Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
42. Di toko perhiasan


__ADS_3

"Lhoh Don, kok jam segini kamu sudah pulang?" tanya Bu Mirna sambil mengernyitkan dahi. Ketika melihat anaknya masuk rumah dengan muka tertunduk lesu, bagai kain kusut. Padahal jam dinding baru menunjukkan pukul sepuluh pagi.


"Doni di pecat bu." lirih Doni, tapi mampu membuat ibunya duduk dengan kondisi siaga. Padahal tadi ia tengah rebahan di sofa sambil melihat acara televisi.


"Di pecat?" ulang Bu Mirna dengan suara yang keras dan mata membulat. Doni pun mengangguk, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa dekat ibunya duduk.


"Kok bisa sih?" Bu Mirna memandang Doni dengan sorot mata tajam.


"Semua ini karena pembantunya Mala."


"Ah, kamu kalau bicara jangan setengah-setengah kenapa? Ibu mana paham. Coba jelaskan semuanya pada ibu."


Doni pun akhirnya menceritakan semuanya yang baru saja terjadi. Hingga membuat bu Mirna semakin syok, dan benci pada menantu cacat nya.


"Hah, sudah cacat saja. Masih banyak ulah nya. Gimana nanti kalau sudah sembuh. Bagaimana pun caranya kita harus bisa mendapatkan hartanya. Walau hanya separuh Don." ucap Bu Mirna dengan berapi-api.


"Setuju bu."


"Harta gono-gini. Yah, itu namanya. Kalau kamu bercerai dengannya, kamu bisa dapat harta gono-gini Don. Dan kita masih bisa kaya." seru Bu Mirna dengan mata yang berbinar, karena mengkhayal menjadi orang kaya.


"Betul juga ide ibu. Jadi aku bisa beli mobil lagi." ucap Doni dengan senyum sumringah.


"Iya Don. Dan ibu juga bisa beli perhiasan, tas mewah, dan banyak lagi barang mahal lainnya. Nanti ibu mau pamerin ke tetangga. Biar mereka semua pada heboh."


Di tengah keduanya tengah asyik menghalu, terdengar dering handphone milik Doni. Ia pun merogoh dari saku celana dan melihat nama mbak Ima tertera di sana.

__ADS_1


Lalu ia menekan tombol hijau. Panggilan pun tersambung. Sementara ibunya terlihat serius mendengarkan.


"Ada apa mbak?" ucap Doni tanpa basa-basi dan dengan suara yang tidak enak di dengar.


"Iya-iya, tenang saja. Semua akan saya lunasi besok." tanpa banyak bicara, Doni kembali menutup handphonenya.


Ia ingin kembali berbicara dengan ibunya, tapi kembali terdengar suara handphone miliknya berdering lagi. Kali ini panggilan dari tukang sewa tenda.


"Hallo. Iya, uang sewa tenda akan kami bayar besok." ucap Doni seperti tahu apa yang akan di sampaikan oleh penelpon. Lalu ia mematikan teleponnya.


Mulut Doni sudah terbuka, tapi urung untuk bersuara. Ketika handphonenya kembali berdering.


"Handphone sialun. Dari tadi cuma dering dari para penagih hutang melulu." ucap Doni sambil membanting handphone nya.


"Doni! Kalau handphone nya rusak, harus beli yang baru lagi. Sayang tahu uangnya. Mending kamu angkat saja teleponnya. Dari pada berisik melulu."


Ia memijit pelipisnya, karena kepalanya terasa berdenyut nyeri. Pagi tadi di pecat. Setelah itu dimaki-maki istri dan pembantunya. Mobilnya di minta oleh Mala. Istri barunya ia rasa juga kurang sayang dengannya dan ibunya. Sekarang justru di tagih hutang.


Doni benar-benar merasa hidupnya bukan malah semakin membaik. Tapi justru semakin apes.


Hatinya menolak keras, jika semua ini berhubungan dengan pengkhianatan yang ia lakukan pada istrinya. Karena seorang laki-laki boleh menikah lebih dari satu. Itulah prinsipnya.


"Bu, jalan satu-satunya adalah kita harus menjual seluruh perhiasan ibu sekarang." ucap Doni kemudian.


"Apa! Enak saja. Tidak bisa." Bu Mirna terkejut. Lalu mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Ini cuma sementara bu. Untuk menutup mulut para penagih hutang itu. Memang ibu mau setiap hari di teror oleh mereka karena belum mampu membayar?" Doni melempar pertanyaan pada ibunya, dan wanita itu pun menggeleng cepat.


"Nah, maka dari itu perhiasan ibu di jual dulu. Nanti Kalau Doni sudah dapat harta gono-gini, kita beli lagi yang banyak."


"Huh, baiklah." Bu Mirna menyenderkan punggungnya di sofa dengan pasrah.


"Ya sudah kita jual sekarang, mumpung Siska belum pulang." usul Doni.


Bu Mirna pun bangkit berdiri dengan malas. Dan berjalan menuju kamarnya.


Tak lama kemudian, ia sudah keluar dengan rapi dan make up yang tebal. Bak sosialita ke sasar.


Tin...Tin...Tin


Suara taksi online yang di pesan Doni datang. Pasangan ibu dan anak itu melenggang masuk ke mobil.


Sesampainya di toko emas. Mereka segera menyampaikan maksud kedatangannya pada karyawan, yakni menjual emas.


Alangkah terkejutnya Bu Mirna ketika seluruh perhiasannya di tawar dengan harga yang murah.


"Enak saja!" Bu Mirna menggebrak etalase toko, hingga membuat pengunjung menengok ke arahnya.


"Perhiasan saya ini dulu belinya juga di toko ini. Kenapa sampai di tawar dengan harga serendah itu, hah?"


Dengan takut-takut karyawan itu menjelaskan.

__ADS_1


"Ma_maaf bu. Semua syarat telah tertulis dalam kertas nota ini. Jika perhiasannya dijual lagi, maka akan di potong sepuluh persen dari harga awal pembelian. Karena nilai barang mengalami penyusutan. Nilai penyusutan bisa dipengaruhi karena warna emas yang memudar, atau kerusakan lainnya."


"Aku ngga terima. Panggil manager mu kesini." bu Mirna kembali menggebrak etalase, yang membuat Doni malu, karyawan toko juga takut, dan para pengunjung geleng-geleng kepala karena ulahnya.


__ADS_2