Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
11. Siska hilang


__ADS_3

Cukup lama Siska bertandang di rumah Doni. Mereka bercakap-cakap seolah-olah sudah kenal lama.


Doni mengatakan pada ibunya akan menikahi Siska. Dan tentu saja orang yang telah melahirkannya mengangguk setuju. Bahkan ia menyuruh untuk segera mempercepat akad nikah mereka.


Karena Siska sudah tidak memiliki kedua orang tua. Akad nikah akan di gelar di rumah Doni.


Siska meminta pada calon suaminya untuk menggelar pesta pernikahan yang mewah. Mengingat Doni adalah seorang bos di perusahaannya.


Walaupun nanti akan menghabiskan dana yang banyak, Doni nanti bisa memakai uang sumbangan dari para pelayat kemarin. Jika masih kurang, ia bisa minta pada Mala, istri pertamanya.


Doni dan ibunya akhirnya menyetujui hal itu. Mereka juga ingin agar pesta pernikahannya di kenang oleh banyak orang karena kemewahannya.


Keduanya juga tak sabar ingin memamerkan kecantikan Siska pada tetangga sekitarnya. Mengingat desas-desus pernikahannya sudah terdengar ke seantero pelosok desa.


Hari kian merangkak malam, Doni berniat mengantar Siska pulang. Namun wanita itu justru berkata bahwa dirinya pusing dan ingin segera istirahat.


"Bagaimana ini bu?" dengan nada khawatir Doni bertanya pada ibunya.


"Pakai tanya segala lagi. Ya sudah bawa saja Siska ke kamar satunya."


"Baik Bu. Oh iya, tolong ibu buatkan bubur dan teh hangat lagi ya." pinta Doni, lalu mengajak Siska bangkit dari duduknya.


Doni memapah tubuh Siska yang sudah terlihat tidak kuat berjalan. Bagai tersengat aliran listrik, tubuh Doni begitu bergetar ketika memegang tubuh Siska saat memapahnya.


Tanpa sadar, tangannya terus saja menjelajahi bagian tubuh Siska. Doni dengan susah payah menelan saliva ketika menyelimuti tubuh Siska.


Tak lama kemudian, ibu datang membawa nampan berisi bubur sumsum dan teh hangat.

__ADS_1


"Doni, kamu suapin Siska dulu gih. Kasian kalau harus makan sendiri." ucap ibu dengan penuh perhatian. Ia tak boleh menyia-nyiakan calon mantu yang cantik dan kaya seperti Siska.


"Baik Bu." balas Doni sambil meraih mangkok yang berisi bubur.


"Ibu tinggal ke kamar dulu ya." Bu Mirna memutar badannya, lalu segera di tahan oleh anaknya.


"Tunggu dulu Bu. Siska kan baru sakit. Pijitin kakinya dulu dong. Kan kasian, sebentar lagi menikah. Takutnya pas hari h dia tumbang." imbuh Doni.


"Benar juga sih." Bu Mirna segera duduk di belakang Doni.


Ia memijit seluruh tubuh Siska dengan baik, dan Doni menyuapi Siska bubur juga dengan telaten.


Setelah semangkok bubur habis, dan Bu Mirna juga sudah kelelahan memijat, pasangan ibu dan anak itu meninggalkan Siska sendirian di kamar.


"Selamat tidur Siska. Semoga mimpi indah. Jangan lupa mimpikan aku." ucap Doni sambil tersenyum nakal. Siska pun juga membalas dengan senyuman yang genit.


Setelah menuntaskan hajatnya, ia berjalan menuju kamarnya. Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala wanita yang haus sentuhan tangan laki-laki itu.


Kakinya yang seharusnya bergerak masuk ke kamarnya, justru berbelok di kamar sampingnya.


Ia membuka pelan dan senyumnya mengembang sempurna ketika melihat Doni tidur terlentang tanpa kaus. Hanya mengenakan celana pendek saja.


Siska kembali berpura-pura. Ia pura-pura masih ngantuk lalu merebahkan diri di dekat Doni.


Laki-laki itu tersentak kaget, hingga matanya terbuka. Ketika melihat Siska di sampingnya dalam keadaan memejamkan matanya, ia tersenyum samar.


Matanya kembali menutup, sambil tangannya bergerilya di tubuh Siska. Wanita itu sengaja masih memejamkan matanya, tapi memberi respon, dengan bergerak bak seorang pesilat.

__ADS_1


Merasakan hal itu, Doni semakin gencar. Dan akhirnya pada malam hari itu ia berhasil melewati jalan tol milik Siska hingga berulang kali.


"Don, Doni." suara teriakan bu Mirna sambil menggedor kencang pintu kamar anaknya. Membuat Doni tersentak kaget.


"Apa Bu!" balas Doni sambil berteriak pula. Namun matanya masih terpejam.


"Gawat, Siska hilang." balas Bu Mirna masih dengan berteriak dan raut wajah khawatir.


Doni seketika terduduk mendengar jawaban ibunya. Ia berniat hendak turun dari ranjang tempat tidurnya.


Tapi ia kembali terkejut ketika melihat Siska tidur di sampingnya dalam keadaan tidak memakai sehelai benang pun.


Bahkan di sekujur tubuhnya terdapat tanda di larang berhenti yang berwarna merah.


Doni membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya juga membulat sempurna.


"Apa yang telah aku lakukan? Aku pikir semalam itu hanya mimpi, karena orang mau menikah biasanya juga seperti itu. Eh taunya beneran. Gawat, kalau Siska menangis lagi gimana? Karena aku telah menodainya. Lagian kenapa pakai acara pindah kamar segala." gumam Doni.


"Don." Bu Mirna kembali berteriak sambil menggedor pintu dengan kencangnya.


Suasana pagi yang sungguh berisik, sehingga membuat Siska menggeliat dengan malas.


Dan tangannya bergerak mencari bantal untuk menutup telinganya. Tapi justru tangan itu menarik aset berharga milik Doni. Sehingga membuat laki-laki berteriak keenakan. Dan keinginannya untuk melewati jalan tol kembali menyapa.


"Doni, cepatlah keluar. Suara ibu hampir habis."


"Iya bu, sebentar."

__ADS_1


Dengan bersungut-sungut kesal akhirnya Doni memakai bajunya, lalu memakaikan baju untuk Siska. Setelah itu barulah ia keluar.


__ADS_2