Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
139. Pertanyaan yang memalukan


__ADS_3

Mala mengikuti perintah sang dokter, untuk mengejan. Ia berusaha sekuat tenaga, hingga giginya bergemerutuk.


Mahes yang ada di sampingnya sampai ikut meringis, merasakan rasa sakit yang di derita istrinya ketika melahirkan.


"Huh." Mala membuang nafas, karena belum berhasil mendorong bayinya keluar.


"Ayo, sayang. Kamu pasti bisa. Semangat." Mahes menyemangati istrinya dengan berapi-api.


"Ayo, bu. Kita coba lagi ya." Mala mengangguk, lalu kembali mencoba.


Setelah sekian menit berlalu, Mala berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan bayinya. Akhirnya perjuangannya itu tidak sia-sia.


"Oek... Oek."


Suara tangis bayi menggema memenuhi seluruh ruangan. Semua yang ada di ruangan itu berucap syukur.


Mala memejamkan matanya sejenak sambil menyunggingkan senyum. Ia sangat bahagia, bisa melahirkan buah cintanya dengan laki-laki yang dicintainya.


Bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu di letakkan di dada Mala, oleh seorang perawat.


Mahes mengulas senyum, melihat istrinya yang tengah tersenyum memeluk pelan bayi di atas dadanya.


Setelah berada sejenak di pelukan ibunya, bayi itu di ambil oleh perawat untuk dibersihkan darahnya dan di beri pakaian yang pas.


Tak lama kemudian, bayi itu sudah rapi dan siap diserahkan pada Mahes untuk di adzani.


Dengan pelan, Mahes menerima sesosok makhluk mungil yang sungguh menggemaskan itu. Lalu mengadzani nya. Setelahnya, ia mengecup kening bayinya dengan begitu dalam.


"Sayang, terima kasih. Kamu sudah mau berjuang untuk bayi kita." Mahes mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya. Mala pun tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


"Maaf tuan, semua sudah beres. Apakah nyonya akan di pindahkan ke kamar sekarang?" tanya dokter dengan hati-hati, karena takut merusak momen sakral direkturnya.


"Iya. Pindahkan ke kamar VVIP, sekarang."


"Baik, tuan." ucap sang dokter sambil membungkukkan badannya.


Para perawat bersiap untuk mendorong Mala. Mahes pun ikut mendorong istrinya.


Mereka memakai lift khusus, sehingga cepat sampai ke kamar VVIP yang dituju.


Ruangan yang bernuansa serba putih dan abu-abu itu, akan menjadi tempat tinggal mereka sementara waktu. Sampai Mala dan putranya dinyatakan sehat.


"Dokter, bolehkah setelah melahirkan istri saya makan? Saya takut tenaganya habis saat melahirkan tadi." tanya Mahes dengan polosnya.


Dokter itu pun mengulas senyum sebelum menjawab.


"Tentu saja boleh, tuan. Makan dan minum boleh dilakukan oleh ibu yang baru saja melahirkan."


"Sayang, kamu mau makan apa? Spaghetti, pizza, ayam bakar, kepiting saus tiram..."


"Makam kamu saja." potong Mala cepat, yang membuat Mahes seketika terdiam.


Pria itu tiba-tiba teringat akan hal yang akan dia lakukan, sebelum istrinya melahirkan. Tapi sepertinya ia harus menunda keinginannya itu untuk waktu yang belum bisa dipastikan. Karena istrinya baru saja melahirkan.


"Ah, sayang. Kamu mengingatkan ku pada hal tadi. Tapi sepertinya aku harus berpuasa." cetus Mahes dengan wajah sendu.


Pasangan suami-istri itu tidak menyadari, jika masih ada Dokter dan perawat yang mendengarkan celotehan mereka. Merasa tidak nyaman, team medis itu segera ijin keluar.


"Maaf tuan, nyonya. Kami ijin keluar, jika memang tidak ada yang di butuhkan lagi. Agar nyonya dan bayinya juga bisa beristirahat."

__ADS_1


"Oh, iya dokter. Terima kasih." balas Mahes.


Dokter dan perawat itu membungkukkan badan pada Mala dan Mahes, lalu memutar tumit dan melangkah.


"Tunggu dokter." cegah Mahes.


Dokter dan perawat itu pun segera menghentikan langkahnya, dan berbalik.


"Ada apa, tuan?"


"Tadi istriku itunya di jahit berapa? Terus, kami harus menunggu berapa lama untuk bikin anak yang kedua?"


Mala membulatkan matanya, karena mendengar pertanyaan aneh yang dilontarkan suaminya. Wanita itu pun segera menarik pergelangan tangan suaminya.


"Ada apa, sayang?" tanya Mahes tanpa rasa bersalah.


Sementara dokter dan para perawat, menelan saliva. Kaum pria memang tak bisa berpuasa terlalu lama, untuk soal yang intim seperti itu.


"Pertanyaan mu, sungguh membuatku malu." bisik Mala.


"Tidak apa-apa. Kita itu harus terbuka dengan dokter. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Iya kan, dok?" Mahes menoleh pada dokter wanita itu. Dan wanita berseragam putih itu menganggukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana dok? Jawaban pertanyaan saya tadi."


"Istri anda hanya di jahit dua. Jika tidak digunakan untuk aktivitas yang berat, maka kemungkinan lukanya akan cepat kering."


"Lalu, kapan kami boleh berhubungan lagi?"


"Kami perlu melakukan pengecekan saat kontrol nanti. Barulah bisa memberi jawaban yang pasti. Tapi, paling tidak sebulan sudah bisa berhubungan badan lagi."

__ADS_1


"Seperti puasa di bulan suci Ramadhan ya, sebulan." gumam Mahes, sambil sejenak berpikir.


Hatinya ingin menjerit dan menangis, harus menunggu selama itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus bersabar. Jika tidak bersabar dan langsung main trabas saja, bisa-bisa jalan menuju goa bisa ambrol ia lewati.


__ADS_2