
Saat sholat subuh, Mala mengucap syukur dan berdoa sembari menengadahkan tangannya. Ia benar-benar bersyukur dengan kehidupannya kini.
Terasa kembali berwarna dengan kehadiran suaminya tercinta. Ia datang, bak pahlawan yang membantunya bangkit dari keterpurukan.
Ia yakin, suaminya itu tidak akan pernah meninggalkannya. Karena keduanya sama-sama tahu tentang perjalanan hidup masing-masing.
Tentu saja, perjalanan hidup keduanya sama-sama tidak mudah. Dan lewat hal itu, keduanya belajar bersama untuk membina rumah tangga yang lebih baik.
Setelah selesai, ia menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum berangkat ke kantor. Meskipun ia memiliki asisten rumah tangga, tak sepenuhnya ia membebankan semua pekerjaan pada mereka.
Kini semuanya siap, tersaji di atas meja makan. Wanita itu segera menaiki tangga menuju kamarnya. Untuk memanggil suaminya. Baru saja, ia memegang knop, pintu itu sudah terbuka.
Bau parfum versus bau bawang, langsung menyeruak di indera penciuman mereka. Bahkan keduanya terlihat mengenduskan hidungnya.
"Mas, aku mandi dulu ya. Kamu sarapan dulu gih. Nanti ke buru telat. Minggir dong."
Mahes terkekeh mendengar celotehan istrinya yang terlihat seperti orang tidak percaya diri.
Padahal ia merasa bau bawang yang melekat pada tubuh istrinya, pertanda wanita itu sedang berkorban padanya. Berusaha menjalankan kewajibannya dengan baik.
Mahes memegang kedua bahu istrinya, sebelum ia masuk ke dalam. Dan menatapnya dengan intens.
"Sayang, kamu pasti tidak percaya diri dengan bau badanmu." Mahes sengaja menjeda ucapannya, yang membuat Mala tertunduk, tidak nyaman.
__ADS_1
"Padahal aku tidak apa-apa jika harus mencium bau ini setiap hari. Karena itu tandanya kamu tengah berusaha menjadi istri yang baik. Dengan melayani suami sepenuh hati. Mandinya nanti saja. Sekarang temani aku sarapan pagi yuk." Mahes memutar tubuh istrinya, sebelum ia sempat menjawab.
Mala begitu speechless dengan apa yang diucapkan suaminya.
Setelah di ruang makan, Mahes menarik sebuah kursi untuk istrinya. Barulah untuk dirinya. Mala pun menuangkan nasi dan sayur ke piring suaminya.
Melihat makanan yang tersaji dan begitu menggoda lidah, Mahes pun segera mencicipinya. Matanya kedip-kedip merasakan perpaduan bumbu dan sayur yang pas.
"Hem, masakan mu enak sekali sayang." ucap Mahes disela-sela aktivitas makannya.
"Benar kah?" mata Mala membulat.
Mahes pun mengangguk dengan senyum yang terkembang indah, sehingga Mala juga membalasnya dengan mengembangkan senyum di bibirnya.
"Tidak, sayang. Kamu masak apa saja, pasti aku makan kok. Karena itu hasil usaha mu. Dan sebagainya seorang suami, aku harus mengapresiasi kerja istri ku. Terlepas dari itu semua, masakan mu memang enak." Mahes mengacungkan kelima jempolnya.
"Kalau kamu terus memuji ku seperti itu, bisa-bisa aku terbang tinggi dan akhirnya nyangkut deh di atas pohon." Mahes tertawa mendengar celotehan istrinya.
**
Sementara itu, di sudut ruang lainnya. Siska keadaannya berangsur-angsur membaik. Ia sudah bisa berjalan lagi, walaupun masih sedikit tertatih.
Hal itu bisa saja terjadi, karena ia memiliki uang yang lebih dari cukup untuk mengcover seluruh biaya pengobatannya.
__ADS_1
Uang itu di dapat dari penjualan mobilnya, dan apartemennya. Uang hasil penjualan rumah mertuanya juga ikut dipakai untuk pengobatan. Dan seluruh perhiasannya pun bahkan ikut terjual.
Karena untuk membiayai penyakit seperti itu, memang membutuhkan banyak uang.
Kini, ia menikmati sarapan paginya seorang diri. Yang terdiri dari sepotong roti dan susu putih serta buah.
Meskipun ia belum merasa lapar, tapi demi kesembuhannya, ia harus rutin dan rajin mengkonsumsi sejumlah obat, dan menjaga pola makannya.
Biasanya ada tetangga kost-kostannya yang menemaninya makan bersama. Tapi karena pagi itu tetangganya masuk kerja, maka ia hanya bisa makan seorang diri.
Tak banyak yang bisa ia lakukan di kamarnya. Selain hanya menyesali semua yang telah terjadi. Dan berjanji dalam dirinya sendiri untuk tidak melakukan perbuatannya itu lagi.
"Mungkin ini adalah teguran dari Tuhan, agar aku kembali ke jalan yang benar. Ya walaupun aku juga sadar, selama ini aku memang belum pernah berjalan di jalan kebenaran." gumamnya, sambil menatap pemandangan di balik jendela kamarnya.
Tatapannya terasa hampa. Karena di saat ia tengah terpuruk dan berjuang mengalahkan rasa sakit, tapi tidak ada seorang pun yang menemani dan berada disampingnya. Hingga air matanya luruh.
"Aku harus semangat. Tuhan masih sayang padaku. Aku harus memperbaiki diri ku. Agar hidup ku ini tidak sia-sia belaka." gumamnya yakin.
Ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dengan langkah yang tertatih, ia berjalan menuju kamar mandi. Untuk membersihkan tubuhnya.
Ia mengobrak-abrik isi lemari, untuk mencari bajunya yang layak di pakai untuk pergi ke rumah sakit.
❤️❤️
__ADS_1