
Arghh...
Erang Siska sekali lagi, ketika pecahan piring itu di cabut. Bahkan ia sampai memejamkan matanya. Tak berani melihat telapak tangannya sendiri. Buliran bening menetes melewati pipinya.
Doni yang melihatnya merasa iba dan kasihan. Laki-laki itu akhirnya berlari untuk mengambil kotak obat.
Perlahan, ia bersihkan tangan Siska dari darah. Lalu mengoleskan alkohol dan Betadine. Gadis itu mendesis dan ingin mengibaskan tangannya, karena rasa perih ketika lukanya di oleskan obat-obatan itu. Doni menekan tangannya kuat, karena belum selesai diobati.
"Tahanlah dulu sebentar." titahnya.
Dan tak berselang lama, ia sudah selesai mengobati tangan Siska. Ia pun duduk lesehan di depannya.
"Kenapa seharian ini kamu tidak konsentrasi kerja? Bukan kah sudah ku bilang, jika ada apa-apa cerita lah kepada ku."
Doni menatap Siska dengan sorot mata tajam. Gadis itu perlahan membuka matanya, lalu melihat pelan-pelan ke arah bos nya.
Ia benar-benar takut Doni akan meluapkan amarahnya padanya. Walaupun Siska menyadari jika dirinya memang pantas mendapatkan hal itu.
Siska bingung mau menjawab apa. Tidak mungkin menceritakan semua yang telah terjadi di masa lalunya. Itu adalah suatu aib yang wajib ditutupi.
Tapi, ia juga perlu seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya. Agar bisa menguatkan jiwanya yang terkadang rapuh.
Menjadi anak yatim-piatu tanpa didikan orang tua itu sangat sulit. Jika tidak kuat mentalnya, akan terjerumus ke dalam lembah dosa. Seperti yang dialami Siska.
__ADS_1
Mata Siska kembali berkaca-kaca. Yang kian lama, mulai membanjiri pipinya. Bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya ternyata bisa membuatnya berada di titik terendah.
Yah, walaupun mereka tidak melakukan perbuatan apa-apa. Tapi lagi-lagi bisa mengingatkannya pada masa lalu.
"Hei, kenapa kamu justru menangis?"
Doni yang merasa kasian pada gadis dihadapannya, perlahan mendekat dan memeluknya. Pria itu mengusap lembut punggung Siska.
Tapi hal itu justru membuat Siska semakin terisak. Dalam hati ia bertanya, kenapa ada orang yang baik hati seperti bos nya.
Dirinya bekerja dengan tidak bagus. Bahkan sampai memecahkan piring. Bukannya dimarahi, tapi malah dipeluk dan disuruh untuk bercerita.
Nikmat Tuhan yang mana, yang kamu dusta kan?
"Ma-maafkan aku, mas. Tidak sepantasnya kamu berbuat baik seperti ini padaku. Apalagi sampai memelukku." lirih Siska dengan suara yang parau. Ia mengurai pelukan itu.
"Eh, iya. Maaf, kita kan bukan mahram." ucap Doni merasa tidak enak. Takutnya Siska mengira dirinya mencuri kesempatan dalam tangisan.
Siska menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya, berulang kali.
"Sampai kapan kamu akan terus memendam masalah mu seperti ini? Apa kamu mau, piring ku setiap hari jadi korban perasaan mu? Jika kamu masih ingin bekerja disini, ceritakan masalah mu padaku."
Siska perlahan menatap bos nya. Mengumpulkan keberanian untuk bercerita. Apalagi di ujung kalimat yang dilontarkan bos nya, adalah sebuah kalimat ancaman. Sungguh ngeri. Mau cari kerja di mana lagi?
__ADS_1
"Sekarang saya sudah berubah. Tidak akan melakukan perbuatan buruk itu lagi. Tolong jangan pecat saya nantinya, bila sudah bercerita."
"In shaa Allah."
Siska menghirup nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya membuka mulutnya dan mulai bercerita, tentang apa yang ia lakukan selama ini.
Selama bercerita, Siska terus terisak. Air matanya tak berhenti menetes. Karena itu sama artinya, mengorek luka lama yang hampir kering. Dan ia benar-benar menyesal atas jalan hidup yang pernah diambilnya.
Doni yang mendengarnya, tidak pernah menyangka, jika karyawannya adalah seorang yang pernah terjun ke lembah dosa terdalam.
Meskipun begitu, tak ada niat di hati Doni untuk menjudge seseorang, termasuk Siska. Apalagi gadis itu juga terlihat rajin dan penuh semangat dalam bekerja. Membuat bos nya yakin jika Siska memang sudah benar-benar berubah.
Berbeda halnya jika seseorang mengerjakan sesuatu dengan seenaknya sendiri, maka itu tandanya belum ada perubahan dalam dirinya.
Akhirnya Siska selesai bercerita. Ia kembali menghirup nafas. Merasa lega, sudah menceritakan beban hidup yang ia alami selama ini. Lalu kembali menunduk. Tak ingin bos nya menatap lama wajahnya yang penuh dosa.
Bagaimana pun juga, lambat laun pasti bos nya itu juga akan tahu, jika dirinya dulu memanglah bukan wanita baik-baik.
Dan sebelum bos nya tahu dari orang lain, lebih baik tahu dari mulutnya sendiri. Agar ketika ada yang membicarakan buruk tentangnya dihadapan bos nya. Doni tidak terkejut.
"Siska." ucap Doni sambil menghirup nafas panjang.
"Biarlah masa lalu menjadi pelajaran hidup untukmu. Walaupun aku hanya tahu masa lalu mu dari cerita mu, tapi aku tahu kamu memang bersungguh-sungguh untuk berubah. Teruslah bersemangat untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Karena surga dan neraka kita, ditentukan diakhir hayat kita."
__ADS_1