang."
Siska menganggukkan kepalanya, lalu berlari kecil mengambil tasnya yang ada di bawah meja kasir. Tak lama kemudian, ia sudah kembali menghampiri Doni.
Keduanya berjalan beriringan menuju mobil. Dan kendaraan roda empat itu pun melaju dengan kecepatan sedang.
Di tengah-tengah perjalanan, perut Siska berbunyi nyaring. Ia memejamkan matanya, karena malu suara perutnya itu di dengar oleh Doni.
Sedangkan Doni, seketika menepuk jidatnya. Ia merasa bersalah dengan Siska. Karena selama bekerja dari pagi hingga hari hampir sore, ia belum mempersilahkan Siska untuk sekedar minum atau bahkan makan.
"Sis, kita mampir makan dulu yuk?"
"Lhoh, bukannya kita mau belanja untuk kebutuhan besok, mas?"
"Aku laper." ucap Doni. Setelah mendengar bunyi perut Siska, laki-laki baru merasakan lapar.
"Boleh, mas. Makan bakso atau mie ayam saja."
"Hampir seharian kita kerja, masa makannya cuma mie ayam atau bakso? Nasi Padang saja, mau ngga?"
Siska berpikir sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia pikir harga nasi Padang, masih cukup ramah di kantongnya.
Bagaimana pun juga, ia harus bisa menghemat pengeluaran. Karena Doni akan memberinya gaji sebulan sekali.
Mobil berbelok menuju outlet nasi Padang. Setelah keduanya turun, mereka langsung memesan makanan.
Doni tertegun, melihat Siska yang hanya memesan nasi dengan sayur kari daun singkong, dan sambal. Ia tahu, pasti Siska sedang mode hemat uang. Karena Siska sempat bercerita tentang kehidupannya kemarin.
__ADS_1
❤️❤️