
"Kenapa kamu jadi seperti ini mas? Istrimu tak pernah merawat mu ya? Sama dong, dulu sewaktu aku sakit, suami ku juga tidak merawat ku." sindir Mala, dan membuat hati Doni kembali tersentil. Karena mengingat kelakuannya dulu pada Mala.
Doni berlutut dihadapan Mala dan meraih tangan mantan istrinya, tapi dengan cepatnya Mala mundur satu langkah. Karena kurang seimbang, Mahes dengan sigap menahan tubuhnya.
Tangan Doni mengepal kuat melihat hal itu. Tapi sebisa mungkin ia tahan. Karena ingin meminta maaf pada Mala.
"Jangan dekati aku." ucap Mala.
"Mala, sayang ku. Aku ingin minta maaf padamu. Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi." ratap Doni.
Mala menyunggingkan senyum sinis.
"Apakah kamu lupa, atau perlu ku putar, video dimana kamu dengan terang-terangan menerima perpisahan kita. Kamu dan ibumu lebih memilih wanita itu dari pada aku, hah?" sentak Mala kasar.
"Dan aku juga jelas mengatakan padamu bahwa, tidak akan ada kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya. Untuk laki-laki seperti dirimu. Silahkan saja kamu nikmati pahitnya kehidupan mu. Karena aku juga pernah berada di posisi seperti dirimu. Ini mungkin belum seberapa. Bisa jadi Allah akan membalas mu dengan hal yang lebih menyedihkan dan menyakitkan dari ini."
"Mala." ucap Doni sambil mendekati mantannya lagi dan menangis terisak. Mala kembali mundur satu langkah , karena terlihat sangat ketakutan melihat penampilan Doni.
"Tolong jangan menyumpahi ku seperti itu Mala. Agar hidup ku tidak terus menerus terkena sial."
"Itu bukan urusan ku." tegas Mala, lalu ia memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan Doni, diikuti oleh para asistennya.
Doni masih bersimpuh di lantai restoran sambil menangis. Tiba-tiba seseorang sudah berdiri di dekatnya.
"Mas, mas. Sudah jangan menangis. Ini ada sedikit rezeki. Di makan di luar ya. Kalau kamu disini terlalu lama, bisa di usir sama security."
__ADS_1
Doni berhenti menangis, dan menatap laki-laki dihadapannya, yang ternyata seorang pelayan restoran.
"Ini." laki-laki itu menyerahkan plastik yang berisi makanan.
Doni mematung melihat itu, lalu dengan ragu mengambilnya. Biarlah di sangka pengemis, asalkan bisa makan enak.
Ia pun akhirnya kembali menemui tukang ojeknya tadi, dan memintanya untuk mengantar pulang.
**
"Doni!" seru Bu Mirna, ketika melihat anaknya yang baru saja menginjakkan kaki di lantai teras. ia melihat penampilan anaknya yang semrawut, dan jauh berbeda dengan Doni yang dulu.
Bu Mirna juga menutup hidungnya ketika Doni berjalan melewatinya.
"Heh, Doni. Tunggu. Darimana saja kamu? Sudah berapa lama kamu tidak mandi? Mandi sana. Bau banget." hardik Bu Mirna.
"Huh, anak tak tahu diri. Di kasih tahu baik-baik sama orang tua. Malah diam saja." Bu Mirna menggerutu kesal.
"Paket." seru kurir yang sudah berada di depan teras rumah. Bu Mirna mengernyitkan dahi, lalu segera mendekat.
"Permisi bu, ini ada paket untuk mas Doni." ucap kurir sambil menyerahkan amplop coklat tipis.
"Apa ini?" gumam Bu Mirna sambil membolak-balik paket itu.
Setelah kurir pergi, Bu Mirna kembali masuk rumah, dan mengetuk pintu kamar Doni dengan keras.
__ADS_1
"Don, Doni!" serunya berulang kali.
Doni yang berada di dalam kamar merasa jengah dengan suara ibunya yang sangat berisik. Akhirnya dia dengan langkah gontai membuka pintu kamarnya.
"Sebenarnya, apa saja sih yang kamu lakukan di kamar? Ibu tuh pusing tahu ngga mikirin kamu.
Harusnya kamu anak ibu satu-satunya, bisa membuat ibu bahagia, senang, tidak kerepotan, memberi banyak uang, selalu mengajak ibu jalan-jalan. Bukan malah jadi pembantu.
Semua pekerjaan rumah yang mengerjakan ibu. Dan semenjak kamu menikah dengan Siska, kamu tak pernah lagi memberi ibu uang. Ibu malu berhutang melulu. Kamu segera cari kerja lagi dong.
Oh ya, nih, dapat paket. Ibu ngga tahu itu paket apa lagi."
Bu Mirna sengaja menjatuhkan paket itu ke lantai, karena tak sudi memegang tangan anaknya yang pasti banyak kumannya, karena tak pernah mandi.
Setelah itu, menjatuhkan tubuhnya di sofa, sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Punya anak laki-laki satu-satunya, berharap bisa membawa kemakmuran. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Di gugat cerai oleh istri cacat, punya istri kedua juga adalah seorang wanita tuna susila, menanggung banyak hutang.
Kini anak laki-lakinya penampilannya juga terlihat seperti pasien rumah sakit jiwa, menjadi buah bibir tetangga, dan masih banyak lagi kesengsaraan hidup yang ia alami.
Rasanya Bu Mirna ingin bunuh diri, tapi siapa nanti yang akan mengurus rumahnya. Karena itu adalah warisan suaminya satu-satunya.
Tentu saja orang yang bisa mendapatkan rumahnya secara cuma-cuma, akan sangat merasa senang. Jika ia benar-benar memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
"Tidak, tidak. Itu tidak boleh terjadi." serunya sambil tergeragap dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Aku harus menyemangati Doni agar segera mencari pekerjaan lagi." gumamnya yakin.