
Siska kembali terisak sambil menyunggingkan senyum, melihat betapa berjiwa besar nya sang bos. Mau menerima masa lalunya yang buruk, tidak menjudge dirinya, dan justru memberinya dukungan.
Dalam hati Siska berjanji, akan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh sang bos yang baik hati.
Gadis itu juga berjanji, akan senantiasa berbuat yang lebih baik lagi. Ia bertekad untuk meminta maaf pada almarhum suaminya, walaupun harus mendatangi makamnya, ataupun mendatangi ibundanya.
"Siska." panggil Doni, karena melihat gadis dihadapannya justru melamun.
"Eh, iya mas."
Siska tergeragap, lalu menghapus wajahnya agar tidak terasa lengket karena terkena tetesan air matanya.
"Kamu istirahat saja dulu. Biar aku yang bereskan sisanya."
"Tidak bisa begitu mas. Yang jadi karyawan disini aku, bukan kamu. Kenapa aku justru yang santai-santai."
"Jangan bawel. Lihat tangan mu, masih sakit seperti itu. Memang bisa dipakai untuk bekerja?"
"Apakah itu tandanya besok saya disuruh libur, mas? Saya tidak mau libur, dan ingin tetap bekerja. Selain mendapatkan upah, saya juga bisa bantuin mas Doni agar tidak kerepotan."
Doni sadar, hampir dua bulan Siska bekerja, ia memang belum pernah libur sekali pun juga. Padahal kondisi kedai yang baru buka itu, selalu ramai pengunjung. Perasaan bersalah seketika menyeruak dihatinya.
"Apa kamu tidak capek, Sis?"
Dengan cepat Siska menggelengkan kepalanya. Padahal sejatinya ia tengah berbohong.
Bayangkan saja, kerja dari pagi sampai sore, dan semuanya hanya dikerjakan oleh dua orang. Siapa yang masih bisa bilang tidak capek.
__ADS_1
Gadis itu memang sengaja menyibukkan diri, agar tidak terus menerus berpikiran tentang masa lalunya yang buruk.
"Kamu pasti bohong. Aku saja capek kok. Baiklah, mungkin ini saatnya aku cari seorang karyawan lagi. Agar kamu bisa ambil hari libur."
Siska menganggukkan kepalanya, pertanda setuju dengan ucapan bos nya.
"Ya sudah, kamu pindah tempat duduk dulu gih. Aku mau beresin sisanya."
Keduanya segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan berlawanan arah.
**
Setelah memastikan semua pekerjaan beres, Doni mengambil uang hasil penjualannya hari itu, dan memasukkannya di dalam tas. Lalu mengajak Siska pulang.
"Lhoh, mas. Kita ngga ke pasar dulu?"
Siska pun menganggukkan kepalanya patuh. Doni memang sengaja melakukan hal itu. Ia tidak ingin Siska diganggu oleh mantan pelanggannya dulu.
Selain itu, ia juga kasian melihat tangan Siska yang masih berbalut perban. Bisa-bisa sakitnya akan semakin bertambah parah jika digunakan untuk mengangkat barang.
"Siska, mampir makan yuk." lagi-lagi gadis itu mengangguk patuh. Mobil pun berbelok di sebuah restoran.
"Astaga, mas. Kok kesini?" pekik Siska, sambil mengedarkan pandangannya.
"Memang kenapa?" sahut Doni enteng.
"Aku tidak percaya diri datang kesini, mas. Apalagi belum mandi, bau asem, dan... pasti harga makanannya juga mahal-mahal." Siska menjeda kalimatnya, karena sedikit malu saat mengatakan kalimatnya yang terakhir. Doni pun terkekeh.
__ADS_1
"Aku juga belum mandi. Kita kan sama-sama berangkat dari kedai. Jangan khawatir, nanti aku yang bayar."
"Jangan, mas. Setiap hari kita selalu mampir jajan, setiap itu pula mas Doni membelikannya untukku. Aku jadi merasa tidak enak. Nanti uang mu habis gimana?"
"Sedekah tidak akan mengurangi harta, Siska. Justru akan semakin bertambah. Lihatlah, kedai kita selalu ramai pengunjung setiap harinya kan. Mungkin saja itu karena aku sering mengajakmu makan bareng. Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan. Ayo, kita keluar."
Dengan ragu Siska mengikuti kemauan Doni, yaitu masuk ke dalam restoran.
Doni mengajak Siska duduk di gazebo luar. Laki-laki itu mengambil dan membaca buku menu yang ada di setiap meja.
Sedangkan Siska, kepalanya celingukan memperhatikan sekitar. Tampak setiap pasangan yang baru datang, terlihat segar wajahnya, dan tentu bau yang menguar dari tubuhnya adalah wangi. Berbeda dengan dirinya dan bos nya. Tapi, tunggu dulu.
Lain Siska, lain Doni. Laki-laki itu justru tampak tenang. Ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Baunya juga tetap harum, meskipun telah beraktivitas seharian penuh.
"Sis, kamu mau pesan apa?" tanya Doni yang membuat Siska berhenti celingukan.
"Sama seperti kamu saja mas."
"Hem, baiklah."
Doni mengangkat tangan, untuk memanggil waiters. Tak lama kemudian, yang di panggil itu pun datang. Waiters segera mencatat pesanan keduanya, lalu segera menyiapkan pesanannya.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Doni mengajak Siska berbicara. Ternyata cara itu cukup efektif, untuk mengembalikan keceriaan Siska.
Setelah menunggu sekian menit, akhirnya pesanan keduanya datang. Siska menelan saliva, melihat Wagyu steak terhidang di mejanya. Aromanya harum menggoda.
Keduanya segera menyantap makan siang yang di jama' dengan makan malam itu. Karena mereka makan di jam lima sore.
__ADS_1