Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
107. Gaji pertama


__ADS_3

Setelah menunggu sekian menit, akhirnya pesanan bubur ayam Mala dan Mahes datang. Keduanya segera menyuap makanan, yang masih mengepulkan asap panas itu ke mulut masing-masing.


"Hem, enak banget ya mas. Aku suka." celoteh Mala dengan girangnya.


"Mau nambah?"


"Nanti lagi saja." balas Mala dengan suara yang pelan sambil meringis, karena takut terdengar oleh pengunjung yang juga sedang menikmati sarapannya.


"Loh. Ngapain pak Ujang kesini?" gumam Mala sambil mengernyitkan dahi, menatap kedatangan security rumahnya yang baru memarkirkan sepeda motornya.


Security-nya itu menyapu tempat jualan, lalu tersenyum melihat majikannya. Bergegas ia mendekati Mala dan Mahes.


"Mau jajan kali." balas Mahes santai. Padahal dia lah yang menyuruhnya.


"Apa bibi tidak masak? Kok tumben sekali pak Ujang jajan?" tanya Mala, ketika security nya itu sudah sampai di hadapannya.


"Kurang tahu ya saya, non. Saya kesini cuma mau nganterin dompetnya mas Mahes yang ketinggalan. Ini mas, dompetnya." security itu mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya.


"Hah, jadi tadi kamu ngga bawa dompet ya, mas?" Mahes meringis sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun, selalu saja kamu melakukan hal tak terduga, mas. Kalau tidak bawa uang, tadi tidak jadi beli juga tidak apa-apa kok."


"Halah gayanya. Nanti ngambek kalau ngga keturutan."


Mahes menowel dagu istrinya. Lupa jika security nya masih duduk dihadapannya, dan melihat apa yang keduanya lakukan.


Security itu menelan saliva, melihat kemesraan yang keduanya lakukan.

__ADS_1


"Eh. Oh iya, pak. Tolong ambil pesanan bubur ayam saya ke penjualnya. Nanti bapak makan bersama dengan para asisten rumah tangga. Saya yang akan membayarnya."


"Oh, iya mas." security itu beringsut pergi dari hadapan majikannya.


"Dasar kamu, mas. Malu tahu dilihatin sama pak Ujang tadi." Mala menepuk pelan lengan suaminya. Tapi laki-laki itu hanya mengulum senyum.


"Kenapa harus malu? Kita kan sudah menikah. Bahkan aku memelukmu seperti ini juga tidak malu tuh." tangannya Mahes memeluk erat Mala.


Mahes tidak menghiraukan pengunjung yang mulai melihat ke arah mereka. Ia memang sangat mencintai Mala. Ia bahkan tidak ragu mengungkapkan perasaan cintanya pada wanita itu setiap hari.


Mungkin memang benar, cinta setelah menikah itu akan jauh lebih indah, daripada cinta yang tumbuh sebelum menikah.


"Mas, aku mau makan buburnya. Keburu dingin nih." ucap Mala mengurai pelukan suaminya.


"Hem, baiklah." Mahes pun mengurai pelukan, lalu ikut menyuap makanannya.


**


Tapi rupanya, kebahagiaan tidak menyelimuti Bu Mirna. Ia sakit, dan tak ada yang merawatnya. Sehingga untuk minum atau apapun, ia harus mengerjakan seorang diri.


Ibu-ibu warga sekitar yang dulu selalu mengghibah bersamanya, kini tak pernah lagi menemuinya. Mereka tidak pernah lagi datang ke rumahnya.


Mereka benar-benar menjauh, dan seolah lupa, jika Bu Mirna pernah menjadi bagian dari grup tukang ghibah.


Ingin sekali dia bisa menyusul suami dan anaknya yang telah lebih dulu menghadap Tuhan. Tapi setiap ia membuka mata, selalu saja yang di lihat adalah atap rumahnya.


"Kenapa aku masih hidup?" sesalnya sambil memukul tempat tidurnya, butir bening melewati sudut matanya.

__ADS_1


Setelah meluapkan rasa sedihnya dengan menangis, Bu Mirna kembali tertidur. Meskipun rasa lapar mendera, ia malas beranjak dari tempat tidurnya. Karena badannya terasa sakit.


**


"Lapor, mas. Semua pekerjaan sudah selesai. Aku di suruh apa lagi ya." tanya Siska, setelah menyelesaikan pekerjaannya seperti biasanya.


"Hem, kamu selalu saja bertanya seperti itu. Ya pulang lah. Masa mau tidur di sini. Oh iya, ini gaji pertama mu. Mohon diterima ya."


Doni mengulurkan amplop coklat pada Siska. Gadis yang tadi tampak tersenyum itu, mulai menegang ketika melihat amplop coklat itu.


Ia pun menerimanya. Lalu menatapnya sejenak, sebelum akhirnya ia masukkan ke dalam tas kerjanya.


"Kamu tidak ingin melihat isinya?" tanya Doni sambil mengernyitkan dahi.


"Bukan kah mas Doni sudah bilang, berapa gaji ku perhari? Lalu kenapa aku harus menghitungnya lagi? Jika ada kurangnya, mungkin ada beberapa pekerjaan ku yang kurang atau tidak baik."


Doni tersenyum mendengar jawaban Siska. Padahal pria itu sebenarnya ingin melihat Siska berjingkrak, saat membuka amplop yang isinya sengaja ia lebihkan.


Saat awal kerja, Doni menetapkan gaji Siska lima puluh ribu sehari. Tapi ketika melihat omsetnya yang bagus setiap harinya. Dan juga melihat kinerja Siska, maka ia memutuskan menaikkan gajinya menjadi dua kali lipat. Yakni menjadi seratus ribu sehari.


Kinerja Siska memang di nilai sangat bagus. Karena ia sangat rajin bekerja. Tidak pernah bermalas-malasan. Bahkan Doni tidak pernah sekalipun melihat Siska bermain handphone. Selain itu, Siska juga sangat ramah pada semua pengunjung di kedai itu.


Tanpa Siska ketahui, di kedai itu sebenarnya dipasang sebuah cctv. Dan hanya Doni saja yang mengetahuinya.


Setelah jam kerja selesai, Doni mengecek cctv nya. Dan ia tidak menemukan kecurangan yang Siska lakukan. Maka dari itulah ia yakin untuk menaikkan gaji karyawan satu-satunya itu.


"Ayo kita pulang, mas. Kok malah bengong." ucap Siska menyadarkan Doni dari lamunannya.

__ADS_1


"Eh, i-iya. Ayo kita pulang." balas Doni sambil tergeragap. Ia pun menyambar kunci mobilnya, dan berlalu keluar di ikuti Siska.


__ADS_2