Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
125. Di pemakaman


__ADS_3

Siang itu setelah makan siang, Mala mengajak Mahes untuk berziarah kubur. Ia memang sudah lama tidak mengunjungi makam kedua orang tuanya.


Mahes mengiyakan permintaan istrinya. Karena ia sendiri juga merasa kangen dengan kedua orang tuanya.


Setelah menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit, akhirnya keduanya sampai di tempat pemakaman yang di maksud.


Sepi, sunyi, dan beraroma wangi kembang Kamboja, menjadi ciri khas sebuah tempat pemakaman umum.


Keduanya pun segera turun dari mobil, dan berjalan menuju tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya.


Mahes merangkul bahu istrinya. Karena ia tahu, wanita itu sangat sensitif. Tidak bisa menyembunyikan luka di hatinya seorang diri.


Mala langsung menjatuhkan badannya, begitu ia sampai di depan pusara mamanya. Ia kecup batu nisan mamanya.


"Sayang, ingat! Di pemakaman kita tidak boleh menangis. Tapi harus mendoakan mereka yang berada di bawah tanah. Agar arwahnya tenang dan ditempatkan di tempat yang lapang." Mahes mengingatkan Mala.


Istrinya itu mengangguk, lalu mengangkat kepalanya. Ia hapus air mata yang sedikit merembes melewati pipi mulusnya. Setelah itu, ia pun menengadahkan tangan sambil memanjatkan doa untuk mamanya.


Mahes pun juga melakukan hal yang sama. Ia mendoakan ibu mertuanya. Walaupun selama ini ia belum pernah melihatnya secara langsung, dan hanya melihat wajahnya dari foto keluarga di rumah Mala.


Mama adalah sosok ibu yang sangat baik bagi Mala. Tidak hanya menjadi ibu, ia juga menjadi teman bagi Mala untuk berkeluh kesah dan menumpahkan seluruh perasaannya. Tidak ada teman Mala di dunia ini yang asyik untuk dijadikan tempat curhat, selain mamanya sendiri.

__ADS_1


"Ma, pa. Mala kesini hanya ingin mendoakan mama dan papa. Selain itu, Mala juga ingin bercerita. Sekarang Mala sudah bahagia, memiliki suami yang baik hati. Sebentar lagi Mala juga akan melahirkan. Mama dan papa pasti melihat dari surga kan? Jika perut Mala sudah sebesar ini." celoteh Mala, sambil mengusap perutnya dan tersenyum.


Mahes terenyuh melihat apa yang dilakukan istrinya. Ia mencoba tersenyum sambil mengusap perut buncit istrinya.


Setelah mendoakan mamanya, keduanya menghadap ke kanan, dan mendoakan papanya Mala. Sosok laki-laki yang memberikan cinta pertamanya untuk Mala.


Dua orang yang berjasa besar dalam hidup Mala, telah lama meninggalkannya. Begitu patah hati rasanya jika mengingat saat itu.


Di tambah lagi dengan pernikahannya yang seumur jagung, karena pengkhianatan yang dilakukan mantan suaminya.


Beruntung, datang Mahes di saat yang tepat. Yang membantu menyembuhkan luka di hati Mala, dan membuat semangat hidupnya bangkit lagi.


Setelah mendoakan kedua orang tua Mala, keduanya beranjak berdiri dan berjongkok di tengah pusara kedua orang Mahes. Yang letaknya memang bersebelahan dengan makam kedua orang tua Mala.


Makam-makam di situ memang terlihat biasa. Hanya sebuah gundukan tanah, yang di atasnya diletakkan batu nisan. Tidak ada yang diberi taburan bunga atau air. Seperti Sunnah nya Nabi Muhammad.


Namun di pemakaman itu, di tanam banyak sekali pohon bunga Kamboja. Bahkan di pemakamannya juga sengaja di tanam rumput teki.


Umat muslim percaya, bahwa segala sesuatu yang hidup di muka bumi ini, senantiasa berdzikir pada Allah. Termasuk rerumputan dan pohon. Dan dzikir itu dapat memberi syafaat bagi diri dan makhluk disekitarnya.


Seperti halnya yang dilakukan oleh Mahes, Mala juga mendoakan almarhum kedua mertuanya. Walaupun ia belum pernah sekali pun bertemu dengan mereka, ia percaya jika kedua mertuanya adalah orang yang baik. Buktinya bisa mendidik suaminya, menjadi pria yang bertanggung jawab.

__ADS_1


Setelah puas menghabiskan waktu bersama dengan almarhum kedua orang tua mereka, keduanya bangkit berdiri, lalu berjalan perlahan meninggalkan tempat pemakaman umum.


**


Di tempat lain,


"Assalamu'alaikum. Bu, Bu Mirna?" seseorang mengetuk pintu rumah kontrakan Bu Mirna. Tapi berulang kali ia berteriak, tetap tidak ada jawaban.


Bu Mirna sengaja mengabaikan panggilan itu, karena kondisinya dalam keadaan lemah. Ia sudah tidak memiliki tenaga untuk sekedar menjawab.


Ia pikir akan segera menemui ajalnya, karena selama beberapa hari terbaring lemah di sudut kamarnya. Tanpa makan dan minum hanya setetes setetes saja.


Namun rupanya, ia masih mendengar suara seseorang yang memanggil namanya hingga berulang kali. Ia membenci keadaannya saat ini. Yang seperti hidup segan mati tak mau.


Di luar rumah kontrakannya, tetangga Bu Mirna masih berdiri di depan pintu. Ia juga masih memanggil sambil menggerakkan knop pintu, tapi tetap tak ada balasan. Ia mengernyitkan keningnya, ketika pintu itu ternyata tidak dikunci.


Ia mengucapkan salam dan perlahan masuk ke rumah itu. Niatnya hanya ingin memberi makanan. Karena dirumahnya ia menggelar aqiqah.


Tetangganya itu tidak tega jika menaruh makanannya di luar. Karena khawatir makanannya akan di makan kucing. Mengingat isinya tentu ada daging kambingnya.


Perasaannya mulai tak enak, hawa dingin di rumah itu mulai membangkitkan bulu kuduknya. Apalagi jika mengingat kematian Doni yang tak wajar.

__ADS_1


Bergegas ia memutar badannya dan hendak keluar. Tapi mendengar suara batuk dari dalam kamar, seketika ia terlonjak kaget, dan berlari keluar dari rumah itu dengan terbirit-birit.


__ADS_2