
Mahes hanya geleng-geleng kepala melihat apa yang dilakukan Doni tadi. Setelah itu bergegas ia menuju ke mobil mewah miliknya, yang telah disiapkan di depan lobby. Ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai rumah.
Sedangkan Doni duduk di kursi bawah pohon sambil memesan taksi online. Setelah selesai, ia meletakkan handphonenya di atas tas kerjanya, lalu menatap ke ruas jalan.
Sebuah mobil mewah dengan kecepatan tinggi melintas di depannya. Doni yang melihat mobil mewah itu menatap penuh rasa kagum. Dan ingin rasanya untuk memiliki. Agar tidak ada lagi orang yang meremehkan nya.
"Bukan kah, itu tadi si Mahes?" ia membulatkan matanya, karena terlambat menyadari. Jika laki-laki yang menggunakan kacamata hitam dan melajukan mobil mewah tadi adalah bos yang menyebalkan menurutnya.
"Awas saja. Jika nanti aku sudah menjadi pengusaha sukses, akan ku balas mereka semua. Termasuk membalas si Mahes yang angkuh dan sombong itu." gumam Doni sambil menatap mobil itu dengan seksama.
Tin...tin...tin
Tak lama kemudian, mobil taksi yang ia pesan akhirnya datang mengejutkannya. Doni mengusap dadanya untuk menghilangkan keterkejutannya. Lalu berjalan masuk ke dalam mobil.
Tiba-tiba ia penasaran dengan rumah Mahes. Ia segera menyuruh sopir untuk mengikuti mobil mewah yang baru saja belok kiri.
Sang sopir pun patuh mengikuti perintah Doni. Lalu menambah laju kecepatannya.
Doni tercengang ketika melihat rumah Mahes yang tak kalah besar dan mewahnya seperti rumah Mala. Bahkan rumah Mahes terlihat seperti istana.
"Pantas saja aku cuma dapat gaji sebulan sepuluh juta. Ternyata keuntungan perusahaan yang besar itu untuk membangun rumah sebesar dan semewah ini? Aku tidak terima. Aku harus bertemu dengannya, dan meminta pesangon yang lebih banyak lagi." gumamnya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar pak, saya mau menemui saudara saya dulu." ucap Doni pada sopir. Laki-laki berseragam biru itu pun mengangguk.
Setelah Doni keluar, sopir itu menggelengkan kepalanya, karena heran dengan kelakuan penumpangnya yang cukup aneh.
Tadi sempat mengatakan yang tidak-tidak tentang Mahes. Dan sekarang justru mengaku-ngaku jika Mahes adalah saudaranya.
Doni turun dengan langkah cepat menyusul Mahes. Security yang mengetahui Doni asal masuk gerbang tanpa permisi segera menghadangnya.
"Mas-mas. Maaf anda siapa?" tanya security sambil merentangkan kedua tangannya menghentikan langkah Doni.
"Alah, kamu apa-apaan sih. Main nyelonong saja. Aku ini saudaranya Mahes. Mau bertemu dengannya." Doni menurunkan sebelah tangan security. Tapi security itu berusaha mempertahankan agar Doni tetap tidak masuk.
"Tunggu di pos, saya tanyakan pada tuan Mahes dulu. Mau bertemu dengan mu apa tidak. Namanya siapa?" tegas security.
Mahes yang mendengar keributan itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia menggelengkan kepalanya ketika lagi-lagi melihat Doni yang berulah. Bergegas ia mendekatinya yang tengah bersitegang dengan security.
"Ada apa lagi kamu datang kesini?" tanya Mahes dengan entengnya.
"Keluarga mu membayar ku sepuluh juta sebulan. Ternyata keuntungan perusahaan yang besar untuk membuat rumah semegah ini?"
Mahes tersenyum simpul. Sedangkan security yang masih di situ menempelkan salah satu jarinya di kening dan memiringkan nya. Sebagai isyarat menyebut Doni orang gila.
__ADS_1
"Kamu hanya tahu saat ini saja. Tapi tidak tahu perjuangan keluarga ku saat tengah membangun sebuah kerajaan bisnis.
Asal kamu tahu, aku pernah makan nasi bertabur garam dan sepotong ikan asin. Karena dulu kami memanglah tak punya apa-apa.
Tapi berkat kegigihan, semangat dan banyak pengorbanan yang dilakukan kedua orang tuaku, sehingga kami bisa sampai pada titik ini.
Karena semua itulah, aku tetap berlaku rendah hati. Makan bareng dengan security pun aku tak canggung. Toh makan bareng security atau makan bareng keluarga, rasa makanan yang kita makan juga tidak berubah. Iya kan pak?"
Mahes tersenyum sambil merangkul bahu security yang usianya hampir setengah abad. Laki-laki berseragam full navi itu pun membalas dan merangkul bahu Mahes.
Doni yang melihat hal itu justru bergidik ngeri. Seolah-olah security adalah pekerjaan yang hina.
"Halah, aku tidak percaya dengan omong kosong mu. Sekarang berikan aku uang pensiun tambahan. Maka aku akan segera pergi dari sini." Doni tetap kukuh dengan keyakinannya.
Mahes tidak mau membuang waktu terlalu lama. Ia pun segera mengeluarkan dompetnya dan menarik seluruh lembaran merah yang ada di dompetnya.
"Nih, aku tambahin. Biar ngga nangis kayak di kantor tadi." Mahes menarik tangan Doni dan menyerahkan uang padanya.
Dengan tidak tahu malu, Doni menghitung uang itu dihadapan Mahes dan security-nya.
"Satu juta saja?"
__ADS_1
"Nih, uang ku sudah habis." ucap Mahes sambil memperlihatkan dompetnya yang kosong.
"Kalau aku jadi istri mu, pasti aku malu banget. DASAR SUAMI TAK TAHU DIRI." ucap security.