
Setelah sampai kost-kostan, seperti biasa Siska akan mandi agar badannya kembali segar. Lalu ia pun merebahkan diri di atas tempat tidurnya.
Menatap langit-langit kamar, dan mulai membayangkan kejadian demi kejadian setiap hari yang ia lalui.
Tas yang berada di sampingnya, ia rogoh untuk mengambil handphone. Hiburannya di kost-kostan memang hanyalah handphone. Karena kost-kostan tidak menyediakan fasilitas seperti televisi.
Saat merogoh handphone, keningnya mengernyit. Karena tangannya seperti meraba sesuatu yang cukup tebal.
Penasaran, ia pun mengambil sesuatu itu. Dan ia terperangah, melihat apa yang ia pegang.
"Astaga! Ini yang aku cari selama sebulan ini. Kenapa sampai kelupaan." pekiknya bahagia.
Siska terduduk, lalu membuka amplop coklat yang ia pegang. Gadis itu pun menghitung lembar demi lembar nya.
"Ti-tiga juta." gumamnya tak percaya.
"Bukan kah, sehari aku hanya di bayar lima puluh ribu? Harusnya kan satu juta lima ratus. Berarti ini kelebihan banyak dong."
Siska pun merogoh handphonenya, berniat menghubungi Doni. Ia pun menyecroll layarnya dan mencari nomor handphone Doni.
"Astaga!" lagi-lagi ia memekik sambil menepuk jidatnya. Karena ia belum memiliki nomor pemuda itu.
Tadi ia hanya menyimpan nomornya saja di handphone Doni. Tidak sampai memiss call nya.
__ADS_1
Perasaan Siska tidak tenang. Tapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Ia pun kembali memasukkan uang itu ke dalam amplop. Dan memasukkan ke dalam tas.
Besok ia akan menjelaskan semuanya, pada pemuda itu. Sekarang, ia merasa kapok. Tak ingin lagi memakan uang haram. Ia takut, jika terkena suatu penyakit yang berbahaya, karena melakukan hal buruk.
Perutnya mendadak berbunyi keroncongan. Ia pun teringat, jika tadi Doni memberinya nasi ayam bakar. Gadis itu beranjak dari duduknya, lalu mengambil makanan tadi.
**
Pagi itu, Mala tengah menyiapkan sarapan pagi. Meskipun memiliki asisten rumah tangga, tak jarang ia memasak sendiri. Ia tak ingin dikalahkan suaminya dalam urusan masak memasak.
Menu pagi itu, adalah rawon daging sapi, acar bening, dan perkedel tahu. Minumannya, Mala membuat teh hangat untuk suaminya, dan susu untuk dirinya sendiri.
Setiap hari Mala memang selalu minum susu untuk ibu hamil. Jika tidak, suaminya itu akan menceramahi nya panjang lebar.
Padahal, sebenarnya Mala tidak begitu suka dengan yang namanya susu. Tapi, demi kebaikannya dan juga yang lebih penting adalah bayi dalam kandungannya. Ia rela meminum susu setiap hari.
Ibu hamil itu pun berjalan menaiki anak tangga, menuju kamarnya. Tangan kanannya memegang anak tangga. Sedangkan tangan kirinya memegang perutnya yang buncit.
Baru saja ia menempelkan tangannya pada knop pintu, terdengar bunyi pintu itu di buka dari dalam. Aroma parfum suaminya langsung menyeruak ke indera penciuman.
Mala menghirup aroma itu dalam-dalam. Sambil memejamkan matanya. Mahes yang melihat istrinya seperti itu, langsung mendaratkan kecupan manis di keningnya karena gemas.
Mala pun membelalakkan matanya. Dan melihat suaminya tengah menikmati hal itu. Sampai laki-laki itu juga memejamkan matanya.
__ADS_1
Ternyata karena terlalu meresapi, Mahes tak hanya mengecup kening Mala saja. Tapi juga kedua pipinya, dan perlahan turun sampai berhenti di bukit kembar Mala. Yang semenjak hamil, memang ukurannya semakin bertambah besar. Hingga terpaksa ia harus mengganti size bra nya.
Tangan Mahes bergerilya hebat. Membuat Mala juga semakin menginginkannya. Tanpa pikir panjang, Mahes segera mengangkat tubuh istrinya yang sangat berat itu, masuk ke dalam kamar. Lalu meletakkan istrinya pelan-pelan di ranjang tempat tidur.
Secepat kilat Mahes membuka bajunya kembali. Setelah beberapa saat lalu, ia baru saja memakainya.
"Mas, aku malu. Belum mandi, bau asem." ucap Mala sambil menghirup aroma ketiak kanan dan kiri secara bergantian.
"Tidak masalah, sayang. Bagiku kamu selalu wangi setiap saat." suara Mahes mulai terdengar parau. Karena sudah tidak bisa menahan gejolak di dada. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya, yang menjadi candu baginya.
"Aku ijin mau mandi dulu."
"Kelamaan sayang. Aku sudah tidak tahan."
"Sebentar saja." Mala menangkup wajah suaminya.
"Okay, kamu harus janji."
Mala menganggukkan kepalanya, lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, yang ada di dalam kamarnya. Sedangkan Mahes, juga beranjak dari tempat tidurnya, untuk mengunci pintu.
Setelah sekian menit berlalu, Mala keluar dari kamar mandi. Penampilannya sungguh membuat Mahes menjadi tidak sabar. Gejolak di dadanya semakin menggelora.
Saat itu, Mala memakai handuk berwarna putih, dan melilitkannya sebatas dada. Rambutnya juga di tutup dengan handuk berwarna senada dengan yang di pakai untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Tapi ukuran handuk yang tidak seberapa, hanya menutupi sampai sebatas paha. Sedangkan perutnya yang besar semakin terlihat jelas.
Mala benar-benar menjadi ibu hamil yang cantik dan juga menarik.