
Bu Mirna terus merengek, mengajak jalan-jalan. Akhirnya Doni pun mau tak mau menurutinya. Setelah sebelumnya ia meminta ibunya berjanji untuk tidak membeli banyak barang.
Doni, Bu Mirna dan Siska pergi ke sebuah mall dengan menaiki taksi online. Ketiganya bergaya layaknya sosialita.
Barang-barang yang dikenakannya tampak mewah. Walaupun sebenarnya ada beberapa barang kualitas tiruan yang menempel di tubuh mereka.
Tintintin
Suara taksi yang mereka pesan sudah datang.
"Ibu, Siska. Ayo." teriak Doni memanggil dua wanita yang ia cintai.
"Ih, kamu sukanya kok teriak-teriak sih mas." ucap Siska sambil memoleskan lipstik warna merah menyala.
"Iya nih, ibu juga lagi memakai perhiasan, biar kelihatan orang kaya." ucap Bu Mirna sambil melingkarkan sebuah gelang di tangan kirinya.
Ia yang berjalan menunduk tak sengaja menubruk Siska yang tengah berdiri dihadapannya.
"Aduh... Ibu. Kalau jalan pakai mata dong. Ngga lihat ada orang segede ini apa? Main tabrak-tabrak saja." gerutu Siska.
Ia kembali menoleh pada cermin yang ia genggam.
"Arghhh... Jadi nyopret kan lipstik ku." teriak Siska dengan wajah yang merah padam. Dan hal itu justru membuat Bu Mirna terkekeh.
Siska melihat ibu mertuanya yang masih terkekeh. Tangannya bergerak cepat memoles pipi wanita tua itu dengan lipstiknya.
"Rasain tuh." ucap Siska yang diiringi dengan suara gelak tawa. Sementara bu Mirna justru cemberut.
"Awas kamu ya." ucap Bu Mirna, tangannya terulur hendak menarik rambut menantu tak tahu dirinya.
"Arghhh... Sudah-sudah. Kalau seperti ini jadinya, lebih baik tidak jadi pergi." gertak Doni penuh emosi.
Hal itu sukses membuat kedua wanita itu berhenti berperang.
"Taksinya sudah datang, masa dibatalin. Ibu ngga mau." Bu Mirna segera berjalan menuju ke arah taksi duluan. Dan kemudian di susul oleh anak dan menantunya.
__ADS_1
Doni duduk di tengah-tengah antara ibu dan istrinya. Kedua wanita itu saling melirik dan akhirnya membuang pandangan ke sisi jalan, saat pandangan keduanya saling beradu.
"Ke Star Mall pak." ucap kedua wanita itu bersamaan. Doni menepuk jidatnya, khawatir kedua wanita itu akan membeli barang-barang yang mahal. Karena mall itu memang yang paling terkenal di kotanya.
"Akhirnya, kesampaian juga masuk mall ini." gumam Bu Mirna sambil membenarkan letak kaca mata hitamnya.
"Ish, jangan norak dong bu. Seperti ngga pernah kesini saja." cetus Siska.
"Sudah diam, jangan bertengkar melulu. Kita kesini untuk menghilangkan stress." tegas Doni. Sebelum timbul peperangan lagi.
Mereka pun melenggang memasuki mall.
**
Dan di kediaman Mala, ia sudah lama sekali tidak jalan-jalan. Akhirnya ia mengajak seluruh asisten rumah tangganya untuk jalan-jalan bersama.
Hal itu di sambut rasa syukur dari para asisten rumah tangganya, karena majikannya begitu baik.
Kini mereka juga tengah bersiap-siap. Mahes yang sudah siap sejak awal, menunggu di dekat pintu kamar Mala.
Sementara Mahes justru menatap Mala tak berkedip. Ia melihat Mala yang jauh lebih cantik. Bekas luka di wajahnya kini telah hilang. Di poles dengan make up natural membuat wanita itu semakin cantik dan memesona.
Kali ini Mala mengenakan stelan gamis warna moccha dan jilbab yang senada. Terlihat semakin anggun penampilannya.
"Mahes, kenapa kamu menatap ku seperti itu?" wajah Mala bersemu merah karena malu di tatap Mahes terlalu lama.
"Mahes." ulang Mala lagi, yang membuat laki-laki itu meringis.
"Eh, ma-maafkan saya non. Non Mala sudah siap?" Mala mengangguk, lalu Mahes pun mendorong kursi rodanya.
"Non Mala cantik sekali." puji para asisten rumah tangganya.
"Terima kasih bi. Wajah Mala cepat sembuh juga tak luput dari doa dan pertolongan bibi." balas Mala.
Selain memakai salep dan cream dari rumah sakit, Mala juga rutin memakai serbuk ramuan tradisional racikan para asisten rumah tangganya.
__ADS_1
Kakinya Mala juga sudah cukup membaik, terasa lebih ringan saat digerakkan. Berkat rutin meminum obat, terapi dan juga para asisten rumah tangganya selalu memijit sebelum tidur.
Mala tak bisa membalas semua kebaikan yang telah asisten rumah tangganya lakukan. Maka dari itu ia berinisiatif untuk menyenangkan hati mereka. Dengan mengajaknya jalan-jalan.
"Ayo kita segera berangkat." ucap Mala. Semua serempak mengangguk, dan berjalan bersama menuju carport.
Dengan hati-hati, Mahes membantu Mala masuk ke dalam mobil. Sedangkan para asisten rumah tangga duduk di kemudi belakang.
Setelah semua siap, mobil pun mulai melaju.
"Pak, titip rumah ya. Assalamu'alaikum." ucap Mala pada security, ketika mobil berhenti di dekat pintu gerbang.
"Siap non. Wa'alaikumussalam."
Mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang cukup ramai dipadati para pengguna jalan.
"Mahes, kita ke mall Star ya." titah Mala, dan Mahes pun mengangguk setuju.
Selama perjalanan mereka saling bercakap-cakap, sehingga membuat perjalanan jauh tidak terasa membosankan.
Bibi terlihat senang, karena untuk pertama kalinya akan di ajak ke sebuah mall yang ternama di kota itu.
Kini mobil memasuki pelataran parkir mall.
"Ya Allah, ini yang namanya mall?" ucap bibi dengan binar bahagia melihat gedung berlantai empat yang tinggi menjulang.
"Iya, bagus banget. Ngga nyangka akhirnya bisa masuk ke mall yang paling terkenal di kota ini." ucap bibi yang lainnya.
Mala dan Mahes, tersenyum mendengar celotehan para asisten rumah tangga itu.
"Ya sudah bi, ayo kita masuk sekarang." ajak Mala.
"Eh, iya-iya non." balas bibi dengan senyum sumringah.
Mereka pun berjalan beriringan menuju mall.
__ADS_1