
Sudah satu Minggu Mala bersikap aneh pada suaminya. Bahkan ia juga minta tidur di ranjang yang terpisah. Karena tak tahan dengan bau badan suaminya.
Selama itu pula, Mahes berusaha tetap sabar. Walaupun selama itu pula, ia tidak mendapat jatah asupan gizi setiap malam.
Seburuk apapun kelakuan istrinya akhir-akhir ini, Mahes tetap tidak bisa marah.
Dan, pada pagi hari itu. Seperti biasanya, Mahes menikmati sarapan paginya seorang diri. Ia menyuap makanan nya dengan tidak berselera.
Bibi yang melihat hal itu pun akhirnya mendekatinya. Karena tak ingin majikannya memiliki masalah berat.
"Kenapa melamun sih, mas? Apa mas Mahes bertengkar dengan non Mala." dengan sangat hati-hati bibi bertanya. Mahes pun menggelengkan kepalanya lemah.
"Tidak, bi."
"Lalu, kenapa beberapa hari ini non Mala tidak ikut menemani mas Mahes makan?"
"Itulah, bi. Dia tidak suka dekat-dekat denganku. Katanya aku ini baunya tidak sedap. Bahkan aku baru sampai kamar saja, dia langsung berlari ke kamar mandi. Dia muntah-muntah. Padahal nih, bi. Mahes tuh pakai parfum yang biasanya aku pakai juga. Apa Mala sudah tidak cinta lagi dengan ku ya, bi." tutur Mahes dengan lemas dan tidak bersemangat.
"Muntah-muntah? Bersikap yang aneh-aneh? Apa jangan-jangan non Mala lagi ngidam?" terka bibi.
"Ngidam? Hamil maksudnya, bi?" Mahes yang tadi terlihat lemas, justru kini tampak segar bugar dan bersemangat.
"Iya, mas." bibi menganggukkan kepalanya, yakin.
Mahes tersenyum tipis, dan jantungnya berdebar-debar. Ia segera meninggalkan sarapan yang sejak tadi di aduk-aduk. Lalu berlari menuju kamarnya.
"Astaghfirullah, mas." pekik Mala karena sangat terkejut dengan kehadiran suaminya.
Bahkan handuk yang belum dililitkan secara sempurna ditubuhnya, langsung terjatuh. Wanita itu sampai mengusap dadanya, untuk menghilangkan debaran jantungnya yang mendadak naik dengan cepat tadi.
Mahes seketika menelan saliva dengan susah payah, karena melihat hal itu.
__ADS_1
Sedangkan Mala yang baru menyadari jika handuknya terlepas, segera mengambil handuk itu, dan melilitkan ke tubuhnya dengan kencang. Agar suaminya tak mendekatinya. Karena tak tahan dengan bau tubuhnya.
"Kenapa kamu balik lagi ke kamar? Apa ada sesuatu yang kelupaan?" Mala mengernyitkan dahinya. Setelah ia berhasil merapikan handuknya.
Setelah terdiam sekian menit, dengan pikiran yang berkelana tak karuan, akhirnya Mahes menggelengkan kepalanya kuat. Ia berusaha mengingat maksud dan tujuannya kembali ke kamar.
"A-ayo kita periksa ke dokter." ajak Mahes sedikit gugup.
Ia sampai meraba tengkuknya, dan mengusapnya pelan. Karena pikirannya masih terbayang tubuh poloos istrinya.
"Kenapa kamu mengajak ku ke dokter? Apa kamu pikir hidung ku bermasalah? Padahal nyata-nyata bau badan mu saja yang tidak enak." cerocos Mala.
Wanita itu terlihat mulai naik pitam. Karena suaminya sepertinya menuduh yang tidak-tidak.
"Bu-bukan begitu maksud ku, sayang."
Mahes juga heran, dengan sikap Mala yang mudah sekali emosi. Padahal biasanya istrinya itu bersikap lemah lembut.
"Aku curiga kami hamil." ucap Mahes sedikit keras, hingga Mala yang tangannya sudah terangkat, dan hendak memukulnya mengurungkan niatnya.
"Iya, aku melihat perubahan sikapmu yang jauh berbeda dengan yang dulu."
"Belikan aku test pack dulu saja, mas. Di apotik. Aku malu kalau langsung periksa di rumah sakit, ternyata aku tidak hamil." lirih Mala.
"Baiklah. Sekarang kamu istirahat saja dulu. Aku keluar sebentar."
Mahes mendudukkan istrinya yang tampak sedikit syok, di tepi ranjang tempat tidur.
Mahes segera berjalan cepat menyusuri anak tangga, agar bisa sampai di carport lebih cepat. Untuk mengemudikan mobilnya.
Kali ini, Mahes melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Bahkan saat melewati pos security, ia langsung menekan klaksonnya berkali-kali dan kuat.
__ADS_1
Sehingga membuat security yang berjaga dengan santainya sampai tersentak kaget. Bahkan handphone yang ia bawa sampai terlepas dari genggamannya.
Ia tak menghiraukan handphonenya, dan justru berlari untuk membukakan pintu gerbang, untuk majikannya.
Mobil Mahes melaju kencang. Security itu lagi-lagi geleng-geleng kepala, dan mengusap dadanya.
"Kenapa ya. Kok bawa mobilnya sampai seperti itu? Apa jangan-jangan, mas Mahes dan non Mala bertengkar? Terus kabur-kaburan seperti itu. Tapi biasanya mereka kan selalu bersikap romantis." gumam security sambil garuk-garuk kepala, dan mengernyitkan dahi.
Setelah berdiam sekian detik, tapi tak kunjung dapat jawaban, akhirnya security itu kembali menutup pintu gerbangnya.
Sedangkan Mahes, kini sudah tiba disebuah apotik yang ada di daerahnya. Karena sepanjang perjalanan, ia melajukan dengan kecepatan tinggi.
"Silahkan. Ada yang bisa kami bantu?" tawar pelayanan apotik dengan ramah. Mahes menggaruk kepalanya, sambil mengingat-ingat permintaan istrinya tadi.
"Test kehamilan." Mahes menjentikkan jarinya, ketika berhasil mengingat permintaan istrinya.
"Ya, saya butuh alat tes kehamilan." ulang Mahes lagi.
"Berapa, kak?" Sesaat Mahes dibuat terbengong dengan pertanyaan pelayan toko. Karena tadi Mala juga tidak bilang ingin dibelikan berapa.
"Dua saja, mbak."
"Baik. Tunggu sebentar ya." pelayan segera mengambil test pack, lalu menyerahkan pada Mahes.
Sesaat laki-laki itu mengamati benda kecil tersebut.
"Berapa harganya, mbak?"
"Dua, dua puluh ribu."
Mahes terkejut dengan harganya yang murah.
__ADS_1
"Saya beli satu box saja sekalian, mbak."
Kini giliran pelayan yang terkejut. Karena ada pembeli yang membeli sebanyak itu.