
"Apa perlu aku balik ke kedai untuk mengambil tas mu?" tanya Doni, ketika melihat Siska bersedih. Tapi gadis itu dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu mas."
"Ya sudah, kamu kembali istirahat lagi saja. Agar cepat sembuh sakitnya."
Siska pun mengangguk, walau sebenarnya juga masih kepikiran. Tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring dan terasa perih.
"Siska, aku keluar sebentar ya. Aku tidak akan membiarkan kamu kelaparan, takutnya sakit asam lambung mu semakin parah. Sekarang kamu mau makan apa? Tapi tidak boleh yang pedas-pedas dulu ya."
"Terserah kamu saja, mas. Tapi apa tidak merepotkan mu, mas. Sejak tadi terus menjaga ku."
"Tentu saja tidak. Kamu juga sering membantuku saat aku repot kan." Jadi sekarang giliran ku."
"Tapi, aku membantumu kan karena kamu membayar ku, mas. Kalau kamu membantu ku, lantas bagaimana cara ku membayarnya."
"Kamu tidak usah terlalu memikirkan ini semua. Aku yang akan bertanggung jawab membiayai seluruh pengobatan mu, selama kamu di rawat di rumah sakit. Sekarang, aku keluar dulu ya. Cari makanan untuk kamu."
"Terima kasih ya, mas. Sudah mau membantuku. Setelah sembuh, aku berjanji akan bekerja dengan lebih semangat."
"Hem, sama-sama. Pikirkan kesembuhan mu, jangan terlalu memikirkan pekerjaan."
Setelah itu, Doni bangkit berdiri dan berjalan keluar. Ia mencari makanan yang aman untuk perut Siska.
Di sepanjang jalan dekat rumah sakit memang banyak para penjual makanan kaki lima. Sampai Doni bingung sendiri, akhirnya memilih bubur kacang hijau saja.
Ia memesan dua porsi bubur kacang hijau. Ia juga membeli dua gelas teh hangat.
__ADS_1
Sambil menunggu pesanannya siap, Doni juga menyempatkan masuk ke mini market yang ada di depan rumah sakit. Untuk membeli air mineral dan cemilan lainnya.
Setelah mendapatkan apa yang dicari, Doni menghampiri penjual bubur kacang hijau, untuk mengambil pesanannya.
Ia berjalan dengan langkah lebar, agar segera sampai di kamar Siska. Gadis itu membulatkan matanya, melihat Doni yang masuk ke ruangannya sambil membawa banyak barang bawaan.
Terbersit di benak Siska, berapa rupiah yang harus ia keluarkan untuk membayar semuanya. Tapi ia berusaha tenang.
Melewati hari-hari yang sulit dan terus mengeluarkan rupiah untuk membiayai pengobatan penyakitnya sampai ia sembuh saja, bisa. Apalagi, sekarang ia sudah bekerja.
Doni meletakkan makanan itu dengan rapi di meja nakas. Lalu membuka satu box bubur kacang hijau dan berniat menyuapi Siska. Tapi gadis itu menahan dengan satu tangannya.
"Maaf, mas. Aku bisa sendiri." ucap Siska, sambil meminta box itu dan mulai mengaduk makanannya.
Sejujurnya, ia tidak ingin salah tingkah, dalam mengartikan perhatian dari sang bos nya.
"Kamu tidak makan mas?"
"Iya. Ini aku juga beli untuk ku sendiri. Ayo kita makan sama-sama." tangan Doni meraih satu box bubur yang ada di atas meja, lalu membukanya.
Mereka pun akhirnya melahap bubur kacang hijau yang terasa hangat dan begitu gurih.
Setelah menyelesaikan makannya, Doni menyuruh Siska untuk beristirahat lagi. Pria itu membenarkan letak selimut yang di pakai Siska.
**
Pagi hari yang cerah, Mala dan Mahes tengah berkebun. Keduanya menanam bunga mawar yang memiliki warna berbeda-beda.
__ADS_1
Terik matahari yang perlahan mulai menyengat, membuat keduanya semakin banyak mengeluarkan keringat. Haus pun menyerang mereka.
Mala duduk sambil menuangkan air ke dalam gelas. Dan ternyata isinya tidak cukup, untuk di minum berdua dengan suaminya.
Istri dari Mahes itu pun bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur. Untuk mengambil air minum.
Saat membuka kulkas, terlihat isi di dalamnya kosong. Hanya tinggal air putih saja.
"Hem, sepertinya aku harus berbelanja hari ini." gumam Mala.
Ia pun bangkit berdiri, dan melihat bibi yang baru saja masuk ke dapur.
"Bu, tolong catat, apa saja yang habis. Karena nanti Mala mau berbelanja."
"Baik, non."
Setelah mengambil air putih, Mala membawanya keluar menuju taman yang ada di samping rumah.
Baru saja ia meletakkan air putih di atas meja, Mahes sudah mendekatinya. Mala pun menuangkan air di gelas suaminya.
"Mas, sepertinya kita hari ini harus berbelanja deh. Kulkas sudah kosong, tidak ada isinya. Cuma air putih saja."
"Hem, boleh. Kita selesaikan pekerjaan kita, lalu bersiap ke supermarket."
Mala menyunggingkan senyum sambil mengucapkan terima kasih pada suaminya. Karena selalu menuruti setiap permintaannya.
Setelah beristirahat sejenak, keduanya segera menyelesaikan pekerjaannya. Agar bisa segera berangkat ke pusat perbelanjaan, untuk membeli apa yang mereka butuhkan setiap harinya.
__ADS_1