Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
45. Berlatih jalan


__ADS_3

"Mas, tumben belum bersiap-siap?" tanya Siska, saat ia tengah memoles wajah dan suaminya justru masih terlihat asyik rebahan. Padahal jam dinding telah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.


"Aku sudah di pecat." sahut Doni malas.


"Apa!" Siska terkejut dengan apa yang di ucapkan suaminya. Hingga ia menoleh dan menatap ke arah suaminya dengan intens.


"Kok bisa sih mas?"


"Aku di fitnah. Ya sudah aku terima nasib saja."


"Kamu harus cepat cari pekerjaan lain dong. Bukan malah tidur-tiduran seperti itu."


"Gampang lah besok. Yang jelas hari ini aku mau tidur dulu. Capek semalam habis main dengan mu."


"Kok besok? Sekarang!" tegas Siska.


Wanita itu tidak mau jika harus menjadi tulang punggung keluarga suaminya. Rasanya ia menyesal menikah dengan Doni. Selama menikah, sepeser pun Doni belum memberinya uang nafkah.


Setelah rapi, Siska melenggang keluar kamar tanpa pamit mau kemana.


"Lhololoh, Siska." teriak Doni dengan kencang. Tapi Siska yang sudah keluar kamar, tidak mau untuk sekedar menjawab.


"Dasar istri durhaka. Mumpung suami di rumah, dilayani dulu kek. Eh ini malah di tinggal begitu saja." gumam Doni mencibir.


"Permisi paket."


Doni dan Bu Mirna yang tengah melihat televisi, saling beradu pandang ketika mendengar suara paket.


"Kamu beli paket apa Don? Ingat lho, lagi ngga punya uang malah mengeluarkan uang."


"Doni ngga beli paket apa pun bu. Apa mungkin Siska?"


"Paket-paket." suara kurir kembali terdengar.

__ADS_1


"Iya " balas Bu Mirna dan Doni kompak.


Doni berjalan ke depan dengan malas.


"Permisi mas, ada paket untuk mas Doni."


"Iya, saya sendiri. Tapi saya tidak merasa beli apapun." Doni mengernyitkan dahi, karena selama ini memang ia tidak pernah sekalipun membeli barang-barang secara online.


"Kalau di lihat dari cop nya, ini seperti dari pengadilan negeri mas."


Mata Doni membulat dan menyambar amplop coklat yang diserahkan kurir padanya.


Dengan penuh rasa deg-degan ia membuka amplop itu. Bahkan ketika kurir berpamitan, tidak ia hiraukan sama sekali.


Doni membaca selembar kertas itu dan menjerit histeris. Sehingga mengundang perhatian ibunya untuk keluar.


Pluk...


Sebelah sandal ibunya melayang mengenai kepala Doni, hingga membuatnya berhenti berteriak dan justru mengaduh kesakitan.


"Mulut mu kalau bicara di jaga. Berduka karena apa? Nih, ibu masih berdiri dihadapan kamu. Belum meninggal." Bu Mirna berkata dengan ketus sambil menoyor kepala Doni. Karena ia menganggap anaknya durhaka, telah menyumpahinya cepat meninggal.


"Makanya ibu itu harusnya tanya-tanya dulu ke Doni. Kenapa Doni sampai berteriak. Nih, Mala benar-benar menggugat cerai Doni bu." Doni menunjukkan selembar kertas gugatan cerai pada ibunya.


"Apa! Benar-benar kelewatan wanita cacat itu. Harusnya dia merasa bersyukur karena kamu tidak menceraikan dia, menerima segala kekurangannya. Eh, lha kok ini kebalikannya. Dia yang minta cerai."


"Bagaimana ini bu. Doni takut jatuh miskin." ucap Doni sambil menangis tergugu.


"Ibu juga ngga mau Don." Bu Mirna juga ikut menangis. Keduanya saling berpelukan.


"Pokoknya, kalau Doni sampai bercerai, harus bisa mendapatkan uang harta gono-gini." gumam Doni.


"Sebaiknya kamu juga harus ke rumah Mala, untuk memintanya membatalkan perceraian ini."

__ADS_1


"Baik bu." Doni segera masuk ke kamar untuk bersiap-siap. Dan setelahnya ia menunggu taksi datang untuk menjemputnya.


**


Sementara itu, di kediaman Mala.


Wanita itu tengah berlatih berjalan. Kakinya menapaki bebatuan dan rumput tanpa alas kaki.


Dokter menyarankan hal itu untuk merangsang otot-ototnya agar lebih mengendur. Selain itu juga bisa melancarkan peredaran darahnya.


Para asisten rumah tangga dan Mahes selalu mendukungnya. Bahkan mereka juga menemani Mala latihan berjalan.


Mahes setia berada di belakangnya. Ia memperhatikan dengan seksama Mala yang tengah berjalan. Jika sewaktu-waktu wanita itu terjatuh, ia sigap menolongnya.


Sejauh ini, kondisi Mala menunjukkan perkembangan yang pesat. Dulu memakai kursi roda, sekarang memakai tongkat.


Semua terus menyoraki untuk memberi semangat pada majikannya. Hingga peluh membasahi wajahnya, Mala tak juga berhenti berlatih.


"Non, berhenti dulu. Minum dulu sini." seru bibi sambil menunjukkan botol mineral.


"Betul apa kata bibi non. Ayo kita kesana." ajak Mahes. Mala pun mengangguk. Dengan tertatih ia berhasil duduk di samping asisten rumah tangga.


Ia meneguk air mineral itu hingga tandas. Lalu menarik nafas sejenak, untuk mengumpulkan tenaga agar kuat berjalan.


Bibi mengelap peluh yang membasahi wajah Mala dengan hati-hati. Bibi yang satunya mengibas-ngibaskan kipas agar Mala tidak kegerahan.


Mahes yang melihat hal itu, menyunggingkan senyum. Mala benar-benar diperlakukan seperti ratu. Dan memang seharusnya seperti itu.


Karena Mala adalah seorang wanita yang baik, istri yang sholihah, dan dia memiliki rupa yang cantik. Apalagi bekas luka di wajah Mala kian memudar.


Kulit putih mulusnya kembali bersinar. Dan ia selalu mengenakan jilbab. Semua itu menjadi daya tarik tersendiri di hati Mahes.


Timbul keinginan dihatinya untuk memiliki wanita itu. Agar senantiasa bisa menjaganya. Tapi Mahes tidak tahu harus mengatakan semua itu dari mana.

__ADS_1


Terlebih soal status nya sebagai satu-satunya pewaris perusahaan Sadewa textile dan direktur utama rumah sakit Kasih Bunda.


Mahes takut jika Mala justru tidak mau menerima status aslinya itu.


__ADS_2