
Setelah panggilan berakhir, tak lama kemudian, mbak Ima keluar dari lobby. Doni mengucapkan terima kasih pada security, lalu berlari kecil mendekati mbak Ima.
"Dengan mbak Ima?"
"Iya. Mas nganterin pesanan nasi box punya saya kan?"
"Iya mbak. Maaf sedikit terlambat. Karena Siska memberi tahu saya juga mendadak. Pagi tadi saat di kedai, dia baru memberi tahu saya. Jadi saya harus belanja semuanya secara mendadak."
"Tidak apa-apa. Belum begitu terlambat, karyawan juga belum keluar. Saya maklum, sepertinya kemarin Siska itu sedang ada masalah. Dia tampak murung setelah pulang kerja."
Doni menebak, bahwa Siska tengah memikirkan kejadian di pasar kemarin sore.
"Iya, mbak. Saya juga kurang tahu apa sebabnya. Oh iya, makanannya mau di taruh mana? Biar saya ambilkan."
"Di sini saja. Nanti biar saya minta tolong OB untuk membawa ke dalam."
"Oh, baiklah mbak. Saya ambil dulu."
Mbak Ima mengangguk sambil menyunggingkan senyum pada Doni. Laki-laki itu pun segera berjalan ke arah mobilnya yang masih berada di pinggir jalan.
Ia segera melajukan kendaraan roda empat nya, dan berhenti tepat di depan lobby perusahaan. Ia pun mengeluarkan paket nasi box yang sudah di ikat, menjadi beberapa bagian yang sama.
Lalu meletakkan di lobby, seperti permintaan mbak Ima. Kemudian ia menghitungnya kembali dengan nada suara yang lebih keras. Agar mbak Ima mendengarnya.
"Pas ya, mbak. Semua totalnya ada dua ratus box. Per lima puluh box saya kasih free satu box. Jadi total free nya ada empat box. Total bayarnya dua ratus box kali dua puluh ribu, sama dengan empat juta. Sudah free ongkir." tutur Doni panjang lebar.
"Iya, terima kasih sudah dikasih bonus dan free ongkir pula. Ini uangnya di hitung dulu." mbak Ima tersenyum ramah sambil menyerahkan empat gepok lembaran uang merah.
__ADS_1
"Saya hitung dulu ya, mbak." Doni menerima uang itu, lalu mulai menghitungnya.
"Pas ya, mbak. Terima kasih. Jangan kapok beli di tempat saya ya, mbak. Dan semoga suka."
"Iya, sama-sama. Kalau begitu saya masuk dulu ya. Mau segera dibagi-bagi."
"Iya mbak, silahkan."
**
Di kedai, Siska tengah berjibaku dengan pekerjaannya. Mendengar suara sepeda motor yang berhenti di depan kedai, ia yakin jika itu adalah pengunjung kedainya.
Ada rasa deg-degan bercampur was-was. Karena Doni belum juga kembali. Pekerjaannya juga belum selesai. Ayam gorengnya telah habis untuk pesanan tadi. Dan kini, masih proses menggoreng.
Tebakannya benar, dua orang pengunjung terlihat memasuki kedai. Siska berlari ke arah cermin. Memastikan penampilannya sudah rapi. Agar pengunjung tidak ilfill.
"Astaga, muka ku. Sudah seperti ayam goreng crispy saja. Tepung sama minyak jadi satu." gumam gadis itu. Ia pun segera membersihkan diri, lalu buru-buru menyapa pengunjung.
"Baik, mas. Tunggu sebentar ya."
Siska membungkukkan badan sambil tersenyum, lalu segera berjalan dengan cepat untuk menyiapkan pesanan pembeli.
Ia menghirup nafas lega, ketika telah selesai melayani pembeli.
Tak lama kemudian, pembeli kedua, ketiga dan seterusnya terus berdatangan. Siska semakin keteteran.
Namun, meskipun begitu ia berusaha sekuat tenaga melayani pelanggan dengan cara terbaik.
__ADS_1
**
Sepanjang perjalanan, Doni terus menyunggingkan senyum. Karena bahagia berhasil menyelesaikan pesanan pembeli dalam jumlah yang sangat banyak.
Di tengah perjalanan, ia teringat Siska. Pasti gadis itu belum makan siang. Ia memang mengutamakan para pembeli dari pada dirinya sendiri. Sehingga Doni merasa kasian dan sangat merasa bersalah.
Tanpa sengaja, Doni melihat kedai ayam bakar. Ia pun membelokkan mobilnya. Lalu memesan dua porsi ayam bakar.
Setelahnya, ia mempercepat laju kendaraannya. Agar cepat sampai lokasi kedai.
Sesampainya di kedai, terlihat Siska tengah sibuk mondar-mandir melayani pembeli seorang diri. Doni semakin merasa bersalah melihat hal itu.
"Maaf ya, Sis. Aku terlalu lama." ucap Doni sambil berdiri di dekat Siska yang tengah menyiapkan makanannya.
"Tidak apa-apa, mas." balas Siska singkat, lalu membawa nampan berisi makanan untuk pengunjung.
"Kamu makan siang dulu, Sis. Gantian aku yang melayani pembeli."
"Nanti saja, mas. Tanggung." Siska memasukkan ayam ke penggorengan.
"Nanti kamu sakit. Aku akan semakin merasa bersalah. Sekarang sebutkan pesanan para pelanggan." tegas Doni.
Siska pun tak berani membantah. Ia mengatakan semua pesanan pembeli yang belum disiapkan, pada Doni.
"Okay. Kamu sekarang makan nasi yang ada di plastik warna putih itu. Kalau masih lapar, dua box itu boleh kamu habiskan."
"Apa? Memangnya perut ku terbuat dari apa. Masa makan sampai dua box."
__ADS_1
"Kamu harus kuat. Karena setiap hari kita berdua bertempur dengan pengunjung yang cukup banyak. Jangan sampai drop."
Siska menganggukkan kepalanya patuh, lalu berjalan menuju plastik putih yang terletak di atas meja, dekat kasir.