
"Mbak, itu tambah balado telur, opor ayam dan rendang daging sapi nya ya." ucap Doni, yang membuat Siska menoleh menatapnya sambil membelalakkan matanya. Karena Doni terlalu banyak memesan sayur dan lauk untuknya.
Ingin sekali Siska menolak, tapi ia malu dengan penjualnya. Takut disangka sedang mode hemat. Ya walaupun kenyataannya memang benar seperti itu. Akhirnya ia pun pasrah.
'Ya sudah, besok pagi aku kalau beli sarapan, nasi dan sayur oseng-oseng saja. Karena hari ini aku sudah jajan cukup banyak.' batin Siska, mencoba ikhlas.
Keduanya kini duduk berhadapan. Lalu mulai menyuap makanan ke mulut masing-masing.
Tak berselang lama, piring mereka sudah bersih. Karena memang keduanya merasakan lapar yang sangat.
Keduanya pun beranjak dari duduknya. Lalu menuju meja kasir. Dan membayar total makanan mereka.
"Biar aku saja yang membayar."
Doni mendorong uang yang Siska keluarkan dari dompetnya. Tapi Siska bersikeras ingin membayarnya. Doni pun kembali meyakinkan.
Dan kali ini, Siska lebih baik menerimanya. Kapan hari jika mereka keluar lagi, Siska berniat akan membayar makanan yang mereka makan.
"Terima kasih, mas."
Setelah perut kenyang, dan keduanya juga sudah masuk mobil. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pasar.
Seumur-umur, baru kali ini Siska menginjakkan kakinya ke pasar. Bayangan tempat yang kumuh, membuatnya tidak berselera untuk menginjakkan kaki ke pasar. Tapi semua itu berubah mulai sekarang.
Ia menginjakkan kakinya di pasar bersama Doni. Gadis itu menoleh ke kana dan kiri. Pasar itu buka dua puluh empat jam.
Jadi meskipun keduanya berangkat ke sana sore, tetap masih ada penjual dan pembeli yang melakukan transaksi.
Doni mengajak Siska menuju kios sayur segar. Laki-laki itu tampak terampil memilih sayuran yang masih segar.
__ADS_1
Setelah selesai membeli sayur, mereka beralih menuju kios daging. Kali ini Doni sengaja membeli daging ayam dalam jumlah yang banyak. Jika tidak habis, bisa dimasukkan ke dalam freezer.
Hanya membeli sayur dan daging ayam saja, keduanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Karena mereka membeli dalam jumlah yang cukup banyak. Di tambah lagi mereka memang harus antri.
Setelah berbelanja, sesuai janjinya, Doni mengantar pulang Siska. Keduanya benar-benar capek, melewati hari yang begitu sibuk dari pagi sampai sore. Meskipun begitu, keduanya merasa senang.
"Sis, misal besok berangkat lebih pagi, bisa? Sekitar jam tujuh." ucap Doni saat Siska sudah membuka pintunya, dan hendak keluar. Gadis itu menoleh dan sejenak berpikir.
"Bisa, mas." balas Siska sambil tersenyum. Toh tak ada yang ia kerjakan di rumah.
"Okay. Aku pamit dulu ya. Maaf sudah merepotkan mu seharian ini."
"Tidak apa-apa, mas."
"Ya sudah, masuk sana. Ini sudah hampir Maghrib."
**
"Mas, aku mau nonton film."
"Hah? Nonton film?" ulang Mahes sambil membenarkan letak duduknya. Mala menganggukkan kepalanya sambil memajukan bibirnya.
"Okay. Ayo kita turun. Di lantai bawah, aku punya banyak koleksi film. Dari kartun, action, romantis dan masih banyak lagi yang lainnya."
"Aku ngga mau." Mala menggelengkan kepalanya kuat.
"Lalu?" Mahes mengernyitkan dahi, bingung dengan permintaan Mala.
"Kalau lihat film di rumah, yang lihat cuma kita berdua. Aku maunya di bioskop. Ada banyak temannya."
__ADS_1
"Oh, itu. Tidak masalah, kita bisa ajak para asisten rumah tangga kita untuk menonton bersama. Bukan kah itu juga ramai dan mengasyikkan?"
"Tapi, tetap saja beda, mas. Suasananya." Mala mulai mengerucutkan bibirnya.
"Okay, baiklah. Kita berangkat sekarang kalau begitu. Ambil jaketnya biar tidak kedinginan." Mahes segera bangkit dari duduknya, diikuti oleh Mala. Yang tersenyum merekah.
Keduanya tengah bersiap-siap. Mala memakai kaos panjang berwarna marun dan celana kulot berwarna cream. Ia juga menggunakan jilbab dan long outer yang berwarna senada dengan celananya.
Sedangkan Mahes sendiri memakai celana chinos pendek warna cream dan kaos putih polos. Lalu memakai jaket berwarna senada dengan celananya. Keduanya berjalan beriringan melewati anak tangga.
"Hati-hati, sayang." Mahes mengingatkan sambil memegangi kedua lengan Mala.
"Aku juga hati-hati kok, mas. Kamu terlalu posesif sekali. Pasti nanti anak kita dekat sekali denganmu. Karena papanya begitu memperhatikan sekali."
"Benarkah? Berarti nanti kalau mereka sudah dewasa, bisa cepat menggantikan ku mengurus perusahaan dong."
"Kenapa kamu terlihat buru-buru mau resign dari perusahaan?" Mala menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke samping.
"Iya. Aku ingin menemani mu di rumah saja. Biar kamu tidak kesepian. Kita bisa menghabiskan waktu lama berdua."
"Ya ampun. Nanti kalau kita sudah nanti, mungkin tidak akan seromantis ini. Pasti sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Mungkin kamu hanya akan memberiku uang dan uang."
"Hem, sepertinya kamu terlalu banyak menonton sinetron atau kebanyakan baca novel. Dimana peran laki-laki itu cuma secuil. Aku berjanji, akan bersikap romantis sampai tua nanti." Mahes mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. Sebagai tanda ia berjanji.
"Okay, buktikan ya." balas Mala sambil terkekeh kecil.
❤️❤️
__ADS_1