Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
70. Memperebutkan rumah


__ADS_3

Bu Mirna mencubit tangannya sendiri, dan ia mengerang kesakitan.


"Hello, pak. Kamu jangan bercanda ya. Kapan saya pernah bertemu dengan anda, dan bilang kalau ingin menjual rumah ini? Pasti kamu mau mengeprank saya kan?" Bu Mirna masih bisa tersenyum mencemooh.


"Memang kita belum pernah bertemu sama sekali Bu. Dan saya mendapat sertifikat rumah ini dari anak ibu, mbak Siska."


"Apa! Siska menjual rumah ini? Tidak mungkin. Karena dia sudah tidak pernah pulang ke rumah saya lagi. Karena status dia cuma anak mantu. Bukan anak kandung saya."


"Terserah ibu mau berkata apa. Yang jelas kedatangan kami kemari untuk melihat-lihat kondisi rumah ini. Dan setelah itu, ibu akan kami beri waktu satu Minggu untuk mengosongkan rumah ini. Agar bisa segera ditempati oleh anak saya." tegas pak Darma.


"Sertifikat saya ada dirumah. Pasti yang kamu bawa itu sertifikat palsu. Tunggu, akan saya ambilkan." ucap Bu Mirna yang segera berlalu masuk ke kamarnya.


Ia mencoba mencari di bawah baju yang ada di dalam almarinya, di laci nakas, dan bahkan kamarnya sampai di obrak-abrik, tapi tak kunjung menemukan apa yang dicari.


Wajahnya kian memanas, badannya gemetaran dan semakin frustasi.


"Ibu. Kenapa kamarnya di obrak-abrik? Kurang kerjaan ya?" Doni terkekeh. Karena ia belum tahu kedatangan tamu yang membuat ibunya menjadi seperti itu.


"Ini semua karena kamu." hardik Bu Mirna menumpahkan kekesalannya.


"Lhoh, kok gara-gara Doni. Memang aku salah apa?"


"Sertifikat rumah ini hilang, di curi oleh istri mu, Siska. Dan yang lebih parahnya lagi, ia menjual rumah ini tanpa sepengetahuan kita." balas Bu Mirna yang sudah berlinang air mata.


"Apa! Dijual? Oleh Siska?" dan kini giliran Doni yang terkejut.


"Iya, dijual. Kalau sudah begini kita mau tinggal dimana. Kita diberi waktu satu Minggu untuk mengosongkan rumah ini. Dan orang yang membeli masih ada di depan."

__ADS_1


Doni diam tak bergeming. Seakan masih tak percaya jika rumah tempat dimana ia dibesarkan akan dijual.


"Ayo, kita temui mereka. Kita harus mempertahankan rumah ini, Bu."


"Benar, ibu setuju." Bu Mirna mengusap air mata kasar, lalu berjalan beriringan dengan anaknya untuk mempertahankan rumahnya.


"Pak, ini rumah kami. Bapak tidak bisa seenaknya mengusir kami dari sini." ucap Doni lantang.


"Ini rumah sudah menjadi hak kami. Karena sertifikat sudah ada di tangan kami. Kalau kalian tidak bisa bersikap kooperatif, saya bisa datangkan pihak yang berwajib." tegas pak Darma.


"Silahkan, saya tidak takut." Doni kembali menantang.


Pak Darma bergegas menelpon relasinya yang seorang anggota kepolisian.


Keributan yang cukup keras itu mengundang perhatian beberapa warga sekitar. Sehingga mereka mendekat, dan mengintip dari balik pagar.


Ada juga tetangga yang pikirannya masih lurus, melapor pada ketua RT setempat. Dan ketua RT pun bergegas menuju lokasi.


Tak lama kemudian, terlihat mobil polisi menuju ke arah rumah Bu Mirna. Lalu empat orang anggota kepolisian itu turun dari mobil. Di belakangnya ada pak RT yang baru saja datang.


Semua itu semakin mengundang perhatian warga. Dan kini semakin banyak yang ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Permisi, bu." ucap pak RT sambil membungkukkan badan pada Bu Mirna.


"Pak, tolong saya. Ini orang mau mengusir saya seenaknya dari rumah saya sendiri." ucap Bu Mirna sambil menubruk pak RT. Pak RT segera melepaskan Bu Mirna yang bergelayut memegangi tangannya.


Sementara keempat polisi menjabat tangan pak Darma dan keluarganya.

__ADS_1


"Mohon maaf Bu Mirna, sebaiknya kita pecahkan masalah ini di dalam rumah. Karena tidak enak di lihat warga." pak RT menasehati.


"Tidak mau. Saya tidak mau rumah saya di injak oleh orang lain, selain keluarga saya."


Pak RT hanya bisa membuang nafas.


"Kalau begitu silahkan cerita apa yang sebenarnya terjadi, pak."


"Maaf pak, kami kesini memiliki niat baik. Ingin melihat-lihat keadaan rumah ini sebelum menempati. Karena rumah ini sudah di jual kepada saya. Dan ini sertifikat rumah nya." pak Darma menyerahkan sertifikat itu pada pak RT.


Pak RT dan anggota kepolisian mengecek keaslian surat tersebut.


"Ini memang asli, pak. Tapi kenapa sertifikat ini ada di bapak, jika Bu Mirna tidak menjualnya?"


"Karena saya membeli rumah ini dari Mbak Siska, anaknya ibu ini."


"Dia bukan menantu ku lagi."


"Apakah sudah ada kata talak dari mas Doni? Apakah surat cerai juga sudah turun? Jika itu semua belum ada, maka mbak Siska masih menjadi istri sahnya mas Doni."


Dan Bu Mirna menggeleng lemah.


Pak RT menghembuskan nafas lalu memberi pengertian pada Bu Mirna.


"Bu, saya harap anda bisa sabar ya. Akad jual belinya sudah sah. Dan bapak ini menjadi pemilik rumah ini, karena telah membayar sejumlah uang pada mbak Siska. Jika Bu Mirna masih ngotot, maka pihak berwajib ini yang akan mengurus bertindak."


kali ini Bu Mirna baru benar-benar percaya, dan ia menekan dadanya kuat. Karena syok dengan kejadian mendadak itu.

__ADS_1


"Rumahku." ucapnya dengan suara yang lemah, lalu pingsan.


__ADS_2