
"Memang kamu mau mengajakku kemana, mas?"
"Kita cari barang-barang seserahan untukmu."
"Aku serahkan hal itu sama kamu, mas. Semampu kamu saja, mau memberikan padaku apa. Aku akan menerimanya dengan senang hati." Siska menyunggingkan senyum pada Doni.
Gadis itu tidak mau memberatkan calon suaminya. Karena sebaik-baik wanita adalah yang meminta mahar paling sedikit. Agar tidak memberatkan pihak laki-laki.
Tapi Doni juga ingin memberikan yang terbaik untuk Siska. Karena sebaik-baik pria, adalah mereka yang memberi terbaik untuk wanitanya.
Doni memaklumi keinginan Siska. Akhirnya ia pun berangkat sendiri untuk membeli barang-barang seserahan dan mengurus kepentingan lainnya yang berhubungan dengan pernikahannya.
**
Kasak-kusuk tentang pernikahan Siska dan Doni sudah tersebar di kalangan karyawan kedai ayam. Mereka turut bahagia atas berita itu. Kecuali satu orang saja, yakni Mira.
Gadis itu semakin membenci Siska. Baginya Siska itu hanyalah wanita penggoda bos nya, dengan berpakaian sok alim.
**
Dua minggu telah berlalu dengan cepat. Dan hari ini adalah hari pernikahan Doni dan Siska.
Di pelataran rumah Bu Mirna telah di pasang sebuah tenda tarub. Untuk menampung tetangga yang turut menghadiri acara pernikahan Siska.
__ADS_1
Satu persatu tamu undangan berdatangan, mulai memenuhi pelataran rumah Bu Mirna, yang tak seberapa luasnya.
Tamu yang datang memang hanyalah tetangga sekitar. Karena baik Bu Mirna ataupun Siska hanyalah orang biasa yang tidak memiliki banyak teman.
Tabuhan rebana menambah semarak acara pada malam hari itu. Suara para tamu undangan yang tengah berbincang-bincang dengan rekannya lain, saling bersahut-sahutan dan tak mau kalah dengan suara rebana tadi. Hal itu membuat jantung kedua mempelai semakin berdegup kencang.
Di dalam rumah, Siska dan Doni sedang di rias di tempat yang berbeda. Tak lama kemudian, Doni sudah selesai. Sedangkan Siska tinggal sedikit lagi akan selesai di rias.
Penghulu datang dan berbincang-bincang sejenak dengan ketua RW, sebelum waktu yang ditentukan untuk ijab qobul dimulai.
Beberapa menit kemudian, acara pun siap dimulai. Ketua RT memanggil Doni untuk keluar, dan menghadap penghulu, yang sudah terlebih dahulu duduk di tempat akad yang sudah disediakan.
Penghulu itu memberikan beberapa informasi pada Doni, sebelum akhirnya proses ijab qobul dimulai.
Penghulu dan Doni berjabat tangan, lalu mengucapkan ikrar ijab qobul.
Wanita yang tengah duduk di depan meja rias di dalam kamarnya, tak kuasa menahan rasa harunya. Hingga ia menitikkan air mata.
Jika dulu ia menikah karena hanya sebatas untuk mencari orang yang mau menghidupinya, kini ia meniatkan diri untuk menikah karena ibadah.
Bu Mirna yang berada di dekat Siska, juga tak kuasa menahan rasa harunya. Hingga ia juga ikut menitikkan air mata. Akhirnya kedua wanita itu saling berpelukan.
"Semoga rumah tanggamu kali ini sakinah, mawadah dan warohmah ya, Sis."
__ADS_1
"Aamiin. Terima kasih Bu doanya."
Siska dengan di dampingi Bu Mirna keluar dari kamar, dan menuju tempat ikrar. Gadis itu berjalan sangat lambat, karena kakinya bergetar. Seakan apa yang ada dihadapannya saat ini adalah sebuah mimpi.
Doni melihat Siska dengan takjub, ketika gadis itu sudah sampai di tempat ikrar. Terlihat Siska memakai kebaya brokat berwarna putih, jilbab berwarna senada, dan bawahannya menggunakan kain jarik bermotif ulir warna coklat, hitam dan putih.
Sedangkan Siska sendiri melihat penampilan bos nya, yang kini sudah menjadi suaminya dengan tatapan takjub. Pria itu memakai stelan jas dan celana berwarna putih juga.
Keduanya menandatangani dokumen pernikahan. Lalu penghulu mempersilahkan keduanya untuk bersalaman.
Pasangan pengantin baru itu memiringkan badannya, lalu Siska mencium punggung tangan Doni untuk pertama kalinya sebagai seorang istri.
Sedangkan Doni mengecup ubun-ubun Siska sembari mendoakannya sebagai seorang seorang suami.
Setelah itu keduanya duduk di pelaminan, sembari mengikuti acara selanjutnya.
Satu persatu acara telah dilalui. Saat prosesi sungkeman, Siska benar-benar tak kuasa menahan tangisnya. Karena mengingat ibunya yang sudah lama meninggal. Dan kini justru sungkem dengan ibu mertuanya.
Seperti halnya Siska, Bu Mirna juga terisak. Karena menantunya sungkem dengannya, dalam rangka meminta restunya untuk menikah dengan laki-laki lain.
Setelah acara sungkem, dilanjutkan dengan acara yang lainnya. Sepanjang acara, kedua mempelai itu tampak terdiam.
Tapi hati keduanya terus saja berdegub kencang. Saat tatapan keduanya saling beradu, seulas senyum keduanya berikan pada pasangannya.
__ADS_1
Hingga akhirnya tiba di penghujung acara. Kedua mempelai dan Bu Mirna berdiri, sambil bersalaman dengan seluruh tamunya.
Beberapa tamu pria, membantu membersihkan tempat acara. Sedangkan Siska dan Doni masuk ke dalam rumah.