
Mala dan Mahes sepakat pulang di kediaman Mala setelah pulang umrah. Keduanya tiba di kediamannya saat siang hari.
Keduanya mengernyitkan dahi ketika melihat seorang wanita yang berpakaian lusuh duduk di gerbangnya.
"Apa pak Adit tidak tahu ya mas, kalau ada pengemis di situ? Kok dibiarkan saja." gumam Mala pada suaminya. Saat keduanya masih duduk nyaman di dalam mobil.
"Mungkin pak Adit baru ke belakang. Jadi dia tidak tahu."
"Aku ambilkan oleh-oleh untuknya ya mas, sekalian mau aku kasih sedikit uang."
"Iya, tidak apa-apa."
Mala menyiapkan makanan dan merogoh uang dalam dompetnya.
Mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang. Mahes dan Mala turun bersamaan. Keduanya mendekati wanita berpakaian lusuh itu.
"Ibu, ini ada sedikit rezeki. Silahkan diterima." ucap Mala ramah, ia menyodorkan uang dan makanan pada ibu itu.
Ibu itu mendongak dan menatap Mala lekat.
"Ma-mala." gumamnya dengan senyum sumringah.
__ADS_1
Sementara Mala dan Mahes saling beradu pandang sambil mengernyitkan dahi. Keduanya tidak tahu siapa orang itu, dan kenapa bisa tahu namanya.
"I-ini ibu, nak. Ibunya Doni."
Mala menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. Ia terkejut melihat penampilan mantan ibu mertuanya yang tampak jauh berbeda.
Dulu ia bertubuh gemuk, kulit kuning, dan berpenampilan seperti sosialita, walau kenyataan nya hanya orang tidak punya.
Tapi kini ia kurus, kulitnya kusam, rambutnya kusut, dan badannya juga kurus. Sehingga Mala tidak mengenalinya sama sekali.
"Apa yang terjadi dengan ibu? Kenapa jadi seperti ini? Tadi kesini diantar mas Doni atau sendiri?" Mala memberondong dengan pertanyaan.
Bu Mirna menggeleng lemah lalu air matanya menetes. Mala merasa kasian. Akhirnya ia mengajak Bu Mirna menepi, agar tidak kepanasan.
"Mala, atas nama Doni, ibu mewakilkan nya untuk meminta maaf."
"Semuanya sudah berlalu, saya sudah mencoba ikhlas dan memaafkan kesalahan ibu dan mas Doni. Semoga kedepannya tidak mengulangi kesalahan yang sama."
"Terima kasih, Mala. Kamu memang perempuan yang baik. Semoga pernikahan mu kali ini langgeng sampai maut memisahkan."
"Sama-sama Bu. Terima kasih atas do'anya. Omong-omong kenapa bukan mas Doni sendiri yang kesini. Jika memang ia berniat meminta maaf."
__ADS_1
"Dia... Sudah meninggal." Bu Mirna meneteskan air mata. Sementara Mala dan Mahes sangat terkejut. Hingga wanita cantik itu berkali-kali menutup mulutnya.
"Mungkin semua ini adalah karma yang harus kami tanggung akibat berbuat jahat padamu dulu."
"Ya Allah, tidak Bu." Mala bingung harus berkata apa. Mahes memeluk istrinya untuk menenangkannya.
Mala dan Mahes tidak mengetahui akan kabar meninggalnya Doni. Karena memang tidak ada yang memberitahunya.
"Ibu kesini hanya mau ingin menyampaikan itu. Jika kamu sudah memaafkan segala kesalahan kami, ibu sangat bersyukur. Dan sekalian pamit pulang."
"I-ini di bawa Bu." Mala menyerahkan makanan dan uang pada Bu Mirna.
"Kedatangan ibu tidak untuk meminta uang kalian, Mala." Bu Mirna menolak pemberian Mala.
"Tidak apa-apa, Bu. Kami ikhlas. Semoga cukup untuk biaya hidup ibu."
Setelah berulang kali memaksa, akhirnya Bu Mirna menerima pemberian Mala. Bahkan Mala kembali merogoh dompetnya dan memberikan uang lebih pada mantan ibu mertuanya. Karena ia bisa melihat ketulusannya dalam meminta maaf.
Setelah itu Bu Mirna pamit pulang dengan berjalan kaki. Mala dan Mahes menatap dengan sedih kepergiannya.
Semoga setelah lika-liku yang mereka lewati, menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua.
__ADS_1
❤️❤️