Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
62. Menjual perhiasan


__ADS_3

"Perhiasan Siska banyak sekali." gumam Bu Mirna.


Tangannya hendak meraih cincin yang terlihat berkilau, tapi tangan Doni bergerak lebih cepat. Dan berhasil meraup seluruh perhiasan istrinya.


"Ini punya istri ku." ucap Doni.


"Ibu ingin melihat Don. Kalau boleh ibu juga mau cincin dan gelang nya."


"Tidak bisa!" tegas Doni.


"Perhiasan ibu sudah habis untuk membiayai pernikahan mu. Dan itu seharusnya menjadi gantinya." Bu Mirna bergerak maju hendak merebut.


"Bu, Doni punya usul. Sebaiknya seluruh perhiasan ini kita jual saja. Uangnya untuk kebutuhan sehari-hari dan juga untuk membeli mobil bekas."


"Ibu sudah lama tidak pakai perhiasan Don. Rasanya sudah gatel gitu pengen buru-buru pakai. Satu saja Don. Gelangnya yang tebal, kalungnya yang panjang, atau cincin yang berkilau itu ibu juga mau."


Keduanya terus menerus mempertahankan keyakinan masing-masing. Bu Mirna ingin tampil kaya bak sosialita.


Sedangkan Doni tak ingin terburu-buru mencari kerja. Dan tujuannya mencari wanita kaya agar tidak perlu capek-capek bekerja.


Perebutan itu akhirnya dimenangkan oleh Doni. Mau tak mau Bu Mirna mengikuti kemauan anaknya untuk menjual perhiasan itu.


Keduanya bersiap-siap berangkat ke toko emas untuk menjual perhiasan itu. Setelah selesai, mereka duduk di teras rumah menunggu taksi pesanan.


"Jangan lupa kunci pintunya Don. Takutnya ada maling."


"Halah, apa juga yang mau di curi bu." ucap Doni meremehkan.


Taksi berhenti di depan rumah mereka. Keduanya segera memasuki mobil berwarna biru tersebut. Sepanjang perjalanan, mereka terus bercakap-cakap dengan khayalannya masing-masing.


**

__ADS_1


Sementara itu, di lain tempat. Setelah Siska melayani pelanggannya, ia berniat pergi ke rumah suaminya untuk mengambil baju-baju dan perhiasannya yang tertinggal.


Dengan diantar oleh pelanggannya, Siska menuju ke rumah itu. Ketika mobilnya memasuki pelataran rumah, keadaannya tampak lengang. Semua pintu dan jendela tertutup rapat. Meskipun begitu, ia tetap turun dari mobil bersama pelanggannya.


"Di kunci." gumam Siska. Ketika berulang kali menggerakkan handle pintu, tapi tak kunjung terbuka.


"Tenang, kamu tak perlu khawatir." ucap laki-laki yang mengantarkan Siska.


"Kamu diam." ucap laki-laki tadi, lalu tangannya bergerak melepas kawat kecil dan panjang dari bra Siska. Lalu dengan menggunakan kawat kecil tersebut, laki-laki itu berhasil membuka pintu.


"Oh, kamu memang benar-benar jenius om." Siska mengecup laki-laki di dekatnya. Padahal ia sempat berpikir negatif pada laki-laki tadi.


Keduanya segera masuk dan berjalan menuju kamar Doni. Ketika membuka almari, Siska terkejut melihat seluruh pakaiannya sudah tidak ada. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah, seluruh perhiasannya telah raib.


"Huh, ini semua pasti kerjaan mereka." Siska menghentakkan kaki dengan kesal dan wajahnya merah padam.


"Kalau mereka mencuri barang milikmu. Maka kamu juga harus mencuri barang milik mereka. Biar impas."


Ia masuk ke kamar ibu mertuanya dan menggeledah isi lemari. Setelah berusaha hampir setengah jam, akhirnya Siska berhasil memperoleh sesuatu yang membuatnya tersenyum puas.


"Om, ayo kita keluar. Aku sudah mendapatkan ini." Siska menunjukkan map hijau dengan senyum sumringah.


Laki-laki itu mengangguk, lalu keduanya segera merapikan semuanya dan bergegas meninggalkan kediaman Doni.


Siska tertawa terbahak-bahak. Suami dan mertuanya berani mencuri perhiasannya. Maka ia membalas dengan mencuri sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni sertifikat rumah.


"Om, kamu mau memberi mahar berapa sertifikat rumah ini?" tawar Siska sambil memperlihatkan map hijau itu.


"Kalau satu milyar om."


"Itu perkara yang mudah."

__ADS_1


Keduanya lantas kembali tertawa.


**


Doni dan ibunya kini telah sampai di toko emas. Mereka segera turun dari taksi dan berlalu masuk ke toko itu.


Doni mengeluarkan seluruh perhiasan, dan memperlihatkan pada karyawan toko.


"Mbak, semua perhiasan ini kalau di jual laku berapa ya?" tanya Doni.


"Tunggu sebentar ya mas. Kita cek dan hitung dulu." Karyawan itu segera mengecek perhiasan tadi.


"Semuanya lima puluh juta mas."


"Wow." bu Mirna dan Doni membulatkan matanya bersamaan. Wajahnya terlihat berbinar.


"Iya mbak, ngga apa-apa laku segitu."


Setelah mendapatkan segepok uang, keduanya melenggang pergi dari toko perhiasan dan pergi menuju ke showroom mobil bekas di daerah dekat situ.


"Don, ibu mau yang ini." Bu Mirna menunjuk mobil itu dengan antusias, ketika keduanya sudah sampai showroom.


"Berapa harganya pak?" tanya Doni pada salesman.


"Kalau yang itu tujuh puluh lima juta pak." jelas salesman.


"Ah, mahal amat." Bu Mirna memukul mobil itu.


"Hati-hati ya Bu. Kalau terjadi kerusakan, saya bisa mendenda kamu." tegas salesman dengan raut wajah merah padam.


"Kita cari yang lain saja bu. Takutnya uangnya tidak cukup." bisik Doni.

__ADS_1


__ADS_2