
"Lhoh, Bu. Aku kan mau ke rumah mu, tapi kenapa kamu malah kesini?"
Bu Mirna kaget ketika melihat beberapa tetangganya yang justru sudah berdiri di teras rumahnya.
"Kami belum pernah main ke rumah Bu Mirna. Selalu saja Bu Mirna yang ke rumah Bu Indah. Jadi ngga ada salahnya kan kita kesini."
Bu mirna merasa tak enak dan tak suka jika tetangganya main ke rumahnya. Sebab ia tidak mau memberi mereka suguhan, walaupun hanya sekedar minuman.
Tapi karena mereka sudah terlanjur datang ke rumahnya, maka terpaksa menerima kedatangan mereka.
"Ya sudah, ayo kita duduk di sini saja." Bu Mirna mengajak tetangganya duduk lesehan di teras rumahnya.
"Eh, tahu ngga ibu-ibu, itu si Ernie, anak Bu Rohmah yang rumahnya di ujung timur. Dengar-dengar dia itu hamil di luar nikah lho." ucap Bu Mirna memulai acara ghibah pada pagi hari itu.
"Hah, iya kah Bu?" tetangganya terlihat antusias mendengar ceritanya.
Bu Mirna kembali melanjutkan ceritanya. Ia memang paling pintar soal mencari kesalahan dan rahasia tetangganya. Tapi tidak pintar mencari kesalahannya sendiri.
"Aduh, Bu. Aku haus nih. Memang ngga ada air putih atau es gitu ya." celetuk salah satu tetangganya.
Bu Mirna mendengus kesal. Akhirnya apa yang ditakutkan terjadi.
"Ada, Bu. Ambil saja di kulkas." titah Bu Mirna pura-pura baik.
Untung saja, cemilan yang baru di beli kemarin belum sempat ia masukkan ke dalam kulkas. Jika sudah dimasukkan, bisa jadi diambil oleh tetangganya.
"Eh, Bu. Aku juga mau numpang ke belakang dong." imbuh tetangganya yang lain.
__ADS_1
"Boleh, tapi bayar ya. dua ribu saja." celetuk Bu Mirna yang membuat tetangganya terkekeh, karena dianggap lelucon. Padahal ia memang serius.
Kedua tetangganya masuk ke rumahnya. Tapi ketika melintasi kamar Doni, keduanya seketika menutup hidung.
"Ish, bau apaan sih ini?"
"Iya ya. Kok ngga enak banget. Rasanya mau muntah."
"Ya sudah, kita langsung ke belakang saja." keduanya mempercepat langkahnya menuju ke belakang.
"Bu, di dalam rumah mu kok baunya aneh banget. Saya hampir muntah lho." ucap ibu yang tadi menumpang ke belakang.
"Benar, Bu. Seperti bau tikus mati. Tapi baunya lebih tidak enak." imbuh tetangga yang satunya.
"Tikus mati mungkin. Soalnya Doni aku suruh nyariin ngga mau. Kerjaannya di rumah, makan sama tiduran mulu." balas Bu Mirna kesal.
Dan seperti biasanya, ketika waktu sholat tiba mereka hendak ijin pulang. Tapi salah satu dari mereka numpang ke belakang.
Terpaksa Bu Mirna mengijinkan. Dalam hati ia kesal dengan kelakuan tetangganya. Membuatnya harus membersihkan kamar mandi setelah mereka pulang. Karena rata-rata tetangganya suka makan petai dan jengkol.
Tapi belum sempat tetangganya itu ke toilet, ia berhenti tepat di depan kamar Doni. Ia menutup hidungnya karena ingin muntah. Tidak tahan dengan baunya.
"Masa sih ini bau tikus?" gumamnya. Lalu segera ke depan.
"Bu, yakin di dalam rumah itu bau bangkai tikus? Entah kenapa saya justru merinding."
"Halah, kamu ngga usah lebay begitu lah, Bu." ucap Bu Mirna santai. Sementara tetangga yang lain saling beradu pandang, lalu berbisik.
__ADS_1
"Kalau ngga tahan sama baunya, ya sudah kalian bantu cariin bangkai tikusnya."
"Tenang, nanti aku kasih upah. Soalnya nunggu Doni juga lama banget sih." imbuh Bu Mirna lagi.
"Boleh deh, bu." sahut salah satu tetangga.
Mereka pun masuk ke rumah sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan yang di bawa. Ada pula yang menutup hidung menggunakan kerah bajunya.
Semua memeriksa kondisi rumah Bu Mirna dengan seksama.
"Don, Doni. Kamu bangun dong. Bantuin ibu sama tetangga nyariin bangkai tikus. Sudah di cari kemana-mana tapi belum ketemu juga." teriak Bu Mirna sembari menggedor pintu kamar. Tangannya memutar handle pintu, yang ternyata tidak di kunci.
"Oh, ternyata pintunya tidak di kunci toh. Hem, tahu begitu sejak kemarin saja aku masuk kamarnya. Biar segera di cari itu tikus."
Bu Mirna melangkah masuk kamar. Tapi seketika ia menutup hidungnya. Tidak tahan dengan bau yang menyengat.
Pupil matanya melebar ketika melihat anaknya yang terlentang di tempat tidur dalam kondisi yang sangat membuat dirinya syok.
"Doni." seru Bu Mirna dengan suara yang tertahan. Ia mendekat ke ranjang tempat tidur, dan air matanya tumpah seketika.
Tetangga yang mendengar suara keras Bu Mirna menghentikan aktivitasnya dan sejenak saling beradu pandang. Lalu dengan langkah yang mengendap-endap, mereka mengintai dari pinggir pintu yang terbuka.
Mereka membulatkan matanya dan refleks menutup hidungnya. sembari masuk ke kamar Doni.
❤️❤️
__ADS_1