
Para asisten rumah tangga, yang kebetulan ada di dapur, saling beradu pandang mendengar suara teriakan majikannya.
Mereka berjingkrak senang, kala lamat-lamat mendengar suara majikannya itu berkata, jika istrinya tengah hamil.
Sementara itu, di dalam kamar. Mahes baru saja menurunkan tubuh istrinya, setelah dia angkat tinggi-tinggi, karena melupakan kegembiraannya.
Ia segera menyuruh istrinya untuk bersiap-siap berangkat ke rumah sakit. Untuk memeriksakan kandungannya.
"Mau aku gendong?" tawar Mahes pada istrinya, saat keduanya menuruni anak tangga.
Wanita disampingnya itu mengulas senyum, karena suaminya begitu perhatian dengannya.
"Tidak perlu, mas. Aku baik-baik saja kok." tolak Mala, dengan bahasa yang mulai halus seperti biasanya.
"Non Mala, hamil ya." tanya asisten rumah tangga, yang berjejer di dekat anak tangga.
"Iya, bi. Alhamdulillah." balas Mahes dan Mala bersamaan.
"Alhamdulillah. Kami jadi ikut senang mendengarnya, non."
"Jadi, yang membuat mas Mahes seperti pembalap liar tadi karena, non Mala hamil ya." celetuk security.
Mahes hanya menyunggingkan senyum, sambil garuk-garuk kepala. Sedangkan Mala menatap suaminya. Karena tidak tahu apa yang ia lakukan tadi.
"Sudah, kami mau ke rumah sakit dulu. Jaga rumah baik-baik ya, bi, pak." ucap Mahes mengalihkan perhatian Mala.
Pasangan suami-istri itu berjalan sambil bergandengan tangan menuju teras rumah. Karena Mahes tidak memasukkan mobilnya ke carport.
__ADS_1
Kini Mahes menyetir dengan kecepatan sedang dan cenderung sangat pelan. Jauh berbeda dengan yang tadi, saat membelikan test pack untuk istrinya. Hingga Mala pun memprotesnya.
"Mas, kok nyetirnya pelan sekali. Lebih pelan dari siput?"
"Aku cuma tidak ingin terjadi apa-apa dengan kita saja, sayang." Mala pun terkekeh.
"Ya ampun, mas. Segitunya sih kamu?"
"Bukannya apa-apa. Tapi aku hanya ingin menjaga kalian berdua agar baik-baik saja. Karena yang aku miliki di dunia ini, ya cuma kalian saja kan?"
Mala kembali mengulas senyum. Apa yang dikatakan suaminya, sama dengan yang perasaannya. Karena ia juga tidak memiliki siapa pun selain suami dan calon bayi yang ia kandung saat ini.
Akhirnya, mereka pun sampai di rumah sakit. Mahes melingkarkan tangannya di pinggang Mala. Keduanya berjalan menuju meja resepsionis.
Setelah mendaftar, keduanya menuju poli kandungan. Dan ikut mengantri di sana.
Mahes mengusap perut istrinya yang masih datar. Saat keduanya duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang praktik dokter kandungan.
Wanita itu memang merasa tidak nyaman, karena beberapa pasang mata yang kebetulan juga sedang antri periksa, menatapnya. Apalagi perutnya masih terlihat datar. Sedangkan perut ibu-ibu itu sudah terlihat buncitnya.
"Sudah lah, biarkan saja. Yang jelas, aku suka melakukan ini." balas Mahes dengan suara yang justru dikeraskan. Agar semua orang berhenti menatapnya. Tak ragu, Mahes juga meletakkan kepalanya di bahu Mala.
Mala hanya bisa pasrah, sambil geleng-geleng kepala.
Setelah sekian menit berlalu, akhirnya kini tiba nomor urut yang di pegang Mala, di panggil. Mereka berdua beranjak dari tempat duduknya. Lalu berjalan menuju ruangan dokter.
Seorang wanita paruh baya yang mengenakan jilbab putih, senada dengan warna jas almamater khas dokter, menyapa keduanya dengan senyum ramah. Lalu mempersilahkan keduanya duduk.
__ADS_1
Mala menyampaikan apa saja keluhannya sampai pada tes kehamilan, yang ia lakukan tadi, pada sang dokter. Tak lupa, ia juga memberikan bukti, berupa alat yang dipakai tadi untuk test kehamilan.
Dokter itu pun menerima alat tersebut, sambil mengulas senyum tipis.
"Iya, alat ini memang menunjukkan bahwa anda tengah hamil. Kita bisa melakukan USG, agar tahu berapa umur kandungannya."
"Iya, dok. Saya mau USG."
"Baiklah. Ibu bisa naik ke atas brankar ya."
Mala pun mengangguk, lalu ia berjalan ke arah brankar. Mahes mengikutinya, dan tak lupa ia membantu istrinya itu, naik.
Dokter menyiapkan sebuah alat untuk USG. Lalu mengoles perut Mala dengan sebuah cairan berbentuk gel.
"Bisa di lihat di layar monitor ya, pak, Bu. Tentang perkembangan janinnya." dokter itu menunjuk layar monitor. Yang mulai menunjukkan gambar senyum.
"Menurut USG ini, kandungannya sudah memasuki usia dua bulan. Kondisinya juga sangat baik.
Di trimester pertama, memang ada sebagian besar ibu-ibu yang mengalami morning sickness. Yaitu keadaan tubuh yang terasa lemah, dan lemas. Bahkan sampai muntah-muntah. Tapi ketika sudah siang atau malam hari, sudah terlihat biasa saja.
Hal itu wajar saja. Tidak perlu terlalu khawatir. Karena kekhawatiran kita, justru berdampak negatif pada ibu dan bayinya.
Ibu, bisa meminum susu hamil, buah-buahan dan sayur-sayuran yang banyak. Sebagai pengganti cairan yang hilang, akibat muntah tadi.
Kerjakan suatu hal yang membuat ibu senang. Asal juga memperhatikan waktu-waktu untuk sejenak mengistirahatkan badan.
Hal itu bertujuan agar kebahagiaan ibu dan calon bayi tetap terjaga. Karena ibu hamil itu tidak boleh stress, atau terlalu banyak pikiran." jelas sang dokter.
__ADS_1
Mala dan Mahes manggut-manggut mendengar penjelasan sang dokter.
Setelah USG selesai, mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Dokter pun menulis sebuah resep vitamin untuk kesehatan Mala dan bayinya. Barulah keduanya bisa keluar dari ruangan dokter dengan lega.