
Akhirnya, Mala dan Mahes telah menyelesaikan pekerjaannya. Membuat taman bunga mawar. Setelah itu, bergegas keduanya mandi.
"Sayang, dari pada berdesakan siapa yang mau mandi duluan. Lebih baik kita mandi bersama." ujar Mahes sambil menaikkan satu alisnya.
"Sepertinya aku tahu apa yang akan kamu lakukan, mas. Pasti tidak hanya sekedar mandi bersama." Mala pun menaikkan sebelah sudut bibirnya. Yang membuat Mahes meringis melihat senyumannya.
"Hanya pijat plus-plus sebentar. Ayo masuk." ajak Mahes, sambil merangkul kan tangannya di bahu sang istri tercinta.
"Aku sudah hamil tua lho, mas."
"Justru itu, kita harus selalu mengingat apa kata dokter. Kita boleh mengintipnya, agar calon bayi kita tahu mana jalan lahirnya. Jadi saat mau keluar, tidak tersesat."
Mala semakin terkekeh mendengar jawaban suaminya. Yang sedikit berbumbu aneh.
Mahes menyalakan kran airnya, lalu menyemprotkan aroma terapi ke dalam bathtub. Sambil menunggu air penuh, keduanya menggosok gigi.
Setelah itu, Mahes membantu istrinya membuka baju. Dan memasukkannya di dalam bathtub dengan hati-hati. Barulah dirinya menyusul.
Mahes duduk di belakang Mala. Ia memeluk tubuhnya istrinya yang mengembang di bagian tertentu dengan erat dan gemas.
"Mas, aku belum memakai sabun." ucap Mala merasa malu dan tidak percaya diri, dengan bau badannya.
"Tenang sayang, meskipun kamu belum mandi tetap di hidung ku, kamu berbau wangi."
"Kamu selalu berkata gombal. Tolong ambilkan sabun itu, aku mau menggunakannya."
Mahes meraih sabun yang ada di dekatnya, lalu mengusap ke tubuh istrinya. Setiap inchi tubuh istrinya, tidak ada yang terlewat dari sasaran sabun nya.
__ADS_1
Bahkan, karena ia tidak dapat menahan gejolak di dadanya, Mahes meremaas kantong asi milik istrinya. Setelah itu, ia meminta Mala untuk menyabuni badannya.
Tanpa di suruh, Mala juga melakukan hal yang sama, seperti apa yang dilakukan suaminya padanya. Agar suaminya juga terpuaskan.
Dan di kamar mandi itu, akhirnya keduanya saling memuaskan. Hingga beberapa ronde keduanya melakukannya.
Setelah satu jam lebih keduanya melakukan adegan panas di dalam kamar mandi, kini mereka sudah selesai. Dan tengah bersiap-siap.
Mahes yang masih melilitkan handuk sebatas pusar ke bawah, membantu Mala mengeringkan rambutnya. Setelah itu, ia juga membantu istrinya itu memakai jilbabnya.
Kini penampilan istrinya sudah rapi dan wangi. Mahes pun mengambil baju ganti dan memakainya. Tak berapa lama kemudian, penampilannya pun sudah tampak rapi.
Keduanya berjalan keluar kamar, menuju dapur. Mahes tak ingin melewatkan kesempatan sarapan pagi dengan istrinya.
Roti panggang selai coklat, segelas teh dan susu ibu hamil rasa strawberry menjadi menu sarapan mereka pada pagi hari itu.
"Silahkan nyonya Mahesa Sadewa." ucap Mahes, saat membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Mala menyunggingkan senyum, melihat perlakuan suaminya yang sangat hangat padanya.
Mahes melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Agar istrinya bisa lebih leluasa melihat pemandangan sekitar.
Setelah hampir satu jam, keduanya tiba di sebuah supermarket yang terkenal di kota itu. Mata Mala berbinar melihat deretan sepatu bayi yang di pasang di etalase. Dan begitu terlihat jelas dari luar.
"Mas, aku ingin kita kesana dulu." Mala menunjuk store perlengkapan bayi itu.
"Okay, ayo kita masuk kesana dulu kalau begitu."
__ADS_1
Mahes pun menyambar tangan istrinya, dan mengajaknya ke store yang dimaksud.
Di dalam store itu, mata Mala kian membulat. Karena melihat keindahan dan kelucuan dari semua produk bayi.
Mahes terus berjalan di belakang Mala. Ia akan berbicara jika Mala meminta pendapatnya.
Seperti saat itu, ibu hamil itu meminta pendapat Mahes. Ingin membeli sofa baby yang berwarna biru dengan motif bulan dan bintang atau motif kodok ngorek.
"Dua-duanya bagus sayang. Bagaimana kalau kita beli semuanya saja."
"Beneran boleh beli dua?" tanya Mala memastikan.
"Ya iyalah. Dari pada bingung mau beli yang mana dulu."
Mala tersenyum, lalu memasukkan dua sofa baby itu ke dalam kereta dorongnya. Setelah itu keduanya kembali melihat-lihat barang yang lainnya.
"Ingin beli sepatu, tapi kita tidak tahu jenis kelamin anak kita apa." gumam Mala dengan raut wajah sedih.
"Beli dua jenis saja sayang kalau kamu bingung."
"Mas, kamu selalu menyuruhku beli sepasang melulu. Memang anak kita akan terlahir kembar?" Seloroh Mala.
"Wah, boleh juga sayang kalau kamu melahirkan bayi kembar. Sekali dayung, langsung dua, tiga pulau terlampaui." Mahes menimpali ucapan istrinya dengan binar bahagia.
Namun tak urung, Mala kembali mengikuti perkataan suaminya. Setelah itu, keduanya kembali berjalan dan melihat-lihat barang lainnya.
Hampir dua jam keduanya berada di store perlengkapan bayi. Dan kini mereka telah menyelesaikan misi membeli perlengkapan bayi. Tinggal membawanya ke kasir dan membayarnya.
__ADS_1
Tampak wajah Mala yang berbinar bahagia, melihat hasil belanjaannya hari itu. Begitu juga dengan Mahes.