
"Maafkan, aku ya mas. Karena aku, hari ini kamu tidak ke pasar."
"Tidak apa-apa. Besok pagi aku juga masih bisa kesana kok. Atau setelah mengantarkan mu pulang nanti."
Hening sekian waktu, sampai akhirnya mobil berhenti di depan kost-kostan Siska.
"Terima kasih ya, mas. Sudah mengantarkan ku pulang." ucap Siska sebelum turun dari mobil.
"Hem. Sama-sama. Oh iya, Sis. Aku boleh minta nomor telepon mu? Jika terjadi apa-apa, kita bisa saling memberi kabar."
"Boleh, mas." balas Siska diiringi senyuman.
Doni pun mengeluarkan handphonenya, lalu menyerahkan pada Siska. Agar gadis itu menuliskan nomor teleponnya.
Sejak awal sampai Siska bekerja selama sebulan lebih. Doni memang sampai lupa untuk meminta nomor handphone Siska.
Mungkin, lantaran keduanya selalu berangkat dan pulang pergi bersama. Dan bahkan sering berkomunikasi secara langsung, ketika di kedai ayam.
"Sudah, mas." Siska menyerahkan handphone Doni kembali.
"Oh iya, Sis. Ini makanannya untuk kamu saja. Biar kamu ngga perlu keluar untuk beli makanan." Doni menyerahkan nasi ayam bakar, yang belum sempat ia makan tadi, karena memang benar-benar kerepotan.
"Aku tidak mau, kamu menolak pemberian ku." tegas Doni, karena melihat Siska tidak segera menerima uluran tangannya.
"Terima kasih, mas. Semoga rezeki mu semakin lancar."
"Aamiin. Kalau begitu, aku pamit dulu ya." pamit Doni, Siska mengangguk mengiyakan. Lalu menutup pintu mobilnya.
__ADS_1
**
Mahes dan Mala sedang dalam perjalanan menuju kedai ayam goreng crispy. Sesuai dengan alamat yang diberikan oleh mbak Ima, karyawannya.
"Itu bukan sih mas, kedai ayam nya? Tapi kok tutup?"
Mala menunjuk sebuah kedai makan, yang bercat merah dan kuning. Terdapat gambar menu makanan dan juga gambar cabe yang di taruh di atas cobek. Dari design gambarnya saja sudah mengundang orang untuk mampir dan mencicipi.
"Iya ya. Mungkin sudah habis, di borong sama Ima tadi."
"Yah." lirih Mala tertunduk lesu.
Mahes juga kasian dengan istrinya, ketika melihatnya seperti itu. Ia pun menggenggam tangan Mala dengan erat.
"Besok kita kesini lagi saja, pas jam makan siang. Kalau ini kan sudah terlalu kelewat."
Ibu hamil yang satu itu, jika sudah punya keinginan, sulit untuk di bantah. Hal itulah, yang terkadang membuat Mahes pusing tujuh keliling.
Meskipun sebenarnya apa yang di minta istrinya, adalah hal yang murah. Tapi ia tidak atau belum bisa memberikannya.
"Ya sudah. Nanti sampai rumah, aku buatkan yang spesial untuk mu ayam goreng crispy nya." Mahes berusaha membujuk istrinya, sambil menyunggingkan senyum dan menaik turunkan alisnya.
"Iya sih, mas. Masakan mu juga enak. Tapi, aku tuh inginnya rasanya sama persis seperti yang aku makan tadi."
"Bukan cuma aku saja yang minta. Tapi anak kita juga." Mala berkata dengan tegas. Hingga ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan pandangannya lurus ke depan. Menatap kedai ayam goreng crispy. Sambil berdoa, semoga pintunya dibuka.
Sedangkan Mahes sendiri, mengambil nafas panjang, lalu mengeluarkan cepat. Dia pikir, menjadi ibu hamil itu susah. Tapi ternyata pikirannya salah. Menjadi suami ibu hamil, jauh lebih susah.
__ADS_1
Karena permintaan ibu hamil itu serba dadakan bak tahu bulat. Atau permintaan ibu hamil itu seperti permintaan Roro Jonggrang. Yang meminta dibuatkan seribu candi, dalam waktu semalam.
Setelah saling diam sekian menit, akhirnya Mala juga menghembuskan nafas panjang. Lalu mengajak pulang.
"Ya sudah, mas. Ayo kita pulang. Tapi janji ya, besok siang kita kesini."
"Janji. Jika ada pekerjaan, aku juga tetap akan meluangkan waktu. Agar bisa pergi bersama mu."
Mahes tersenyum lega. Ia mengulurkan jari kelingkingnya. Meminta Mala menautkan jari kelingkingnya ke jarinya.
"Sayang, bukan kah besok pagi kita ada jadwal kontrol. Aku ingin kita melakukan USG. Agar tahu lebih jelas, perkembangan anak kita di dalam perut mu."
Mala menoleh ke arah suaminya, sambil mengernyitkan dahi. Ia sendiri malah lupa, kapan jadwal kontrol. Dan suaminya lah yang selalu mengingatkan.
"Apa tujuan mu melakukan USG, hanya ingin melihat perkembangannya saja mas? Tidak penasaran ingin melihat jenis kelaminnya begitu."
"Jenis kelamin itu, kalau tidak laki-laki ya perempuan. Itu sudah pasti. Kenapa masih penasaran juga. Toh, nanti kalau anak pertama yang keluar laki-laki, anak keduanya bisa jadi perempuan kan?"
"Kalau anak kedua yang keluar laki-laki juga. Bagaimana?"
"Ya kita coba lagi. Sampai dapat anak perempuan."
"Apa! Seperti undian berhadiah saja. Kalau belum beruntung, di suruh coba lagi."
Mala mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Mahes terkekeh kecil.
"Ya memang seperti itu, sayang. Orang usaha saja, kalau gagal, disuruh coba lagi sampai berhasil. Begitu juga dengan kita yang ingin anak-anak yang lucu-lucu dan jenis kelaminnya juga berbeda-beda."
__ADS_1