Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
9. Barongsai


__ADS_3

"Kamu mau apa, biar aku yang bayarin. Itung-itung sebagai tanda pertemanan kita."


"Ah, aku jadi malu mas." Siska berucap tak enak. Padahal dalam hatinya, ia senang bukan main ketika ditawari seperti itu.


Benar, hidup itu memang butuh uang. Tak ada uang, semua tak jalan. Siska rela menghabiskan seluruh tabungannya untuk melakukan operasi plastik.


Mengubah wajahnya yang dulu hitam, berjerawat, gigi tonggos, hidung pesek. Menjadi putih, halus mulus, berhidung mancung dan giginya juga rapi.


Ia melakukan itu karena tak ada laki-laki yang mau dengannya. Dan kini setelah ia cantik, banyak yang mengantri padanya. Sehingga dengan begitu mudah, ia mendapatkan uang dari mereka.


Setiap dua tahun sekali, ia akan melakukan operasi plastik, demi menjaga kecantikannya.


"Tidak usah malu Sis. Aku ikhlas kok." Doni berpura-pura meyakinkan.


Sebenarnya itu hanyalah trik dalam mendekati Siska. Ia berdoa dalam hati, semoga Siska tidak menunjuk barang yang mahal.


Siska mendekat ke sebuah outlet tas branded. Dan Doni pun mengikutinya.


"Ini bagus ngga mas?" Siska mengangkat sebuah tas berwarna hitam. Doni pun bergerak lebih mendekat guna melihat berapa harganya.


"Em, sepertinya ini kurang bagus Sis." ucap Doni.


"Masa sih mas." ucap Siska sambil mengamati tas itu kembali. Lalu dengan ragu meletakkan pada tempatnya.


'Harganya benar-benar kurang bagus di kantong. Cuma tas kayak gitu, harganya 50 juta. Bisa tekor aku.' batin Doni.

__ADS_1


"Nah, ini nih yang bagus. Cocok dengan warna bajumu." ucap Dion dengan senyum sumringah, sambil memperlihatkan tas berwarna merah menyala, yang sama dengan warna baju Siska.


"Yang ini?" Siska mengernyitkan dahinya sambil memperhatikan dengan seksama tas yang ada dalam genggamannya.


"Iya Sis. Itu bagus banget kalau menurut aku. Kulit kamu kan putih bersih, jadi cocok pakai warna-warna yang cerah."


Dion terus saja menyakinkan Siska dengan tas pilihannya. Karena itu adalah tas termurah di outlet itu. Walaupun sebenarnya Dion juga tak rela untuk membeli tas seharga 2 juta itu. Ia melakukan juga karena terpaksa.


"Ya sudah mas, aku pilih yang ini saja." ucap Siska mengalah.


Keduanya berjalan menuju meja kasir untuk membayar. Setelah itu, mereka kembali berjalan mengelilingi outlet baju.


Di sana Siska kembali memilih baju-baju yang panjangnya tak kurang dari satu meter. Dion menyetujui pilihan Siska. Dengan tetap melihat harganya terlebih dahulu.


Setelah puas berbelanja. Mereka melajukan mobilnya menuju ke sebuah restoran mewah.


"Terima kasih ya mas sudah membelikan ku barang-barang sebanyak ini." ucap Siska sebelum turun.


"Iya sama-sama Sis."


Siska masih menatap wajah Dion dengan intens. Lalu tangan satunya sengaja bergerak untuk menjatuhkan handphone.


"Eh, handphone ku." pekik Siska pura-pura. Lalu dengan sigap Dion mengambilkan handphone yang jatuh dan tepat di bawah kaki Siska.


Sesaat laki-laki itu semakin di buat terpana dengan kulit kaki Siska yang putih dan mulus bak keramik. Dan Siska pun sengaja menggerakkan sedikit kakinya, agar Dion bisa melihat kolor ijo kesukaannya.

__ADS_1


Mata Dion tak bisa berkedip ketika melihat hal itu. Rasanya susah untuk sekedar menelan saliva. Setelah bersusah payah menahan diri agar bisa menguasai keadaan, ia berusaha duduk sambil menyerahkan handphone Siska.


Lagi-lagi ia terperangah kaget ketika melihat Siska memain-mainkan ujung rambut dengan jemarinya. Sambil menyapu bibir tebalnya dengan lidahnya sendiri. Terlihat menggoda di mata Dion.


Merasa sedang diperhatikan Dion, Siska kembali bergerak bak ulat bulu yang berjalan cepat.


Dion tak bisa lagi menahan pesona yang dimiliki Siska. Ia semakin bergerak mendekat, dan akhirnya kedua insan itu membuat mobil yang mereka tumpangi bergetar hebat.


Setelah mereka selesai melakukan aksi seperti barongsai di dalam mobil, Siska menangis.


"Maafkan aku ya Sis." ucap Dion sambil memeluk Siska. Wanita itu tampak mengangguk di dalam pelukan Dion.


"Kamu sebenarnya masih perawan ngga sih Sis?" celetuk Dion dengan entengnya.


"Apa maksud kamu mas? Aku menangis seperti ini karena kamu telah merenggut kesucian ku. Tapi kenapa kamu tega berbicara seperti itu?" Siska mendongak menatap Dion sambil memperlihatkan air matanya yang telah menganak sungai.


"Eh, mak_maksud aku...." Dion bingung mau berkata apa, sehingga ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Itu sama saja kamu menuduh ku bukan perempuan yang baik." ucap Siska lagi.


"Ka_kamu perempuan yang baik kok. Maafkan aku ya. Aku berjanji akan bertanggungjawab." Dion kembali memeluk Siska namun tangan wanita itu menolaknya terlebih dulu.


"Kamu mau bertanggung jawab dengan menikahi ku mas?"


"Iya, besok akan aku kenalkan kamu pada ibuku."

__ADS_1


"Terima kasih mas." Siska tersenyum sambil menghambur ke pelukan Dion.


__ADS_2