
Siska dan Doni memasuki kamar yang dulu pernah dipakai almarhum Doni, anaknya Bu Mirna. Tentu saja, sebelum menggelar acara pernikahan, kamar itu sudah dibersihkan.
Bahkan seluruh barang-barang peninggalan almarhum Doni, dikeluarkan dari kamar. Dan diganti dengan barang-barang yang baru.
Saat memasuki kamar, Doni mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang tidak luas itu. Lalu beralih pada Siska yang masih berdiri dihadapannya, namun membelakanginya.
Laki-laki yang sudah cukup matang usianya itu, lalu memeluk Siska dari belakang dengan erat. Ia meletakkan dagunya di samping bahu Siska.
Hal itu membuat jantung Siska kembali berdegub kencang. Teringat masa lalunya, saat pertama kali ia menyerahkan kesuciannya pada pria hidung belang.
Gadis itu menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya pelan-pelan. Mencoba untuk mensugesti dirinya sendiri, bahwa sekarang ia sudah menikah dengan pria yang baik.
Maka dari itu ia juga harus bisa bersikap baik. Ia harus bisa melakukan kewajibannya dengan baik sebagai seorang istri.
Jika dulu ia melakukan hubungan suami-istri sebelum menikah dan mendapat dosa, kini ia akan melakukan hubungan suami-istri dan mendapat pahala.
Siska membalikkan tubuhnya, sehingga kini ia dan suaminya saling beradu pandang.
"Untuk yang kesekian kalinya, aku mengucapkan terima kasih padamu, mas. Sudah mau menjadikan ku seorang istri. Semoga kamu bisa membimbing ku dengan baik."
"Sama-sama sayang. Semoga kamu juga mendoakan ku, agar bisa menjadi suami yang baik untukmu." Keduanya lantas menyunggingkan senyum terbaiknya.
Perlahan Doni mulai mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Siska mulai memejamkan matanya, bersiap suaminya akan melakukan sesuatu padanya.
__ADS_1
Dan benar saja, Doni mulai mencicipi bibir merahnya. Semakin lama semakin dalam, hingga membuat Doni mulai bergejolak.
Keduanya berpelukan erat, dan aktivitas bibir belum juga berhenti, hingga perlahan Siska kekurangan oksigen. Barulah mereka saling mengurai pelukannya.
"Apa kamu bersedia melayani ku malam ini?" tanya Doni dengan suara yang mulai parau.
"Tentu saja. Sekarang kita sudah resmi menikah, tak ada alasan ku untuk menolak mu. Tapi, kita bersih-bersih dulu."
"Oh, baiklah." Balas Doni dengan suara yang berat. Pria itu segera melepas baju pengantinnya, lalu mengganti dengan kaos oblong dan celana pendek.
Sedangkan Siska duduk di depan meja rias, dan melepas atribut yang menempel di seluruh badan.
Melihat istrinya yang belum selesai melakukan aktifitasnya, Doni pun membantunya.
Setelah selesai, Siska pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Dan ketika melewati depan kamar Bu Mirna, ia berhenti. Karena dipanggil oleh mertuanya itu.
"Sis."
"Iya, Bu. Ada apa?" Siska terlihat sedikit cemas, melihat ekspresi Bu Mirna yang serius.
"Jika suamimu meminta haknya malam ini, layani dia dengan sebaik-baiknya. Lupakan kejadian buruk di masa lalu mu. Semoga kalian cepat dikaruniai momongan. Agar ibu juga bisa membantu mengurus anak kalian. Walaupun bukan cucu ibu, karena tidak ada darah yang mengalir ke tubuh anakmu. Tapi ibu sudah menganggap anakmu sebagai cucu ibu sendiri."
Siska menyunggingkan senyum, lalu memeluk Bu Mirna. Ia kembali terisak sambil mengucapkan terima kasih. Bu Mirna mengusap pelan punggung menantunya.
__ADS_1
"Sudah, jangan kebanyakan menangis. Segera bersih-bersih, lalu masuk kamar."
"Baik, Bu." balas Siska sambil mengurai pelukan, dan berlalu pergi.
Siska mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya yang terasa lengket. Ia memastikan badannya benar-benar bersih dan wangi, agar percaya diri dalam melayani suaminya.
Setelah selesai, ia kembali ke kamar dan melihat suaminya tengah duduk di tepi ranjang tempat tidur, sambil menatap handphone.
"Mas, aku sudah selesai. Sekarang giliran mu." ucap Siska sambil mengambilkan handuk untuk Doni, di dalam almari.
"Terima kasih, sayang. Tunggu aku ya, jangan tidur dulu." pesan Doni sebelum berlalu pergi. Siska hanya membalas dengan senyuman.
Setelah Doni keluar, Siska membuka handuk yang menutup rambutnya yang masih setengah basah. Lalu menyisirnya. Setelah itu, ia mengambil baju dinasnya dari dalam almari.
Sejenak ia duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan kain tipis yang ada dalam pangkuannya.
"Jika dulu aku memakai baju seperti ini untuk menyenangkan pria hidung belang dan untuk mendapatkan uang. Maka sekarang aku memakai baju ini untuk menyenangkan suamiku dan berharap mendapatkan pahala." gumam Siska.
Lantas gadis itu mengganti pakaiannya dengan baju dinasnya, lalu menyemprotkan parfum ke beberapa titik di tubuhnya dan kembali menyisir rambutnya.
Ketika terdengar suara pintu dibuka, Siska menoleh ke arah pintu. Begitu juga dengan Doni yang pandangannya langsung tertuju pada Siska yang masih duduk di depan meja rias.
Doni dibuat menganga dengan penampilan Siska pada malam hari itu. Terlihat wanita itu memakai lingerie berwarna merah. Yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya, karena ia tidak memakai dalaman sama sekali.
__ADS_1