
Kali ini tidak perlu menunggu lama, pembeli pertama kedai ayam crispy milik Doni, sudah datang. Sang owner dan sang karyawan segera melaksanakan tugasnya sebagaimana hari kemarin.
Semakin siang, pengunjung di kedai Doni semakin bertambah dan semakin ramai. Keduanya semakin mempercepat pekerjaan mereka, agar semua pengunjung bisa cepat mendapatkan pesanannya.
"Siska." sapa mbak Ima dengan senyum merekah.
"Hai, mbak." balas Siska ramah, pada tetangga kostnya.
"Ternyata disini ya tempat kerja mu. Lumayan ramai juga ya, Sis." gumam mbak Ima sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
"Iya, mbak. Alhamdulillah. Kamu kesini sama siapa mbak?"
"Sama teman-teman. Eh iya, aku pesan nasi ayam crispynya empat ya. Sama minumnya lemon tea. Aku ada di meja pojok itu."
"Baik, mbak. Tunggu sebentar ya."
"Hem, okay."
Siska segera berlalu ke belakang untuk menyiapkan pesanan Mbak Ima. Tak berselang lama, ia sudah mengantarkan minuman mbak Ima, ke mejanya. Sedangkan Doni tengah menyiapkan makanannya.
Tak berapa lama pesanan Mbak Ima pun jadi. Siska yang mengantarkannya menuju meja pembeli.
"Ini pesanannya ya, mbak. Bila ada kritik dan saran, bisa beri tahu kami. Dengan senang hati kami akan menerimanya." ucap Siska, saat dirinya meletakkan empat porsi makanan di meja, mbak Ima.
__ADS_1
"Beres, Sis." mbak Ima mengedipkan sebelah matanya.
Mbak Ima dan teman-temannya mulai mencicipi makanannya, sambil bercakap-cakap.
Satu persatu dari mereka mulai memuji rasa masakannya yang enak. Ayamnya benar-benar crispy, bumbunya meresap ke dalam, dan harganya ramah di kantong. Sambalnya sangat mantap dan melimpah.
Terlihat mereka menganggukkan kepalanya setelah benar-benar makanan itu habis ditelan. Seperti sangat puas.
Setelah mbak Ima dan teman-temannya menyelesaikan makan siangnya, ia membayar total tagihannya. Tak lupa ia juga memuji rasa masakannya yang benar-benar enak, dan harganya ramah dikantong.
Siska sangat merasa senang, ketika mendengar pujian yang dilontarkan untuk bos nya. Mbak Ima pun berjanji akan sering-sering makan siang di kedai itu.
Setelahnya, mbak Ima segera berlalu pergi. Karena dibelakangnya sudah ada pengunjung yang antri untuk memesan makanan.
Siska segera menutup pintunya, agar pembeli tidak merasa kecewa. Ia dan Doni pun mengerjakan hal yang sama seperti hari kemarin.
Satu jam lebih, akhirnya semua pekerjaan selesai. Seperti hari kemarin pulalah Doni mengajak Siska untuk belanja dan mampir membeli makanan.
"Siska, maafkan aku ya. Dua hari ini aku selalu mengabaikan jam istirahat mu. Sehingga kamu tidak bisa makan siang." ucap Doni ketika keduanya tengah duduk sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.
"Tidak apa-apa, mas. Aku justru bersyukur, karena baru buka dua hari saja, sudah sangat ramai pengunjung. Berarti rasa masakan mas Doni tuh enak banget. Dan tentunya sangat cocok di lidah pengunjung."
Siska mengulas senyum pada bos nya. Walaupun tidak bisa dipungkiri, jika badannya sangat terasa capek. Ia memaklumi dirinya sendiri. Karena sejak dulu, tak pernah bekerja yang cukup lama dan berat.
__ADS_1
Tak berselang lama, pesanan mereka datang. Es lemon tea, dan disusul nasi ayam crispy.
"Mas, aku baru nyadar nih. Kamu kan jualannya ayam crispy. Kenapa belinya juga ayam crispy?" Siska terkekeh kecil sebelum mulai menyuap makanan ke mulutnya.
"Sstt... Jangan keras-keras." Doni menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri.
Seketika Siska menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Ia tak enak jika ada kata-katanya yang salah.
"Maaf ya, mas."
"Tidak apa-apa. Sekarang kamu rasakan, bagaimana rasa makanan mu. Nanti kasih tahu aku ya, kalau kita sudah masuk mobil." bisik Doni sambil mendekatkan diri di telinga Siska.
"Baik, mas." Siska menganggukkan kepalanya patuh, pada sang atasan.
Mereka pun segera menyelesaikan makannya. Karena memang perut mereka sangat lapar. Setelah menyelesaikan makan dan membayar, mereka kembali masuk ke mobil. Doni pun mulai membuka cerita lagi.
"Nah, Sis. Sekarang kamu boleh cerita soal makanan yang kita makan tadi. Semuanya juga sih kalau perlu. Termasuk soal tempatnya."
Siska menoleh sesaat ke arah sang atasannya, lalu mengernyitkan dahi.
"Harus jujur ya?" Doni menoleh ke arah Siska yang masih menatapnya dengan dahi yang berkerut. Laki-laki itu pun mengulas senyum.
"Ya, iyalah. Masa ya iya dong." balas Doni, setengah bergurau. Yang membuat Siska terkekeh.
__ADS_1
"Em, menurut ku ya, mas. Nasinya tadi agak lembek sedikit. Ayamnya crispy di luar, terlihat sudah benar-benar matang, padahal dalamnya agak sedikit kurang matang. Nah, minumannya kurang manis dikit lagi mas." celoteh Siska sambil menyipitkan matanya, dan jari telunjuk dan jari jempolnya dikatupkan erat. Tingkahnya membuat Doni terkekeh.