
"Bajuku di ember itu semua Bu?"
Bu Mirna mengangguk.
"Astaga, lalu hari ini aku pakai baju apa?"
"Itu urusan mu. Lagian kamu belum memberi uang belanja untuk ibu. Dan kemarin ibu juga gagal membeli baju di mall. Sebagai gantinya, kamu cuci baju kotor itu. Kalau tidak, kamu tidak boleh makan."
"Ibu benar-benar kelewatan." desis Doni.
"Masa bodoh." sahut bu Mirna.
Dengan bersungut-sungut kesal, akhirnya mau tidak mau Doni membawa ember cucian itu ke belakang dan mulai mencuci satu persatu.
Satu jam lebih, Doni mencuci baju, lalu menjemurnya dibawah terik matahari. Peluh membasahi wajahnya, karena baru kali ini mengerjakan pekerjaan rumah seperti, mencuci.
Ia meletakkan ember pada tempatnya tadi, lalu membuka tudung saji. Nasi hangat, cah kangkung, tempe goreng, dan sambel terasi terhidang di meja. Walaupun hanya menu sederhana, sukses membuat Doni menelan saliva.
Ia mendorong kursi, lalu menghempaskan tubuhnya di sana. Tak perlu pikir panjang, ia menuang nasi beserta lauk pauknya ke piring. Lalu mulai menyuap.
Hanya lima menit, piring Doni sudah kosong. Ia meneguk segelas teh hangat, dan akhirnya bersendawa keras. Menandakan dia benar-benar kenyang.
Ia bangkit berdiri dan mandi, lalu bersiap-siap mencari kerja.
"Kamu rapi banget, mau kemana Don?" tanya Bu Mirna, yang tengah menonton televisi.
Pekerjaan sehari-harinya memang adalah menonton televisi dan bergosip dengan tetangga.
"Cari kerja bu."
"Syukurlah. Ibu doakan lah, supaya kamu cepat dapat kerja. Biar bisa masak yang enak-enak lagi."
Doni tak bergeming dan segera berlalu keluar. Karena taksi pesanannya sudah datang.
__ADS_1
"Kemana mas?" tanya sang sopir.
"Saya mau mencari pekerjaan pak. Kira-kira bapak tahu ngga, kantor yang buka lowongan kerja?"
"Saya juga kurang tahu mas." sopir itu garuk-garuk kepala.
"Ya sudah, kita keliling cari lowongan kerja."
Sopir pun mengangguk dan mulai melajukan mobilnya, menuju ke perusahaan yang ada di kota itu.
Hampir seharian Doni keluar masuk bertanya pada security, tapi jawaban yang mereka berikan selalu sama. Yakni belum ada lowongan pekerjaan.
Ditambah lagi, dia tidak memiliki surat pengalaman, membuatnya semakin sulit mendapatkan pekerjaan.
Ia menyandarkan tubuhnya di kemudi, karena rasa capek dan pusing yang melanda. Pekerjaan pun juga belum ia dapatkan.
Ia membuang nafas kasar sambil memperhatikan sisi jalan, saat menuju ke perusahaan selanjutnya.
Matanya membulat dan duduknya tegap, ketika melihat wanita yang ia cintai bergandengan dengan mesra keluar dari restoran.
"Pak, berhenti sebentar." ucap Doni dengan cepat. Mobil pun berhenti mendadak.
"Sekarang ikuti mobil itu pak. Warna silver yang baru saja keluar." titah Doni lagi.
Mobil pun bergerak mengikuti mobil yang ada didepannya, sesuai perintah Doni.
Mobil yang di ikuti Doni terus bergerak, dan akhirnya berhenti tepat di depan rumahnya.
"Stop, stop. Pak, berhenti di sini saja." ucap Doni lagi, yang suka memberi instruksi seenaknya sendiri.
'Jadi Siska berani bermain apa di belakang ku? Awas kamu ya.' batin Doni merasa geram.
Setelah mobil yang mengantarkan Siska berlalu, taksi yang ditumpangi Doni maju, dan berhenti di depan rumahnya.
__ADS_1
Dengan langkah yang panjang, Doni memasuki pelataran rumahnya sambil memanggil nama Siska.
"Siska, Siska." teriaknya berulang kali.
"Ada apa sih mas? Teriak-teriak segala. Berisik tahu." sungut Siska kesal.
Ia yang baru saja masuk kamar, kini kembali keluar kamar dan melihat suaminya sudah berdiri di ambang pintu dengan muka merah padam.
Bu Mirna yang baru saja pulang dari rumah tetangga, mendengar suara teriakan anaknya bergegas mendekat. Ingin tahu apa yang terjadi.
"Kamu memang dasar perempuan tidak benar." umpat Doni sambil menunjuk wajah Siska.
"Lhololoh, kamu ngatain aku perempuan tidak benar. Memangnya kamu sendiri laki-laki yang sudah benar?" Siska melipat kedua tangannya sambil menatap suaminya.
"Kamu berani bermain dengan laki-laki lain di belakang ku. Padahal aku sangat mencintaimu."
"Oh ya, kamu bilang cinta?" Siska terkekeh.
"Aku meninggalkan Mala demi kamu. Tapi balasannya malah seperti itu."
"Hei mas. Kalau kamu beneran cinta sama aku, harusnya kamu itu menafkahi ku lahir dan batin. Bukan malah membiarkan ku cari uang sendiri, mencuci baju, masak. Memangnya aku ini pembantu apa?
Kita itu sama. Tidak usah munafik. Karena kalau tidak ada aku, maka kamu dan ibumu akan digunjingkan tetangga. Karena memiliki istri cacat." Siska mencondongkan tubuhnya saat berbicara dengan Doni, dan memberi penekanan dalam setiap kalimatnya.
"Kamu..." Doni menunjuk wajah Siska dengan kemarahan yang meluap-luap. Tapi tak mampu untuk diungkapkan.
"Jadi apa yang ibu lihat sewaktu di toko emas itu benar, ternyata kamu memang perempuan ngga bener?" seloroh Bu Mirna mendekati Siska.
"Kamu juga mertua ngga benar." balas Siska enteng.
"Berani sekali kamu dengan orang tua. Menyesal aku, sudah menikahkan mu dengan anakku."
Bu Mirna tak terima, dan menarik rambut Siska. Istri Doni pun tak terima dan balas menarik rambut ibu mertuanya.
__ADS_1
Terjadilah aksi saling menarik rambut yang membuat Doni semakin meledak amarahnya dan pusing tujuh keliling.
"Stop!" teriak Doni, yang membuat ibu dan istrinya seketika menghentikan aksinya.