
Sementara itu, di dalam ruang yang terpisah. Mahes dan Mala tengah di rias oleh MUA terkenal.
"Luar biasa. Cantik sekali." ucap MUA setelah menyelesaikan tugasnya.
Ia memuji sang pengantin wanita. Yang memakai baju bridal berwarna putih. Dengan aksen mutiara Swarovski.
"Terima kasih pujiannya." balas Mala lembut.
Bu Ningrum yang sudah selesai di make up sejak tadi, dan bahkan juga sempat menyalami para tamu undangan. Kembali masuk ke ruang rias.
"Tan." Mala memeluk Bu Ningrum, ketika wanita itu mendekatinya. Matanya berkaca-kaca, sebentar lagi mungkin kristal bening itu akan terjatuh.
"Ini hari bahagia mu nak. Tidak boleh bersedih." ucap Bu Ningrum sembari mengusap lembut punggung Mala. Gadis itu hanya mengangguk, lalu mendongakkan kepalanya.
"Masih saja Mala teringat dengan papa dan mama, Tan."
Bu Ningrum menangkup wajah Mala dengan kedua telapak tangannya.
"Selamanya mereka itu tetap kedua orang tuamu. Kamu tidak bisa melupakannya. Percayalah, kini mereka tengah tersenyum menyaksikan mu ada di titik ini. Mereka tahu kalau kamu gadis yang kuat. Jika Tante jadi kamu, belum tentu bisa sekuat ini."
"Terima kasih, Tan. Mala juga belum tentu bisa sekuat ini tanpa bantuan Tante. Yang perhatiannya seperti mama Mala sendiri."
"Kamu boleh kok memanggil Tante dengan sebutan mama."
"Benarkah?" Mala menatap serius, dan Bu Ningrum pun mengangguk.
"Ya Allah. Terima kasih sekali lagi, Tan." Mala kembali memeluk Bu Ningrum dengan erat. Meluapkan kebahagiaan nya.
"Sebentar lagi proses ijab qobul akan segera di mulai. Kamu banyak-banyak berdoa ya sayang. Semoga pernikahan kali ini langgeng. Mahes menjadi suami yang tepat untuk kamu. Sekarang Tante balik ke depan ya."
**
__ADS_1
Di ruang yang lain, Mahes juga sudah selesai di rias. Ia tampak tampan menggunakan stelan serba putih. Dan kini salah seorang kerabat mendekatinya.
Ia membisikkan sesuatu di telinga Mahes, yang membuat jantungnya kembali berdegup kencang.
Mahes bangkit berdiri, dan berjalan beriringan menuju meja akad nikah.
**
Sementara di luar, Doni mematikan mesin sepeda motornya. Karena sudah tidak bisa menerobos masuk lagi.
Apalagi di depannya orang-orang yang berpenampilan rapi dan wangi baru saja turun dari mobil. Berbeda jauh dengan keadaannya sekarang. Seketika ia merasa minder.
Ia memarkirkan motornya di bawah pohon. Lalu mengendap-endap melewati mobil. Ia ingin memastikan bahwa tebakannya salah.
Tapi belum sampai di dekat gerbang, seorang petugas keamanan mengetahui gerak-geriknya yang terlihat mencurigakan.
"Hei! Berhenti kamu!" ucap security lantang. Sambil menodongkan tongkat yang ia bawa pada Doni, dalam jarak beberapa meter.
"Iya, kamu yang saya maksud. Memangnya siapa lagi?" security itu mendekat ke arah Doni dengan tatapan tajam.
"Ada perlu apa kamu disini? Mau minta makan, atau justru mau mencuri ya?"
Doni menggeleng kuat.
"Saya tidak mau minta makan, atau pun mau mencuri, pak. Saya cuma mau memastikan jika yang menikah bukan mantan istri saya."
"Memang siapa mantan istri kamu, hah?"
"Mala, pak. Kemala Ayu."
Seketika security itu tertawa terbahak-bahak. Bahkan ia memanggil rekan-rekannya untuk mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Ada apa woi. Di suruh mengamankan, malah mojok disini sambil tertawa seperti itu. Ini lagi siapa?" ucap rekan sesama security. Ia melihat Doni dengan pandangan yang meremehkan.
"Ini orang katanya ngaku jadi mantan suaminya Bu Mala. Makanya aku sampai tertawa seperti tadi." ucap security yang pertama melihat Doni. Dan security yang baru saja datang kini justru terkekeh.
"Hei, ngaca dong kamu. Bu Mala siapa dan kamu ini siapa. Perbedaannya bagai langit dengan bumi. Mustahil dulu pernah menjadi suaminya. Kecuali dulu kamu main dukun. Bu Mala kamu jampi-jampi. Setelah dukunnya meninggal, hilang tuh jampi-jampi nya."
Di posisi seperti itu membuat Doni merasa tak nyaman. Ia begitu direndahkan.
Padahal dulu ketika masih sehat dan berpenampilan rapi, justru dialah yang sering merendahkan orang lain. Kini keadaan berbanding terbalik.
"Pak, tolong jawab pertanyaan saya tadi. Yang menikah Mala atau bukan ya." ucap Doni, setelah tak kuat menahan rasa sesak di dada akibat di hina.
"Iya, yang menikah memang bu Mala dengan pak Mahes. Keduanya itu adalah pasangan yang sangat serasi. Satunya tampan, satunya lagi cantik. Dan yang lebih penting, sama-sama kaya-raya dan baik hati." tandas security.
"Nah, kalau kamu sudah tahu, sekarang kamu buruan pergi. Karena kami harus kembali kerja."
Doni mengangguk, dan dengan perasaan yang berat ia melangkah pergi menuju kendaraannya terparkir.
Terdengar suara microfon yang di ketuk-ketuk. Lalu terdengar suara seseorang menggunakan mic itu.
"Saudara Mahesa Sadewa saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri ku Kemala Ayu dengan seperangkat alat sholat dan tiket umrah di bayar tuunai." ucap penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kemala Ayu dengan seperangkat alat sholat dan tiket umrah di bayar tunai." ucap Mahes dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah." "Sah."
"Alhamdulillah."
"Sah." gumam Doni di atas kendaraannya. Tanpa ia sadari air matanya menetes.
__ADS_1