Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
118. Celotehan Mahes


__ADS_3

Sesampainya di poli kandungan, terlihat seorang wanita yang memakai jas putih khas dokter, sudah berdiri di depan pintu.


Apalagi yang ia lakukan, jika bukan untuk menyambut kedatangan direktur utama rumah sakit. Dimana tempatnya bekerja mengais rezeki.


"Selamat siang, tuan, nona." ucap dokter itu sambil membungkukkan badan, memberi hormat.


"Selamat siang juga, dokter." balas Mala dan Mahes ramah. Bahkan keduanya juga menyunggingkan senyum.


"Dokter, seharusnya tidak perlu seperti ini. Kasian pasien yang sudah antre menunggu sejak tadi. Tidak apa-apa jika kami harus ikut antri." ucap Mahes bijak.


Ia tidak mau mencoreng nama baik rumah sakitnya, hanya karena ia berperilaku diktator.


"Mereka sudah paham. Silahkan masuk, tuan, nona." ucap dokter itu.


Sebenarnya ia juga merasa tidak enak dengan pasiennya. Tapi ia harus mengutamakan direkturnya juga.


Mala dan Mahes akhirnya mengangguk, lalu masuk ke dalam ruangan dokter kandungan, setelah sebelumnya meminta maaf pada pasien yang sudah menunggu sejak tadi.


Setelah Mala dan Mahes masuk, dokter memasang tulisan, dokter sedang mengambil tindakan. Hal itu cukup membuat pasien yang antri, seketika mendengus kesal. Karena merasa kalah dengan orang kaya raya.


Di dalam ruangan, setelah berbincang sejenak seputar kehamilan, dokter mempersilahkan Mala untuk berbaring di atas brankar.


Mahes pun membantunya, agar bisa lebih nyaman merebahkan diri di atas tempat tidur sekecil itu. Sedangkan Dokter sendiri, tengah mempersiapkan alat-alatnya. Lalu mengoleskan cairan gel, di perut Mala.

__ADS_1


Wanita berjas putih itu meletakkan sebuah alat diatas perut buncit Mala, lalu menggerakkannya ke berbagai arah.


"Maa syaa Allah, bagus sekali ya perkembangan bayinya. Ia aktif bergerak. Berat badannya juga normal, sesuai dengan umurnya yang sudah mencapai tiga puluh dua Minggu. Tapi sayangnya..."


"Sayangnya apa, dok?" potong Mahes dengan cepat. Ia takut terjadi apa-apa dengan bayi yang sangat dinantikan kehadirannya.


"Sayangnya, setiap kali melakukan USG, tidak kelihatan jenis kelaminnya. Karena pahanya tidak mau membuka." jelas dokter kemudian, yang membuat Mala dan Mahes menghirup nafas lega.


"Kami pikir, terjadi sesuatu yang berbahaya dok." cetus Mahes, sambil menyunggingkan senyum tipis.


"Maafkan saya, tuan. Tidak bermaksud bercanda." dokter itu menundukkan kepalanya, meminta maaf.


"Tidak penting jenis kelaminnya apa, dok. Yang penting bisa lahir dengan selamat, tidak kekurangan suatu apapun. Karena setelah bayinya lahir, kita juga bisa mencobanya lagi untuk mencetak anak berjenis kelamin lain." balas Mahes enteng.


Sementara dokter itu tampak menganggukkan kepalanya. Setuju dengan ucapan direkturnya. Daripada bicaranya semakin ngelantur tidak jelas.


Setelah selesai melakukan USG, mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing. Dokter memberi saran pada keduanya, untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Sehingga keduanya bisa selalu menjaga bayinya dengan baik.


Tak hanya itu saja, dokter juga memberi beberapa saran lain yang sangat berguna bagi ibu hamil dan bayinya. Diantaranya sering berjalan kaki, olahraga ringan, dan sering melakukan hubungan badan di trisemester akhir. Agar mempermudah jalan ketika lahir nanti.


Mahes langsung menoleh ke arah Mala, sambil menyunggingkan senyum nakal, alisnya juga terlihat naik turun.


Mala yang melihat hal itu hanya bisa membuang nafas kasar, lalu mencoba tersenyum untuk menghilangkan rasa geli nya melihat kelakuan suaminya.

__ADS_1


"Gaya apa saja yang boleh kami lakukan, dok? Agar bayi kami tetap aman." celetuk Mahes. Yang membuat Mala dan dokter kompak menatap pria tampan tapi sedikit oleng otaknya. Karena virus cinta yang melandanya setiap hari.


Tangan Mala yang berada di bawah, bergerak cepat mencubit paha suaminya. Karena mulutnya sungguh tidak bisa dikendalikan.


Pria itu seketika mengerang kesakitan, sambil mengusap pahanya yang sakit. Seperti di gigit tawon.


Dokter yang berada di hadapan mereka, seketika menundukkan pandangannya. Karena malu untuk melihat kelakuan direktur mudanya itu. Mendadak ilmu tentang dunia kedokterannya hilang.


"Semua gaya, boleh dilakukan tuan. Asal pelan-pelan." jawabnya dengan suara parau.


Mahes tidak melihat ke arah dokter. Tapi justru melihat ke arah istrinya, sambil tersenyum nakal.


"Vitamin yang diberikan bulan kemarin sudah habis, dok. Apa akan diberi vitamin lagi?" tanya Mala memecah kecanggungan yang ada, dan lebih memilih menatap sang dokter.


"Eh, iya nona. Sebentar, saya tuliskan resepnya." balas sang dokter dengan suara parau. Karena masih kepikiran dengan kelakuan direktur utamanya.


Wanita itu menuliskan sebuah resep lalu memberikan pada Mala.


"Terima kasih ya, dok. Kalau begitu kami permisi dulu." ucap Mala sambil mengulurkan tangan, hendak bersalaman dengan sang dokter.


"Sama-sama, nona."


"Saya juga permisi, dok. Terima kasih untuk semua penjelasannya, yang sangat menenangkan dan melegakan hati saya." ucap Mahes, sambil tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Ketiga orang itu bangkit dari duduknya. Lalu Dokter mengantarkan keduanya sampai di ambang pintu. Mala dan Mahes mengurai senyum, pada semua pasien yang telah dengan sabar menunggunya.


__ADS_2