Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
61. Move on ala Doni


__ADS_3

Sementara itu, di dalam kamar Doni segera membuka paket yang diserahkan oleh ibunya tadi. Setelah berhasil merobek bagian pinggir, ia menarik selembar kertas yang terlipat rapi, lalu mulai membaca bait kalimat.


"Hua!" tangisnya pecah seketika, ketika ia benar-benar resmi bercerai dengan Kemala Ayu.


Padahal baru saja ia bertemu dengannya. Dan ada keinginan untuk mendekatinya kembali. Karena penampilannya sangat berubah. Terlihat kembali cantik.


Wanita kaya raya yang cacat, dan telah ia khianati cintanya demi menikahi wanita tuna susila, yang justru tidak bisa diharapkan apa-apa.


"Don, buka pintunya!" seru Bu Mirna lagi, ketika terdengar suara jerit tangis anak laki-laki satu-satunya.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pintu terbuka. Tampak Doni berlinangan air mata.


"Kamu ngapain sih, berisik sekali. Anak laki-laki pakai acara menangis segala." Bu Mirna melipat kedua tangan sambil berdiri di ambang pintu. Tapi Doni masih sesenggukan belum bisa menjawab.


Bu Mirna menyenggol Doni sedikit keras, sehingga membuatnya sedikit terhuyung, karena hendak masuk ke kamarnya.


Ia memindai seisi ruangan yang tampak luar biasa semrawut dan amburadul, bak kapal pecah terkena tsunami. Lalu menemukan kertas yang ada di lantai.


"Kamu sudah resmi bercerai dengan wanita cacat itu?" tanya Bu Mirna setelah membaca surat itu.


Doni mengangguk, lalu menghambur ke pelukan ibunya dan kembali meluapkan tangisnya. Bu Mirna merasa jijik pada anaknya. Lalu dengan cepat melepaskan pelukan itu.


"Doni! Apa-apaan sih kamu. Ibu ngga suka kamu memeluk ibu seperti ini. Lepaskan!" dengan sekuat tenaga, Bu Mirna berhasil melepaskan pelukan itu.

__ADS_1


"Ibu. Kenapa ibu tega sih sama Doni. Padahal Doni cuma ingin memeluk ibu karena semua istri ku tidak sayang dengan ku lagi." ucap Doni di sela-sela isak tangisnya.


"Heh, Doni! Dengarkan ibu baik-baik. Kamu itu laki-laki, jangan cengeng. Kalau dua wanita menolak mu, pasti masih ada berjuta-juta wanita yang siap menerima kehadiran mu. Asalkan, kamu mau merubah penampilan mu ini. Menjadi Doni yang dulu. Tampan, dan berbau wangi. Pasti dengan mudah kamu akan mendapatkan ganti. Dan perlu kamu ingat, pastikan dulu bibit, bebet dan bobotnya. Agar tidak tertipu, dan kita bisa menikmati kekayaannya."


"Bu, tadi aku bertemu dengan Mala. Ia terlihat tambah cantik. Bekas luka di wajahnya sudah tidak ada, dan ia bisa berjalan lagi. Aku menyesal telah mengkhianatinya demi wanita tuna susila itu Bu."


Bu Mirna seketika terperanjat kaget, mendengar penuturan anaknya.


"Yang benar kamu?"


"Sungguh bu." Doni mengangguk yakin.


"Kalau begitu, kamu dekati saja dia."


"Hem, ibu tidak yakin dia benar-benar mencintai wanita cacat seperti mantan istri mu itu. Toh, kamu bisa mendapatkan wanita lain yang lebih segala-galanya darinya, asalkan kamu berniat berubah. Yakin sama ibu."


Doni memikirkan ucapan ibunya sekian menit. Dan akhirnya mengangguk setuju.


"Bu, cuci semua baju dan sprei ku. Singkirkan barang-barang Siska dari kamar ku. Aku mau merapikan diri." titah Doni kembali bersemangat.


Sementara Bu Mirna hanya bisa mendengus kesal, anaknya kembali memerintah dirinya. Tapi ia coba tahan dan mengerjakan semuanya, agar anaknya juga bersemangat.


Doni mencari alat cukur, lalu mencukur kumis dan jambang nya. Mengambil baju ganti dan segera mandi untuk menghilangkan dekil di badannya.

__ADS_1


Ia kaget ketika melepas celananya, bau anyir dan tidak sedap menguar.


"Huek, baunya ngga enak banget sih." gumam Doni sambil menutup hidungnya. Lalu ia pun pipis.


"Haduh, sakit..." desis Doni ketika air seni melewati jalannya.


"Mungkin karena aku kelamaan tidak mandi, jadi begini deh, bau dan sakit semua." gumamnya. Lalu mulai mengguyur tubuhnya dengan air yang terasa sangat menyegarkan itu.


Setelah sekian menit berdiam diri di kamar mandi, ia keluar dengan wajah yang jauh lebih segar. Lalu berjalan menuju kamarnya.


Terlihat kamarnya lebih rapi, dari yang sebelumnya. Baju-baju Siska telah Bu Mirna masukkan ke dalam plastik besar, dan siap untuk dibuang.


"Hem, penampilan mu sudah rapi lagi, dan bau mu wangi." ucap Bu Mirna, sambil menghirup dalam-dalam aroma wangi anaknya.


Doni tersenyum sumringah mendengar pujian yang dilontarkan oleh ibunya. Setelah ia berjongkok untuk membantu ibunya.


Mata Doni dan ibunya membulat ketika melihat kotak bludru warna navy. Tanpa pikir panjang, tangan keduanya terulur untuk meraih kotak itu secara bersamaan.


"Aku duluan bu." ucap Doni sambil menarik kotak itu.


"Tidak bisa. Kamu harus mengalah. Biar ibu saja yang membuka, karena ini barang perempuan." bu Mirna menarik kotak itu.


Mereka terus berdebat dan berebut, hingga akhirnya kotak itu jatuh. Memperlihatkan isinya, yang membuat keduanya tercengang.

__ADS_1


__ADS_2