
"Siska? Mana Bu?" Doni mendongakkan kepalanya dan menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan istrinya.
"Tadi keluar dari mobil itu bersama kakek-kakek. Tapi kenapa ia bersama seorang kakek-kakek? Bukan kah tadi pamitnya berangkat kerja?" Bu Mirna mengerutkan keningnya, begitu pula dengan Doni.
"Tapi kok sudah tidak keliatan Bu? Apa mungkin ibu salah orang?"
"Memangnya ibu ini sudah rabun. Sembarangan kalau ngatain orang." Bu Mirna menepuk keras bahu Doni, sehingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.
Seorang pelayan mengantar pesanan mereka, dan meletakkan di hadapannya. Menu ayam bakar madu, sambel bawang, nasi putih hangat, dan es jeruk, menjadi menu santap siang yang mereka pilih.
"Hem, dari baunya enak sekali Don. Ibu ngga sabar pengen nyobain." ucap Bu Mirna dengan sumringah.
Doni mengangguk, dan keduanya tanpa pikir panjang melahap makanan itu.
"Sumpah, ini makanannya enak banget Don. Ibu juga mau dong jajan di sini setiap hari."
Bu Mirna berkata dengan mulut yang penuh dengan makanan. Apalagi suaranya terdengar keras, sehingga banyak pengunjung yang menoleh ke arahnya. Dan tentu saja ia dan Doni tak menyadari itu semua.
Sementara itu di seberang jalan, Siska yang menyadari jika di kedai makan seberang jalan ada suami dan ibu mertuanya tengah menikmati makan siang. Ia segera mengajak pelanggan nya masuk ke toko emas.
Pelanggannya memang adalah seorang kakek-kakek umur enam puluh tahun. Tapi soal urusan ranjang, dia masih jago. Apalagi di dukung dengan kekayaannya yang berlimpah. Membuat Siska mau melayaninya.
Seperti pada hari itu, setelah melayaninya dengan baik, pelanggannya membelikan perhiasan untuk Siska.
__ADS_1
"Pilih mana yang kamu suka." ucap pelanggan Siska sambil terkekeh.
"Serius om?" tanya Siska dengan wajah yang berbinar. Ia menggelayut manja di tangan sebelah kanan pria tua itu.
"Mana pernah om bohong sama kamu. Asalkan...." pria tua itu menaikkan satu alisnya dan tersenyum nakal.
"Ah, om bisa saja." Siska membalasnya dengan senyum nakal, dan tangannya mencubit perut gendut kakek tua itu.
Para pengunjung dan karyawan yang ada di toko itu melihat ke arah keduanya dengan geleng-geleng kepala. Tak perlu dijelaskan, mereka sudah bisa menebak jika keduanya adalah pasangan tidak halal.
Setelah memilih dan membayar keduanya keluar toko emas dengan senyum merekah. Siska kembali melihat ke arah seberang jalan.
Dan ketika melihat suami dan mertuanya masih menikmati makanan, ia segera memutuskan masuk mobil, agar tidak ketahuan.
Sementara itu, di seberang jalan, tak butuh waktu lama, makanan di piring Doni dan ibunya sudah bersih tak bersisa. Mereka sangat puas dan kenyang.
**
Hari sudah sore ketika Bu Mirna dan Doni sampai rumah. Baru saja mereka menginjak lantai teras, terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah nya. Ketika keduanya menoleh, terlihat Siska keluar dari mobil taksi itu.
"Siska, kamu tadi dari mana?" Bu Mirna mencerca Siska yang baru saja sampai di lantai teras dengan pertanyaan.
"Ya dari tempat kerja lah bu. Memang dari mana?" sahut Siska terlihat santai. Ia memang tak menyebut detail tempat kerjanya. Yakni melayani satu pria ke pria lainnya.
__ADS_1
"Tadi ibu lihat kamu jalan sama aki-aki. Mesra pula."
Siska terbahak-bahak mendengar ucapan mertuanya, sehingga membuat Doni dan ibunya saling beradu pandang sambil mengernyitkan dahi. Padahal hati Siska sudah berdegup kencang tak karuan.
"Mas, mungkin mata ibu sudah rabun kali. Aku lagi sibuk kerja, di tuduhnya lagi jalan sama aki-aki. Memangnya aku ini wanita apaan."
Setelah berkata seperti itu, Siska mendahului masuk ke dalam rumah.
"Ibu sih, main tuduh-tuduh saja. Untung Siska itu orangnya sabar. Coba kalau tidak, bisa perang dunia di rumah ini. Bikin pusing saja." gerutu Doni, dan ia pun berlalu meninggalkan ibunya sendirian di teras.
"Huh, dasar. Laki sama perempuan, sama saja. Sama-sama aneh. Di kasih tahu tidak mau. Nanti kalau ada apa-apa, jangan salahkan ibu."
**
"Sayang, kenapa setelah menikah mobil mu tidak dibawa kesini saja sih? Kan bisa di pakai untuk berangkat ke kantor."
Siska tersedak ketika mendengar permintaan suaminya.
"Makanya, kalau makan itu jangan banyak-banyak. Tersedak kan jadinya." Bukannya mengambilkan minuman, Bu Mirna justru menceramahi menantunya.
Siska meneguk minumannya hingga tandas, lalu menghirup nafas dalam-dalam.
"Mo-mobil ku di bawa teman ku keluar kota mas."
__ADS_1
"Ya sudah, nanti hubungi saja temanmu. Suruh segera mengembalikan mobil mu."
"Iya mas." balas Siska sambil tersenyum hambar. Lalu kembali memasukkan makanan nya ke mulut.