Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
153. Ijin dari dokter


__ADS_3

Sambil menunggu Siska selesai sholat, Bu Mirna dan Doni bercakap-cakap. Apalagi yang mereka bicarakan, kalau bukan Siska.


Bu Mirna memberi banyak nasehat pada pria itu, agar tidak menyinggung masa lalu Siska, dan bisa menjadi imam yang baik baginya, jika kelak berumah tangga.


Doni menganggukkan kepalanya, berjanji akan menjadi imam yang baik bagi gadis itu. Baginya tidak penting masa lalunya seperti apa. Yang jelas, masa kini nya yang bagus. Dan berharap kedepannya juga tetap selalu bagus.


Doni tertegun ketika melihat Siska yang baru keluar dari kamar. Ia memakai dress panjang berwarna mint motif bunga dan jilbab berwarna senada tapi polos. Sebuah tas hitam ia selempangkan di bahu kirinya.


"Kamu sudah datang dari tadi, mas?" tanya Siska sambil duduk di samping Bu Mirna.


"Tidak, baru saja. Apa kamu sudah siap."


"Heem, aku sudah siap." Siska menganggukkan kepalanya.


Setelah melaksanakan sholat tahajjud tadi malam, dan sholat Dhuha, ia merasa jauh lebih tenang. Apapun yang akan dikatakan oleh dokter, ia siap menghadapi.


"Ya sudah, ayo kita berangkat. Bu, kami berangkat dulu ya." ajak Doni, pandangannya beralih dari Siska ke Bu Mirna.


Siska menganggukkan kepalanya, lalu mencium punggung tangan Bu Mirna dengan takzim. Ia pun beranjak berdiri, dan berjalan beriringan dengan Doni.


"Ibu istirahat ya. Tidak usah kemana-mana. Nanti makan siangnya, biar Siska belikan. Ibu mau apa?"


"Apa saja ibu mau. Tapi kamu tidak usah buru-buru. Pokoknya fokus sama medical check up hari ini."


Mereka bertiga saling beradu pandang dan mengulas senyum, sebelum akhirnya masuk mobil.


**


Siska terus mengucapkan istighfar, agar hatinya semakin tenang. Setelah antri sekitar satu jam, akhirnya kini tiba gilirannya yang dipanggil.

__ADS_1


Jantungnya berdegup kencang. Ia pun menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan pelan-pelan. Ia juga menyunggingkan senyum, dan yakin semua akan baik-baik saja.


"Ayo, Sis. Aku temani kamu masuk." Doni melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu, layaknya suami yang memberi dukungan pada istrinya. Sehingga Siska melepaskannya.


"Kita kan belum menikah, mas?"


"Sorry." ucap Doni sambil meringis.


Keduanya masuk di dalam ruangan yang bernuansa serba putih itu. Dokter tersenyum dan menyapa keduanya dengan ramah. Lalu mempersilahkannya duduk.


Wanita berjas putih itu mempersilahkan Siska untuk menyampaikan keluhannya.


Sejenak gadis itupun menoleh ke arah Doni, seolah-olah minta doa dan persetujuannya. Pria itupun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Siska juga menarik senyuman tipis, sambil menghirup nafas lagi, lalu menceritakan semuanya. Dokter manggut-manggut mendengarkan pasiennya.


Setelah mengatakan itu semua, Siska menghirup nafas lega. Dokter pun memintanya untuk berbaring di atas brankar, guna melakukan medical check up.


Setelah melakukan pengecekan, mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Lalu dokter pun mulai menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Doni dan Siska seputar penyakit Gonore.


"Penyakit Gonore terjadi karena infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae yang menular melalui aktifitas hubungan intim yang tidak sehat.


Anda dulu pernah memeriksakan diri kesini, dan saya telah menyatakan anda sembuh. Dan setelah beberapa bulan, anda kembali kesini lagi.


Setelah saya melakukan serangkaian pemeriksaan ulang, alhamdulillah, saya nyatakan kesehatan anda baik-baik saja. Bahkan di bagian organ intim anda juga tampak bersih.


Itu tandanya, anda benar-benar menjalankan semua nasehat saya dengan baik.


Dan apabila anda sekalian ingin menikah, maka boleh-boleh saja. Sah-sah saja. In shaa Allah dengan tetap menjaga kesehatan organ intim dan tetap setia pada pasangan, penyakit itu tidak akan datang lagi.

__ADS_1


Nah, untuk berkonsultasi seputar kehamilan, anda sekalian bisa mengkonsultasikannya pada dokter kandungan."


"Alhamdulillah." ucap Doni dan Siska bersamaan, lalu keduanya saling beradu pandang dan mengulas senyum.


Setelah selesai berkonsultasi, Siska menebus resep obat. Sebenarnya dokter tidak menyuruhnya meminum obat, tapi gadis itu bersikukuh, demi kebaikan dirinya dan Doni.


**


"Siska, semua sudah jelas kan? Jadi tak ada alasan untuk kamu menolak ku kan?" tanya Doni, ketika keduanya sedang dalam perjalanan pulang.


"Benar apa yang kamu katakan, mas. Aku tak bisa menolak pria sebaik kamu. Terima kasih ya, mas. Sudah mau menerima masa laluku yang sangat buruk." Siska memberi senyum terbaiknya, pada Doni.


"Sama-sama. Bagaimana kalau nanti malam aku melamar mu?"


"Secepat itu?"


"Umur kita sudah tidak muda lagi, aku tidak ingin bermain-main. Aku juga perlu memikirkan tentang acara resepsi pernikahan kita. Karena aku yatim-piatu, pasti repot."


"Em, mas. Kalau bisa kita menikahnya di KUA saja, tidak perlu mewah yang penting sah."


Doni terkekeh kecil menanggapi permintaan Siska.


"Kita ini menikah seumur hidup sekali. Perlu lah untuk mengumpulkan tetangga kanan kiri untuk menjadi saksi kebahagiaan kita."


"Iya, mas. Itu juga penting. Tapi yang aku takutkan, diantara tamu yang kamu undang, takutnya ada mantan pelangganku. Yang bisa menghancurkan pesta pernikahan kita.


Lebih baik di KUA saja, lalu kita memberikan makanan untuk tetangga kanan kiri dan anak-anak jalanan. Uang yang kita miliki juga bisa untuk mengembangkan usaha kedaimu."


Doni menatap sejenak ke arah Siska, lalu menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Baiklah, jika itu bisa membuatmu bahagia dan nyaman. Akan aku turuti."


__ADS_2